Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Astagaaaa Ira



Dengan mobil kesayangannya, Arvin mengantar Ira pulang ke rumah. Ini memang bukan kali pertama Arvin mengantarkan tunangannya tersebut ke rumahnya, namun setiap mengantar sang tunangan, Arvin selalu dibuat deg-degan dengan tatapan tajam calon mertua yang seolah siap menerkamnya, jika sampai terjadi sesuatu pada putri kesayangannya.


"Katanya kamu mau langsung membawa putriku pulang, tapi ternyata baru sampai larut begini," cicit Dion.


"Qilla yang ngajak Pak Arvin buat jalan-jalan dulu, Dad, sebelum pulang," protes Ira untuk membela sang kekasih.


"Pak?" Dion mengulang panggilan sang putri terhadap tunangannya.


"Iya, Pak. Kenapa?"


"Pria ini kan sudah menjadi tunanganmu, kenapa kamu panggil dia Pak? Apa jangan-jangan selama ini dia sering menindasmu?" tanya Dion disertai dengan praduganya. Dia menatap sengit calon menantunya tersebut.


Gleg. Arvin menelan ludahnya dengan bersusah payah saat Ira menjawab pertanyaan sang calon mertua dengan jawaba ''iya." Bisa-bisanya tunangannya tersebut berkata demikian.


"Jadi benar dia sering menindasmu?" tanya Dion, dia tak terima jika ternyata putri kesayangannya diperlakukan seperti itu.


"Bohong, Om. Saya nggak pernah menindas, Ira. Justru sebaliknya dia sering ngerjain saya, Om." Arvin yang tidak mau dianggap sebagai seorang penindas oleh calon mertuanya tersebut.


"Sudah, sudah! Kamu itu, Mas. Omongan Ira jangan digubris, dia sengaja bilang begitu cuma ingin melihatmu memarahi calon menantu kita." Mikha yang baru saja turun dari kamarnya ikut menyahut.


"Yah... Mommy, padahal kan aku ingin melihat daddy memarahi Pak Arvin," ujar Ira.


"Dia masih memanggilmu dengan sebutan ''Pak" Vin?" tanya Mikha kepada calon menantunya.


"Iya, Tante. Padahal saya sudah menyuruhnya ganti, tapi dia bilang rasanya aneh kalau manggil saya dengan sebutan lain," jawab Arvin. Dia senang karena mendapat pembelaan dari Sang calon mertua.


"Sayang, coba ubah panggilanmu. Jangan panggil "pak" lagi!" suruh Mikha. "Memangnya sampai kalian menikah nanti, kamu mau terus memanggilnya seperti itu?"


"Aku akan merubah panggilanku setelah kita menikah, Mom. Bukannya dulu Mommy juga manggil daddy "Si Cowok Nyebelin" dan daddy juga manggil mommy dengan sebutan "cewek rese" jadi apa salahnya kalau aku nggak ngerubah panggilanku sekarang?" Ira masih kukuh belum mau merubah panggilannya terhadap Arvin sebelum mereka resmi menikah.


Dion menatap ke arah istrinya.


"Maaf, Mas. Aku cerita itu karena Qilla mau mendengar kisah cinta kita." Sebelum Dion tersinggung Mikha memilih untuk mengaku.


"Menurut cerita Mommy dulu Daddy pernah dikerjai waktu di bengkel. Qilla ngebayangin itu seru," lanjut Ira sambil cekikikan.


"Sayang.... "


"Maaf, Mas. Kan aku memang menceritakan semuanya sama Qilla. Aku cuma ingin dia tahu dengan cara apapun jodoh kita datang, itu pasti adalah yang terbaik," sela Mikha sebelum suaminya kembali melayangkan protes.


"Tapi sosok yang jadi panutanku tetap oma. Menurutku oma cewek paling keren karena bisa naklukin hati opa, bahkan membuat opa jadi bucin," tambah Ira.


Mikha tidak hanya menceritakan kisah cintanya dengan sang suami, dia juga memceritakan kisah cinta kedua orang tuanya kepada Qilla. Bahkan kisah cinta saudara kembarnya, Tama pun tak luput ia ceritakan kepada sang putri.


