Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Telah terjadi sesuatu



"Apa? Tunggu sebentar..." ucap Agam yang terkejut akan kehadiran beberapa petugas polisi di kediamannya.


Disaat Agam di sergap, beberapa dari mereka terlihat mulai masuk ke dalam kediamannya untuk memeriksa barang bukti yang bisa mereka jadikan untuk memperkuat tuduhan. Melihat beberapa petugas polisi nampak masuk dan menggeledah rumahnya, tentu saja membuat Agam semakin ketakutan karena beberapa hal yang belum sempat ia sembunyikan dari sana.


"Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan? Bukankah yang kalian lakukan ini tidak sopan?" ucap Agam dengan nada meninggi membuat beberapa polisi yang sedang menggeledah area kediamannya, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


Di saat beberapa orang tengah menggeledah area kediamannya, sedangkan Agam berusaha untuk masuk dan menyembunyikan semua perbuatannya di sana. Sebuah suara yang berasal dari salah seorang petugas kepolisian yang sedari tadi tengah menggeledah area kediaman Agam, lantas langsung membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara begitu mendengar teriakan salah seorang anggota kepolisian saat itu.


"Ada mayat Dan!" pekik salah satu petugas kepolisian.


Mendengar hal tersebut bukan hanya petugas kepolisian tersebut yang terkejut melainkan juga Agam. Agam benar-benar tidak mengerti jika di dalam kediamannya terdapat seorang mayat, jika memang Agam mengerti akan adanya mayat di dalam rumahnya tentu Agam akan langsung memusnahkannya dan tidak membiarkannya berada di rumah seperti ini. Bukankah jika begini sama saja dengan bunuh diri? Lagi pula Agam tidaklah sebodoh itu.


Agama yang penasaran akan sosok mayat tersebut tentu saja lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana mayat itu berada, diikuti dengan petugas kepolisian tersebut yang juga melihat langkah kaki Agam yang semakin mendekat ke arahnya. Betapa terkejutnya Agam ketika ia berada tidak jauh dari tempat mayat itu ditemukan, Agam melihat sosok Pandu sudah terbujur kaku dengan beberapa busa yang terlihat di mulutnya sedangkan tubuhnya dalam kondisi yang membiru. Melihat hal tersebut membuat Agam langsung terdiam di tempatnya dengan seketika.


"Pandu! Bagaimana mungkin? Tidak..." ucap Agam hendak melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana Pandu berada.


Namun petugas polisi yang melihat langkah kaki Agam hendak mendekat ke arah mayat tersebut, lantas langsung memerintahkan yang lainnya untuk segera menyeret Agam untuk menuju ke kantor polisi dan menjelaskan segalanya.


"Tangkap dia dan bawa ke Kantor polisi sekarang juga!" ucap salah seorang petugas kepolisian yang lantas langsung membuat rekannya mulai menarik tangan Agam agar bergerak menuju ke arah mobil patroli.


"Tunggu sebentar, dia Putraku aku harus melihat keadaannya. Apa yang kalian lakukan hah?" pekik Agam sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan beberapa petugas polisi tersebut.


Namun petugas polisi itu yang mendengar teriakan dari Agam beberapa kali nyatanya tidak menggubrisnya dan langsung menyeretnya menuju ke arah mobil patroli tanpa memberikannya terlebih dahulu waktu bertemu dengan Pandu untuk yang terakhir kalinya.


"Apa yang terjadi sebenarnya dengan Pandu? Mengapa Pandu tiba-tiba berakhir tragis seperti itu?" ucap Agam di dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Pandu yang saat ini masih tergeletak kaku di sana.


Entah apa yang terjadi kepada Putranya saat ini, namun yang jelas Agam yakin jika ada sesuatu yang terjadi kepadanya. Seseorang yang mempunyai pengaruh besar dan bisa mengatur segalanya.


"Awas saja kau Arthur, aku jelas tahu jika ini semua adalah ulah darimu. Putraku telah tiada namun aku tidak akan pernah mati karena aku yang akan meneruskan balas dendamnya terhadap mu!" ucap Agam dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti ke mana kepergian para petugas kepolisian tersebut membawanya.


**


Kediaman keluarga besar Gavanza


Arthur yang merasa jika sedari tadi Aruna hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata apapun juga, lantas menggenggam tangannya dengan erat membuat Aruna yang merasakan genggaman tangan tersebut dengan spontan menoleh ke arah Arthur saat itu.


"Tak perlu khawatir, kita ke sini hanya untuk mendapat restu dari Papa dan aku jamin Papa sudah memberikan restunya untukmu." ucap Arthur berusaha untuk menenangkan Aruna saat ini.


"Apa anda yakin Tuan? Aku dan anda adalah dua hal yang berbeda, kita berdua bagaikan bumi dan langit. Bagaimana bisa keluarga anda menerima saya dengan begitu mudahnya?" ucap Aruna dengan raut wajah yang sendu.


"Sudah ku bilang kamu tidak perlu khawatir, untuk masalah Papa... Papa sudah merestui mu jauh hari sebelumnya dan aku bisa pastikan hal itu. Sedangkan untuk yang lainnya kamu tidak perlu mengindahkannya karena mereka juga tidak terlalu penting untukku." ucap Arthur dengan raut wajah yang sumringah sambil tersenyum simpul menatap ke arah Aruna saat itu.


Mendengar kata-kata penenang dari Arthur barusan, lantas langsung membuat Aruna menarik napasnya dalam-dalam. Entah mengapa Aruna benar-benar gugup saat ini, Aruna takut apa yang terjadi saat itu kembali terulang dan ia kembali tidak mendapatkan restu baik dari Bagas maupun Maria ibu tiri Arthur.


"Jadi sekarang kita masuk? "ucap Arthur kemudian yang lantas dibalas Aruna dengan anggukan kepala.


"Tentu Tuan.." ucap Aruna kemudian yang lantas membuat Arthur mengernyit dengan seketika.


"Sudah ku bilang jangan memanggil ku Tuan, mengapa kamu selalu saja lupa?" ucap Arthur dengan nada yang terdengar cemberut.


"Maaf Tuan eh maksudku sa....yang." ucap Aruna dengan nada yang terdengar ragu.


"Gadis Pintar." ucap Arthur sambil mengusap puncak kepala Aruna dengan perlahan.


Setelah obrolan singkat yang terjadi antara Arthur dan juga Aruna, keduanya kemudian lantas memutuskan untuk keluar dari dalam mobil dan mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kediaman keluarga besar Gavanza. Dengan langkah kaki yang perlahan Aruna dan juga Arthur mulai membawa langkah kaki mereka masuk ke dalamnya.


Hanya saja ketika keduanya baru sampai di area ruang tamu, sebuah pemandangan yang lagi dan lagi terjadi di kediaman Gavanza lantas langsung menghentikan langkah kaki keduanya dengan seketika.


"Aku benar-benar minta maaf Pa, tapi apa yang dikatakan oleh Fadli segalanya adalah kebenarannya. Aku tengah hamil saat ini...." ucap Felia kemudian dengan raut wajah yang menunduk ia benar-benar tidak berani menatap ke arah manik mata milik Bagas saat ini.


Bruk....


"Apa yang kau lakukan ha?"


Bersambung