
Di ruangannya Silvi yang baru mendengar jika pagi ini Arthur sudah kembali masuk untuk bekerja. Silvi yang memiliki beberapa laporan untuk diberikan kepada Arthur, lantas terlihat bangkit dari kursinya dan mulai melangkahkan kakinya hendak menuju ke arah ruangan Arthur sambil membawa beberapa berkas ditangannya untuk diberikan kepada Arthur.
Dengan langkah kaki yang perlahan Silvi mulai melangkahkan kakinya menyusuri area koridor kantor menuju ke arah dimana ruangan Arthur berada. Ketika Silvi sampai di depan ruangan CEO, Silvi mulai mengetuk pintu ruangan tersebut selama beberapa kali namun sayangnya tidak ada suara apapun yang menyahutinya dan memintanya masuk ke dalam.
"Dok dok dok"
...
...
...
...
Silvi yang tak kunjung mendengar suara seseorang di ruangan CEO yang memerintahkannya untuk masuk, lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung dan juga menerka-nerka mengapa Arthur tak kunjung memintanya untuk masuk ke dalam. Silvi yang cukup lama berdiam diri tepat di depan pintu ruangan Arthur, lantas dengan hati-hati mulai membuka pintu ruangan tersebut dan masuk ke dalamnya. Apapun yang terjadi Silvi akan tetap membawa langkah kakinya untuk masuk ke dalam ruangan Arthur saat ini.
Sambil mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut, Silvi mulai mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran seakan seperti tengah mencari seseorang.
"Tuan Arthur berkas ini diminta oleh direktur pemasaran untuk segera anda tanda tangani..." ucap Silvi namun terpotong begitu Silvi melihat sesuatu pemandangan yang mengejutkan baginya.
Silvi yang baru saja masuk ke ruangan Arthur, lantas dibuat terkejut ketika melihat sebuah pemandangan aneh dan juga mengejutkan baginya. Dimana Silvi melihat Aruna tengah asyik duduk bagai bos besar pada kursi milik Arthur. Sedangkan Arthur dan juga Faris malah berdiri dihadapan Aruna sambil tangan Arthur yang memegangi sebuah nampan kosong di tangannya
"Aruna apa yang sedang kau lakukan?" ucap sebuah suara tamu tak diundang yang mendadak terkejut ketika melihat Aruna duduk dengan santainya di kursi milik Arthur.
Mendengar sebuah suara yang tiba-tiba itu lantas membuat semua orang yang ada di sana menatap ke arah sumber suara. Mereka bertiga benar-benar tidak menduga bahwa Silvi mendadak ada di sana dan berteriak. Jiwa *Arthur yang berada di tubuh Aruna sama sekali tidak sadar jika yang sedang diteriaki Silvi adalah dirinya, membuat *Arthur masih dengan santainya duduk di kursi kebesarannya tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Oh astaga, mengapa harus ada nenek lampir ini sih?Ayolah setidaknya berikan aku kesempatan untuk beristirahat sebentar saja." ucap *Aruna dalam hati.
Disaat *Aruna, *Arthur dan juga Faris menatap ke arah Silvi dengan pemikiran mereka masing-masing. Silvi terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah ketiganya dengan langkah kaki yang bergegas mendekat ke arah dimana Arthur berada.
"Maafkan kelalaian saya Pak yang tidak bisa mengajari Aruna sopan santun." ucap Silvi sambil sedikit menunduk ke arah Arthur, membuat jiwa *Aruna yang sedang berada di dalamnya lantas langsung terkejut akan perkataan tersebut.
Setelah mengatakan hal tersebut Silvi kemudian menatap tajam ke arah Aruna yang masih duduk dengan santainya pada kursi kebesaran Arthur, sambil mengisyaratkan kepada Aruna untuk turun dan mendekat ke arahnya. Dasar *Arthur yang memang tidak suka disuruh-suruh sehingga *Arthur malah diam saja tanpa bergerak sama sekali di kursinya karena ia merasa bahwa ia adalah bosnya di sini.
