
Aruna yang berhasil melarikan diri dari hadapan Pandu, lantas berusaha untuk mencari jalan keluar dari area sana. Aruna benar-benar harus berpikir dengan cepat saat ini karena jika ia terlambat sedikit saja sudah bisa dipastikan Pandu akan dapat mengejarnya saat ini.
Aruna yang tak tahu harus pergi kemana lantas terus saja berlari dan berlari melintasi setiap ruangan yang ada di area Villa tersebut. Sampai kemudian ketika Aruna menemukan sebuah pintu yang tak jauh dari tempatnya berada, membuatnya lantas langsung mempercepat langkah kakinya dan menuju ke arah sana. Hanya saja ketika Aruna sampai, pintu ruangan tersebut ternyata terkunci dengan rapat, membuat Aruna langsung merasa frustasi karenanya.
Aruna mengedarkan pandangannya ke area sekitar mencoba untuk mencari jalan keluar yang lain. Sampai kemudian pandangannya terhenti ketika ia mendapati sebuah jendela yang terbuka dengan lebar kala itu namun dengan posisi yang cukup tinggi, membuat Aruna langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Aku bisa..." ucapnya dengan raut wajah yang yakin sambil mempercepat langkah kakinya mengambil sebuah kursi makan untuk ia pijak.
Aruna benar-benar berusaha dengan keras untuk naik dan sampai di ambang jendela tersebut. Sampai kemudian ketika Aruna berhasil memanjat ke atas dan bersiap untuk turun, sebuah tangan mendadak memegang pergelangan kakinya dengan erat, membuat Aruna lantas terkejut ketika mendapati hal tersebut.
"Mau pergi kemana kamu Run? Tendangan mu ternyata lumayan juga ya?" ucap Pandu ketika mendapati Aruna hendak keluar dari jendela tersebut.
"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dari sini.." ucap Aruna sambil berusaha melepas pegangan tangan Pandu pada pergelangan kakinya.
"Tidak akan aku biarkan... Turun sekarang juga!" ucap Pandu sambil berusaha menarik kaki Aruna agar turun dari sana.
Aruna yang di tarik seperti itu tentu saja mencoba untuk berpegangan dengan erat. Sebisa mungkin Aruna berusaha agar tidak tertarik dan jatuh kembali ke arah Pandu. Dipukulnya kepala Pandu dengan spontanitas, membuat Pandu yang mendapat serangan secara mendadak, lantas dengan spontan melepas cengkraman tangannya dan membuat Aruna terhuyung jatuh ke area luar Villa tersebut.
Bugh....
Suara jatuh Aruna benar-benar terdengar keras saat itu, tubuh Aruna jatuh tepat di sekitar tanaman bunga membuat bagian lengannya lantas tergores duri dari batang bunga mawar. Aruna yang mendapati hal tersebut hanya memejamkan kelopak matanya sebentar seakan mencoba untuk menetralisir rasa sakit yang menderanya. Baru setelah itu Aruna bangkit ketika mendengar suara pintu yang terbuka dari arah pintu utama Villa.
"Sial!" ucap Aruna sambil berusaha mengambil langkah kaki yang perlahan.
Dengan langkah kaki yang tertatih Aruna mulai mengambil langkah yang perlahan memasuki area perkebunan tanpa menggunakan alas kaki sama sekali, membuat langkah kakinya terkadang terhenti ketika mendapati batu lancip mengenai kakinya.
Entah mengapa di saat genting seperti ini Aruna malah kepikiran tentang Arthur, sebuah perkataan Arthur yang terus terngiang di pikirannya membuat Aruna lantas bertanya-tanya, apakah Arthur akan menepati janjinya atau hanya sebuah kata pemanis saja?
"Selama ada aku bersama mu, kamu akan tetap aman Run itu janji ku..."
Aruna menarik napasnya dalam-dalam ketika perkataan dari Arthur kembali terngiang di kepalanya saat ini.
