Mrs.CEO & Mr.Secretary

Mrs.CEO & Mr.Secretary
Rumah cinta kita



Setelah kepergian petugas Room servis dari hadapannya, Arthur kemudian langsung mendial nomor Faris di ponselnya dengan raut wajah yang khawatir dan juga cemas.


"Halo, bagaimana Tuan apakah anda sudah menemukan keberadaan Aruna?" ucap Faris di seberang sana.


"Retas semua rekaman kamera pengawas di area jalanan, aku yakin ini adalah perbuatan Pandu!" ucap Arthur kemudian memberikan perintah.


"Apakah anda yakin Tuan? Atau anda ingin aku meretas rekaman kamera pengawas di area Apartment terlebih dahulu?" ucap Faris kemudian memberikan saran.


"Tidak perlu, aku bahkan yakin sekali jika bajingan itu yang membawa Aruna saat ini, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya." ucap Arthur dengan tatapan yang menghunus tajam.


"Tentu Tuan, beri saya waktu 15 menit untuk meretas seluruh rekaman kamera pengawas jalanan sekitar." ucap Faris kemudian.


"Lakukan secepatnya!" ucap Arthur kemudian sebelum pada akhirnya mengakhiri panggilan telponnya.


Setelah sambungan telponnya terputus dengan langkah kaki yang bergegas Arthur keluar dari unit Apartemennya menuju ke area Basement untuk mulai mencari keberadaan Aruna.


***


Di sebuah Villa yang terletak di daerah puncak, terlihat mobil yang dikendarai oleh Pandu berhenti di pelataran. Pandu nampak melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil dan menuju ke arah kursi bagian penumpang di bagian belakang untuk bersiap menurunkan Aruna dari sana.


Dengan gerakan yang perlahan-lahan Pandu mulai menggendong tubuh Aruna ala karung beras dan membawanya masuk ke area dalam Villa.


**


Kamar


Dengan senyuman yang mengembang Pandu meletakkan tubuh Aruna di atas ranjang dan sedikit melakukan perenggangan. Ditatapnya Aruna yang hingga kini masih menutup kelopak matanya dengan rapat.


"Entah mengapa aku terus hanyut ke dalam cinta mu Run, melihat kau semakin menjauhi ku membuat dirimu terlihat begitu menggemaskan. Bau harum tubuh mu benar-benar telah membuat ku candu, bukankah kita sudah lama tidak melakukan hentakan itu? Lima tahun waktu yang lama bagiku untuk menahan kerinduan. Setelah ini akan aku pastikan kamu menjadi milik ku..." ucap Pandu dengan senyuman yang menyeringai menatap ke arah Aruna yang masih pingsan hingga saat ini.


Pandu kemudian terlihat melangkahkan kakinya ke kamar mandi dan mengambil wadah yang telah ia isi dengan air. Sambil tersenyum dengan tipis Pandu lantas mulai mencipratkan air tersebut kepada Aruna secara berulang kali seakan berusaha untuk membangunkan Aruna saat ini.


Aruna yang merasakan air yang terasa dingin menerpa kulitnya, lantas mulai terlihat mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali. Sampai pada akhirnya kelopak mata Aruna membuka dengan sempurna, menampilkan sosok Pandu yang saat ini tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang ingin.


Aruna yang begitu tersadar langsung melihat sosok Pandu di depan matanya tentu saja langsung bangkit dari tidurnya. Dipegangnya area tengkuknya yang terasa sedikit nyeri akibat pukulan dari Pandu sebelumnya.


"Apa yang kau lakukan kepadaku?" ucap Aruna sambil berusaha mengembalikan kesadarannya.


Mendengar pertanyaan tersebut dari Aruna lantas membuat Pandu tertawa dengan lebar, membuat seluruh ruangan terisi dengan tawanya saat itu.


"Kau benar-benar tidak waras!" ucap Aruna dengan nada meninggi.