"Maaf pak permisi" ucap Silvi kepada Arthur membuat jiwa *Aruna semakin tidak mengerti akan tingkah Silvi saat ini.
"Apa yang kau lakukan sebenarnya?" pekik Aruna dengan nada yang kesal.
"Hentikan sindrom pemimpin mu itu, apa kau sudah gila ha?" ucap Silvi dengan nada yang lirih sambil sedikit memukul punggung Aruna, membuat jiwa *Arthur lantas terkejut ketika mendapat perlakuan tersebut.
Tidak hanya *Arthur saja yang terkejut bahkan *Aruna dan juga Faris nampak terkejut akan tingkah Silvi barusan. *Aruna yang mulai sadar bahwa Silvi mengira yang di dalam raganya adalah dirinya, membuat *Aruna mulai mengerti akan tingkah Silvi saat ini.
"Dia pasti mengira aku sedang caper kepada tuan, hilih dasar sok senior!" ucap *Aruna dalam hati.
"Sudah-sudah biarkan saja Aruna, aku akan mengurusnya kau boleh pergi sekarang." ucap Faris kemudian yang tidak tega tuannya diperlakukan seperti itu.
"Tapi Ris, dia bahkan berperilaku sangat tidak sopan..." ucap Silvi tak mau kalah.
Faris yang melihat Silvi tidak akan pergi jika bukan Arthur sendiri yang mengusirnya, lantas langsung menginjak kaki Arthur di sebelahnya agar jiwa *Aruna mengatakan sesuatu saat ini. *Aruna yang kakinya diinjak tentu saja langsung melotot tajam namun detik berikutnya malah dibalas tatapan yang sama oleh Faris sambil menunjuk ke arah Silvi dengan ekor matanya.
"Silvi kau taruh saja dokumen yang kamu bawa di meja setelah itu kamu boleh pergi, biar aku saja yang akan memberinya pelajaran!" ucap Arthur dengan nada yang dibuat-buat, membuat *Arthur lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari *Aruna barusan.
Silvi yang mendengar perkataan dari Arthur pada akhirnya hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Jika sudah Arthur yang menyuruhnya untuk pergi Silvi pasti akan mulai mengangkatkan kakinya untuk beranjak dari sana sesuai perintah dari Arthur saat ini.
Setelah kepergian Silvi dari sana Arthur nampak tertawa dengan puasnya karena melihat Silvi langsung menurut dengannya padahal hanya dengan kata-kata seperti itu. Membuat Aruna yang melihat Arthur tak henti-hentinya tertawa lantas langsung berdecak dengan kesal menatap ke arahnya.
"Kau bisa diam tidak? Jangan memancing emosiku saat ini!" pekik Aruna yang lantas membuat Arthur terdiam seketika disaat mendengar teriakan tersebut.
***
Suasana di dalam mobil Arthur
Terlihat *Aruna begitu tegang ketika mobil yang di kendarai olehnya, lantas berhenti tepat di sebuah mansion dengan pekarangan yang begitu luas sejauh mata memandang. Tangan Arthur bahkan nampak memegang setir semakin erat ketika ia melirik sekilas ke arah pintu utama yang berada tidak jauh dari posisi mobilnya.
Malam ini seperti halnya malam-malam biasanya dimana keluarga besar Gavanza akan berkumpul untuk sekedar menikmati makan malam walau sesibuk apapun mereka. Dan sekarang adalah waktunya bagi Arthur untuk kembali ke rumah dan mengikuti acara makan malam tersebut, hanya saja situasi yang berbeda menuntut jiwa *Aruna yang berada di dalam tubuh Arthur mau tidak mau harus menggantikan Arthur yang asli untuk datang ke acara makan malam tersebut.
"Apakah aku bisa melakukan hal ini?" ucap *Aruna dalam hati.
Bersambung