Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Pikiran liar



Buru-buru Ira menyembunyikan benda tersebut dibawah selimut.


"Pak Arvin, kenapa masuk?" tanya Ira kikuk. "Kan aku belum nyuruh Pak Arvin buat masuk."


"Aku kan khawatir karena kamu tidak segera menjawabku," jawab Arvin yang juga terlihat kikuk. "Ya sudah aku keluar sekarang."


Arvin lebih memilih segera meninggalakan kamar kekasihnya dari pada tetap berada di sana. Dia tidak mau otaknya jadi memikirkan hal-hal aneh setelah melihat dua benda yang ada di tangan Ira barusan.


"Duh. Pak Arvin lihat gak ya? Gimana kalau Pak Arvin tiba-tiba ilfil sama aku? Ah, kenapa begini sih?" Ira menyesali kebodohannya karena tidak membersihkan kamarnya pagi tadi.p


"Aku bersihin dulu deh, nanti baru menemui Pak Arvin buat memastikan dia ilfil apa enggak," ucap Ira. Ira membersihkan kamarnya yang seperti kapal pecah barusan. Mulai dari menyapi, membereskan buku pelajarannya, kemudian memasukkan semua baju kotor yang sempat berserakan tadi le keranjang khusus.


"Nah, sekarang sudah rapi. Ternyata kalau kamarku rapi, nyaman juga," ucap Ira sambil berkacak pinggang. "Mulai besok aku harus mulai membersihkan kamarku secara rutin." Setelah merasa semua sudah beres, Ira segera keluar dari kamarnya untuk menemui sang kekasih.


***


Sementara itu, Arvin terlihat berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya. Dua benda pusaka di tangan Ira membuatnya terngiang-ngiang.


"Kenapa dengan otakku?" Arvin memukul kepalanya sendiri. Meski ini bukan pertama kalinya dia melihat benda tersebut karena dia sudah pernah melihat benda yang sama milik adik perempuannya ketika sedang dijemur, tetapi tetap saja membuat otaknya seketika menjadi liar.


"Ini nih, akibat si Vano pernah ngajak gua nonton film dewasa, otak gua jadi trevelling kayak gini." Arvin mengkambing hitamkan sahabatnya sendiri. "Padahal waktu si Nadin ngerayu gue aja, gua nggak pernah tuh sampai seperti ini. Eh, ini cuma melihat benda pembingkus itu saja pikiranku udah kemana-mana. Nggak, sementara gua harus ngejauhin Ira, biar otak gua kembali bersih," ucap Arvin pada dirinya sendiri.


"Pak, Bapak mau pergi?" tanya Ira. Arvin menatap kekasihnya, seketika benda haram itu kembali melintas di otak Arvin.


"Pak, Pak Arvin! Hello!" panggil Ira sambil melambaikan tangannya di depan wajah kekasih sekaligus bosnya tersebut.


"I-iya," jawab Arvin.


"Bapak mau pergi?" Ira mengulang pertanyaan yang sama.


"Tiba-tiba aku ada urusan mendadak, jadi, maaf ya kalau aku harus pergi," jawab Arvin. Arvin tidak mau pikiran liarnya kali ini membahayakan kekasihnya.


"Pak, Bapak tidak sedang menghindariku kan?" tanya Ira lagi. Sejujurnya dia takut kalau perkataan Queen waktu itu menjadi kenyataan. Arvin akan ilfil ketika melihat kondisi kamarnya yang berantakan.


Arvin tidak menjawab karena memang dia sedang berusaha menghindari kekasihnya untuk sementara waktu. Arvin tidak mau gara-gara pikiran liarnya dia jadi melakukan hal yang diluar batas.


"Pak kok nggak jawab?" tanya Ira lagi.


"Aku beneran ada pekerjaan mendadak, Ra. Nanti setelah pelerjaanku selesai aku pasti akan kembali," jawab Arvin. "Aku pergi dulu ya."


Setelah mengatakan hal tersebut, Arvin kembali mengayunkan langkahnya untuk pergi meninggalkan villa. Namun, dia kembali menghentikan langkahnya saat Ira memeluknya dari belakang.