"Dan yang paling membuatku sedih adalah kisah cinta Uncle Tama. Karena cintanya yang begitu besar kepada Aunty Kiara, sampai sekarang uncle Tama belum mau menikah lagi. Padahal Taki dan Maki membutuhkan sosok ibu." Qilla mengatakan itu dengan raut wajah penuh kesedihan. "Semoga uncle bisa membuka hatinya untuk wanita lain agar sepupuku itu bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Aku tahu kita semua menyayangi mereka, tapi pasti akan beda rasanya dengan cinta tulus seorang ibu." Membayangkan kedua sepupunya yang sudah menjadi piatu sejak lahir membuat Qilla tanpa sadar meneteskan air mata.


"Doakan saja yang terbaik untuk uncle Tama. Mommy juga berharap agar dia bisa menemukan cinta lagi. Meski Kiara tidak akan pernah terganti, setidaknya ada wanita yang bisa melengkapi kekuarangan Tama." Sejak kecil Mikha sudah sangat akrab dengan saudara kembarnya tersebut. Dia bisa merasakan bagaimana kehilangannya Tama saat Kiara tidak bisa diselamatkan.


"Sayang... disini ada Arvin lho, kenapa kita malah mengingat hal-hal yang sedih? Aku rasa Kiara sudah cukup bahagia karena sudah bisa memberikan anak kembar yang lucu yang menemani Tama. Semoga saja kelak Tama akan menemukan wanita yang tidak hanya mencintai Tama, tetapi juga bisa mencintai kedua anaknya."


Dion menarik Mikha kedalam dekapan. Dia mengusap punggung istrinya itu dengan sangat lembut.


"Daddy dan Mommy apaan sih, kenapa malah pamer kemesraan di depan aku dan Pak Arvin," protes Ira yang melihat mommy dan daddynya saling peluk.


"Maafkan kami ya Nak Arvin. Kami malah membicarakan keluarga yang lain. Padahal ada kamu di sini." Mikha meminta maaf kepada calon menantunya tersebut.


"Tidak apa-apa kok, Tante."


"Ohya, Vin, kapan kamu dan Qilla akan ke jenjang yang lebih serius lagi? Kapan kamu akan menikah dengan Qilla?" cecar Dion.


"Mas kan kamu sendiri yang belum mengizinkan Qilla menikah sebelum dia jadi dokter, kok tiba-tiba menanyakan itu sih," tegur Mikha.


"Sekarang aku berubah pikiran, kapan pun kalian berdua merasa siap, kalian boleh menikah. Aku tidak mau sesuatu terjadi kepada kalian sebelum menikah."


"Sesuatu? Maksud Daddy aku hamil duluan gitu?" pertanyaan Ira membuat Arvin yang kebetulan sedang meminum minumannya tersedak.


"Pak Arvin nggak apa-apa?" Ira menepuk-nepuk punggung tunangannya.


"Siapa tahu kan," jawab Dion asal dan langsung mendapat tabokan dari Mikha.


"Mas ini apaan sih. Masa doain anaknya begitu. Kita harus percaya kalau mereka bisa menjaga diri mereka, bukan malah suudzon seperti itu," omel Mikha.


"Sayang, putri kita tinggal di luar kota. Tidak ada yang mengawasi dia. Kalau mereka berdua macam-macam di luar sana memang kamu tahu."


"Mas!"


"Daddy tenang saja, aku dan Pak Arvin tahu batasan kok. Kami gak akan berbuat jauh sebelum kami menikah." Jawaban Ira tidak hanya membuat kedua orang tuanya lega, tetapi Arvin pun merasakan hal yang sama.


"Paling banter kita sih ciuman," lanjut Qilla.


Arvin yang ingin meneguk minumannya lagi langsung berhenti. Dia menatap kedua orang tua Ira yang sudah menatapnya.


Gleg. Tenggorakan Arvin mendadak kering, dia kesulitan untuk menelan ludahnya sendiri. Bisa-bisanya Ira mengatakan hal seperti itu dengan gamblang.


"Berapa kali kalian sudah melakukan itu?"


"Siapa yang memulainya terlebih dulu?"


"Om, Tante... saya.... "


"Kami lupa Mom, Dad, berapa kali kita melakukannya. Apalagi dulu awal kita jadian kan karena cuma ingin melakukan itu."


"Astaga Ira... kenapa kamu malah menceritakan ini sama orang tuamu sih. Ah, pasti Om Dion dan Tante Mikha bakalan marahin aku," batin Arvin.


"ARVIN!!" Dion memanggil nama calon menantunya tersebut sambil melotot.