"Apa yang kau harapkan? Bukankah kau sendiri yang memutuskan untuk pergi? Jadi mengapa kau begitu menyesalinya? ucap Aruna dalam hati seakan menepis jauh-jauh perasaan menyesal dalam dirinya.
Aruna berjalan dan terus berjalan mengambil langkah kaki cepat menyusuri area perkebunan. Cuaca siang hari itu yang nampak mendung membuat area perkebunan sepi tanpa ada satu orang pun yang bisa Aruna minta tolong saat itu.
Sampai kemudian langkah kakinya lantas terhenti ketika tanpa sadar Aruna menginjak batu lancip cukup tajam dan menggores area telapak kakinya.
"Aw..." pekik Aruna yang merasakan sakit di area telapak kakinya.
"Aruna.... Runnn.. Ayo kita akhiri saja petak umpet ini, bukankah jamu ingin membina rumah tangga yang baik?" ucap Pandu dengan nada setengah berteriak.
Mendengar teriakan dari Pandu barusan lantas mulai membuat Aruna menggerutu dengan kesal. Dengan langkah kaki yang tertatih menahan rasa sakit di area telapak kakinya, Aruna kemudian memutuskan untuk terus bergerak dan mencari tempat aman untuk bersembunyi dari kejaran Pandu.
**
Sementara itu Pandu yang kehilangan jejak Aruna lantas berusaha untuk mencari keberadaan Aruna. Ditatapnya area sekitaran seakan mencoba mencari tahu jejak langkah kaki Aruna.
"Sial jika sampai turun hujan aku pasti akan sangat kesulitan mencari jejak Aruna." ucap Pandu sambil terus mengedarkan pandangannya ke area sekitar.
Disaat Pandu sibuk mencari keberadaan Aruna pandangannya lantas terhenti pada salah satu bebatuan yang terkena noda darah di sana, membuat Pandu yang mendapati hal tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah itu untuk melihat noda darah tersebut.
"Sepertinya ini baru, kena kau Aruna!" ucap Pandu ketika menyadari jika noda darah tersebut meninggalkan jejak di daerah bebatuan.
Pandu yang tahu dengan jelas jika noda darah tersebut adalah milik Aruna, kemudian lantas bangkit dan mulai mengikuti noda darah yang tertempel di bebatuan saat itu.
***
Sementara itu tepat siang harinya mobil yang di kendarai oleh Faris terlihat memasuki daerah puncak. Faris terus melajukan mobilnya ke arah sebuah Villa sesuai dengan yang terletak di gps tersebut.
Ketika sampai tepat di pelataran Villa, Arthur yang melihat mobil milik Pandu terparkir di sana, lantas langsung turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju ke area depan Villa bersiap untuk masuk ke dalam dan mencari tahu keadaan Aruna.
"Pintunya terbuka?" ucap Arthur dengan raut wajah yang mengernyit.
Mendapati hal tersebut Arthur yang penasaran lantas mulai masuk ke dalam dan menyusuri setiap sudut yang ada di Villa tersebut untuk mencari keberadaan Aruna. Namun sayangnya Arthur tak mendapati apapun di sana kecuali hanya sebuah kekosongan belakang.
Arthur yang tak mendapati kehadiran Aruna maupun Pandu di dalam, lantas langsung melangkahkan kakinya keluar dari area dalam Villa dengan raut wajah yang kesal.
"Mereka tidak ada di dalam." ucap Erzhan ketika melihat Faris melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya dari arah samping.
"Saya rasa telah terjadi sedikit pertengkaran di antara keduanya karena di bagian bawah tepatnya di jendela samping terlihat tanaman yang rusak akibat tertimpa sesuatu dan ada juga noda darah di batang bunga mawar Tuan, aku rasa sepertinya mereka..." ucap Faris menjelaskan kondisinya namun langsung di potong oleh Arthur yang tiba-tiba berlarian ke arah samping rumah.
"Dasar sialan!"
Bersambung