
Arvin mengetuk jendela kaca yang ada di depannya. Dengan sedikit berlari Ira membuka jendela kaca tersebut.
"Ya ampun Pak Arvin, ngapain Bapak di sini?" tanya Ira. Dia segera menarik calon suaminya tersebut masuk ke ruangan itu.
"Aku dengar kalau kamu disandera oleh keluarga pasien, makanya aku buru-buru ke sini karena takut kamu kenapa-napa," jawab Arvin. "Tapi, melihat tingkah kalian barusan sepertinya aku yang terlalu berlebihan," tambah Arvin.
Iya, disaat Arvin begitu mengkhawatirkan Sang Kekasih, justru ia melihat kekasihnya itu sedang bermain catur di dalam ruangan itu.
"Bapak itu memang sempat marah tadi karena mengira istrinya ditelantarkan oleh rumah sakit. Tapi, setelah aku menjelaskan apa yang terjadi dia mulai bisa mengerti," jawab Ira.
"Maafkan atas kekhilafan saya tadi," ujar penyandera tadi.
"Terus apa yang sedang kalian lakukan barusan?" tanya Arvin lagi.
"Aku mengajaknya main agar dia tidak stres, Pak," jawab Ira.
"Seharusnya setelah kesalahpahaman itu selesai kamu ajak Bapak ini keluar agar semua orang yang berada di luar sana tidak mengkhawatirkanmu. Apa kamu tahu, pihak rumah sakit bahkan sudah menghubungi polisi untuk membantu membebaskanmu."
"Iya, Pak. Aku ngaku salah soal ini, tapi tujuanku baik, Pak. Aku hanya tidak ingin melihat Bapak itu stres karena memikirkan istrinya yang sedang menjalani operasi. Jadi, ceritanya itu gini, Pak. Bapak ini mengira kalau istrinya tidak ditangani dan terkesan dibiarkan, padahal kenyataannya istri Bapak ini sudah dimasukkan ke daftar penerima ginjal. Dan siang ini sedang menjalani operasi, tapi karena Dokter Alesha orangnya emosian, bukannya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan istri Bapaknya, dia malah seolah menantang. Makanya aku menawarkan diri menggantikan dia menjadi sandera agar aku bisa menjelaskan duduk oerkara yang sebenarnya," jelas Ira.
Arvin menggeleng, sifat absurd Ira ternyata memang tidak bisa dihilangkan. Di tengah kepanikan semua orang, gadis itu malah mengajak orang yang menyanderanya bermain catur.
"Sebaiknya kita keluar dari sini untuk menjelaskan semuanya. Jangan sampai polisi datang dan menangkap Bapaknya!" suruh Arvin.
***
Setelah kejadian menegangkan yang tidak jadi tegang tadi siang, malam harinya Arvin membawa kekasihnya untuk makan malam. Namun, bukan Ira namanya kalau tidak membuat ulah. Gadis yang terkenal ceroboh dan absurd itu tiba-tiba meminta Arvin merubah rencana awal mereka saat ia melewati pasar malam.
"Kita mau ngapain di sini, Sayang?" tanya Arvin ketika keduanya sudah berada di pasar malam.
"Ish, masa gitu aja nggak tahu. Tentu saja kita disini buat main, Sayang," jawab Ira.
"Maksudku kenapa kita tidak main di time zone atau area bermain yang lainnya, kenapa harus di pasar malam seperti ini?" protes Arvin.
"Pak Arvin sayang, kalau kita bermain di tempat seperti itu kurang seru. Coba Bapak sebutkan di sana ada permainan rumah hantu tidak? Ada tong setan tidak? Terus ada ombak banyu tidak? Tidak ada, kan? Semua permaian yang aku sebutin tadi hanya ada di pasar malam, Pak. Dan semua permaian itu seru," ujar Ira
"Memang kamu pernah bermain di pasar malam?" tanya Arvin.
"Belum pernah sih," jawab Ira.
"Terus kamu tahu itu seru dari mana? Dari cerita teman-teman kamu?" tanya Arvin, dia penasaran bagaimana calon istrinya itu kalau permainan di pasar malam itu seru padahal dia belum pernah ke sana.
"E... dari google," jawab Ira sambil menunjukkan cengiran kudanya.
Arvin hanya bisa menepuk jidatnya sendiri mendengar jawaban polos ala Sang Calon Istri.