Tepat setelah mengatakan hal tersebut Aruna kemudian langsung melompat dari area kasur dan bersiap untuk melarikan diri dari sana. Sayangnya tubuh Pandu yang tinggi besar membuatnya begitu mudah menangkap Aruna yang bertubuh kecil. Aruna memberontak berusaha untuk terbebas dari cengkraman Pandu saat itu, namun Pandu malah menariknya kembali ke kasur dan melemparnya di sana.


Tubuh Aruna terpelanting dan berakhir jatuh dengan posisi yang terlentang di atas kasur. Pandu yang dengan semula memang berniat untuk melakukan reka adegan di mana ia mengambil keper***nan Aruna tepat enam tahun yang lalu. Lantas dengan cekatan merobek dress yang di kenakan oleh Aruna tepat di area dadanya.


Dua buah sisi bagian atas gunung kembar milik Aruna, lantas terlihat seketika disaat Pandu berhasil merobek dress dengan bahan kain satin itu. Membuat Aruna langsung berusaha bangkit sambil membenarkan kondisi gaunnya.


"Mau lari kemana kamu? Tidak akan aku biarkan kamu pergi dari ku Aruna! Apa kau ingin memanggil polisi lagi untuk ini? Silahkan saja, lagi pula segala karir dan kehidupan ku sudah hancur Aruna! Jika untuk kembali mendekam ke penjara akan aku lakukan dengan senang hati..." ucap Pandu sambil tersenyum Iblis membuat Aruna langsung menelan salivanya dengan kasar begitu melihat senyuman tersebut di wajah Pandu.


"Pria ini benar-benar sudah gila! Come on Runa jangan mau kalah dan kembali terjebak dengan Pria macam dia!" ucap Aruna dalam hati seakan mendapat dorongan entah dari mana.


Pandu yang melihat Aruna terdiam, lantas langsung memegang kedua tangan Aruna di bagian kiri dan kanan kemudian berusaha untuk mulai mencumbu area leher milik Aruna saat itu.


Hanya saja sayangnya sebelum Pandu berhasil melakukan hal tersebut, sebuah tendangan dengan keras mendarat tepat di area pusaka milik Pandu dan membuatnya langsung jatuh ke lantai dengan posisi yang meringkuk menahan rasa ngilu yang menyerang pusaka miliknya.


"Tidak akan pernah ku biarkan kau merenggut kembali mahkota ku untuk yang kedua kalinya!" pekik Aruna sambil bangkit dari area kasur dan mulai mengambil langkah kaki seribu dari hadapan Pandu saat itu.


"Berhenti Aruna! Akhh..." teriak Pandu dengan suara yang keras begitu melihat Aruna yang berlarian berusaha keluar dari kamar.


***


Area Basement


Sementara itu Arthur yang tadinya hendak melajukan mobilnya untuk mencari keberadaan Aruna, lantas terhenti ketika melihat mobil milik Faris berhenti tepat di depan mobilnya saat itu. Membuat arthur yang melihat hal tersebut lantas langsung melangkahkan kakinya turun dari dalam mobilnya dan masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Faris saat itu.


"Apakah kamu sudah mendapatkan posisinya saat ini?" tanya Arthur kemudian begitu memasuki area mobil milik Faris dan memasang sabuk pengaman.


"Tentu Tuan, menurut rekaman kamera pengawas yang saya retas, mobil milik Pandu terlihat keluar melintasi jalan tol menuju salah satu Villa yang berada di puncak." ucap Faris dengan nada yang yakin sambil meng klik tab yang ada di dashboard mobilnya sehingga memunculkan sebuah gps di sana.


"Kalau begitu ayo kita segera pergi ke sana sekarang juga!" ucap Arthur kemudian sambil menatap ke arah tab tersebut dengan tatapan yang intens.


"Tentu tuan, akan saya usahakan agar kita bisa cepat sampai ke sana." ucap Faris kemudian sambil mulai melajukan mobilnya berlalu pergi dari sana menuju ke tempat dimana posisi titik Aruna dan juga Pandu berada.


Bersambung