
Seseorang dengan kaca mata hitam, jubah hitam, dan memakai topi lebar untuk menutupi seluruh rambut berdiri di depan Ira dan Queen. Tanpa bicara dan hanya dengan menjentikkan jari orang itu menyuruh membawa pergi dua sanderanya dari sana.
"Bawa mereka berdua pergi dari sini!" suruh seorang pria yang tadi diketahui sebagai Jack. Pria itu berdiri tepat di sebelah kanan orang dengan jubah, topi lebar, dan kacamata yang serba hitam.
"Lepaskan kami!" teriak Ira sambil meronta. "Sebenarnya siapa kalian? Kenapa kalian menculik kami?" tanya Ira.
Seseorang yang diduga sebagai bos dari penjahat itu membisikkan sesuatu kepada Jack.
"Bos bilang tinggalkan gadis yang satunya di sini, jadikan gadis itu penghambat agar Kakaknya tidak bisa mengejar kita!" suruh Jack.
"Apa maksud ucapan kalian? Kalian mau apakan Queen?" teriak Ira.
"Kak Ira tolong aku!" teriak Queen saat dua orang penjahat menahannya.
"Itu hukuman karena kalian sudah berani mengelabuhi kami," jawab Jack.
"Bos bilang kalian boleh bermain-bermain dengan gadis itu. Tapi, ingat kalian harus menyelesaiakan semuanya sebelum kakaknya datang!" tambah Jack.
"Jangan lakukan apa pun pada Queen! Dia tidak salah, aku yang salah! Lepaskan dia!" teriak Ira.
"Kakak!"
"Queen!"
Penjahat yang bernama Jack itu menyuruh anak buahnya yang lain untuk menutup mulut Ira menggunakan lakban, matanya juga kembali ditutup dengan kain hitam, ia kemudian dibawa paksa keluar dari ruangan itu bersama dengan orang berjubah hitam dan beberapa penjahat lainnya. Dengan sekuat tenaga Ira berusaha memberontak, dia tidak bisa meninggalkan Queen seorang diri sana. Sayangnya tenaganya terlalu lemah untuk bisa terbebas dari penjahat-penjahat itu. Ira hanya bisa menangis takut sesuatu yang buruk menimpa calon adik iparnya tersebut.
***
Di tempat lain....
"Ira, Queen, apa itu.... " Arvin yang menyadari tidak ada suara dari ujung sana segera tersadar jika kemungkinan adik dan tunangannya dalam bahaya. "Vano, kita harus segera ke lokasi ini. gue takut mereka dalam bahaya," ajaknya.
Vano yang berada di belakang kemudi segera mengendarai mobil itu dengan kecepatan penuh menuju ke titik lokasi. Sama halnya dengan Arvin, dia pun resah takut sesuatu yang buruk terjadi pada Queen.
Sedikit keberuntungan berpihak kepada Arvin dan Vano karena titik lokasi yang kemungkinan menjadi tempat Ira dan Queen tidak jauh dari keberadaan mereka sekarang. Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit kedua pemuda itu sudah sampai di lokasi. Tempat itu adalah sebuah gedung yang terbengkalai pembangunannya karena dana yang seharusnya dipergunakan untuk membangun gedung itu dikorupsi. Di sebelah gedung kosong itu ada ada proyek pembangunan mall yang sedang berlangsung.
Arvin dan Vano segera masuk ke dalam gedung kosong itu sambil terus memanggil nama Ira dan Queen.
"Queen!"
"Dimana kalian?" teriak Arvin dan Vano.
"Hentikan! Tolong jangan sentuh aku!"
Mata Arvin dan Vano terbelalak mendengar suara teriakan itu. Hati keduanya semakin gusar. Apalagi teriakan itu terdengar memilukan.
Arvin dan Vano langsung berlari menuju ke sumber suara.
"Queen, kamu tidak apa-apakan?" Arvin segera memeluk tubuhnya adiknya.
"Kakak." Queen yang ketakutan membalas pelukan kakaknya.
"Apa-apa yang mereka lakukan kepadamu?" tanya Arvin melihat kondisi adiknya yang berantakan.
Queen hanya menggeleng sambil terus menangis.
Arvin dan Vano melihat keadaan sekitar dan ternyata sudah tidak ada siapa pun di sana. Kemungkinan para penjahat itu pergi saat mendengar mereka memanggil-manggil nama Queen dan Ira.
"Dimana Ira?" tanya Arvin ketika menyadari tidak ada Ira di sana.
"Mereka membawa Kak Ira pergi. Kak, aku takut. Aku takut!" jawab Queen sambil terus memeluk tubuh kakaknya.
"Ar, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Vano.
"Kita bawa Queen pulang dulu," jawab Arvin. Dia menggendong tubuh adiknya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Tidak hanya Arvin yang terluka melihat kondisi Queen yang seperti itu, Vano pun merasakan hal yang sama. Dia mengepalkan tangannya dan berjanji akan menuntut balas kepada orang-orang yang sudah berbuat jahat kepada gadis itu.
"Lo segera periksa plat kendaraan dengan nomor B 121 AN!" suruh Arvin. "Gue sempat melihat mobil itu keluar dari arah gedung ini."
"Baik."
Vano segera melajukan mobilnya meninggalkan gedung kosong tersebut.