
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu jam, akhirnya pesawat yang di tumpagi Arvin dan Ira tiba di Bandara Soekarno Hatta.
Tak mau berlama-lama dengan penumpang yang membuat iman Arvin hampir tergoda, membuatnya langsung bergegas keluar ketika pintu pesawat dibuka. Dan tentu saja hal tersebut justru membuat Ira merasa aneh dengan sikap kekasihnya tersebut.
"Pak Arvin kenapa sih buru-buru?" tanya Ira begitu mereka tiba di luar bandara.
"Nggak apa-apa, aku cuma sudah tidak tahan berada di pesawat."
"Karena penumpang mesum itu?" tanya Ira lagi.
"Salah satunya."
"Salah duanya apa?" tanya Ira dengan wajah polosnya.
"Kesalahan keduanya.... " Arvin masih mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan kekasihnya. Dia tidak mungkin bicara jujur, jika alasannya buru-buru keluar karena dia takut khilaf.
"Itu Vano sudah datang." Arvin segera mengalihkan perhatian Ira ketika melihat kedatangan Vano.
"Sudah nunggu lama?" tanya Vano kepada Arvin dan Ira ketika dia sampai tepat di depan sepasang kekasih tersebut.
"Lumayan, lo telat 59 detik," jawab Arvin.
"Belum juga satu menit."
"Yang namanya telat ya telat, mau semenit kek, sedetik kek, atau bahkan 0,001 detik pun tetap itu namanya telat," ucap Arvin.
"Iya-iya. Sorry gue telat." Vano lebih memilih mengalah ketimabang harus meladeni oceahan bosnya tersebut karena apa pun itu, dia tidak akan mau kalah.
"Lo mau langsung pulang atau nganter Ira ke rumahnya dulu?" tanya Vano.
"Nona Ira. Nggak boleh ada yang manggil dia nama kecuali gue," ralat Arvin.
"Kecuali lo udah jadi adik ipar gue, lo gue izinin manggil dia Kakak," tambah Arvin.
"Emang si Vano suka sama Queen?" sambung Ira.
"Sejak si Queen SMP, dia udah naksir si Queen. Sayangnya dia nggak punya keberanian buat ngaku. Cuma berani mencintai dalam diam," ejek Arvin.
"Wah sweetnya," berbeda dengan Arvin yang mengejek sahabatnya itu, Ira justru memuji Vano.
"Sweet?" Arvin mengulang perkataan Ira.
"Iya, sweet."
"Apanya yang sweet? Orang cinta tuh harus ditunjukin, diperjuangin, bukan malah diem dan pura-pura nggak memiliki perasaan apa pun."
"Ya sweetlah soalnya Pak Vano masih bisa menjaga hatinya cuma buat Queen selama beberapa tahun ini. Padahal dia sendiri belum tahu kan nasib cintanya ke depan kayak apa?"
Arvin tampak diam sambil mencerna perkataan lekasihnya barusan. Kalau dipikir-pikir perkataan Ira ada benarnya. Selama lima tahun lebih Vano mencintai Queen dalam diam, tidak jarang Queen selalu meminta pendapat Vano untuk menilai beberapa lelaki yang ia taksir, meski ujung-ujungnya tidak satu pun dari laki-laki yang Queen ceritakan itu berakhir menjadi kekasihnya.
"Ah, bodo. Pokoknya menurut gue, Vano itu nggak gantle karena nggak berani ngedeketin Queen secara terangan-terangan," ujar Arvin tak mau kalah.
Tak mau menghiraukan perkataan Arvin, Vano lebih memilih mengalihkan pembicaraan mereka. "Jadinya gimana? Lo mau nganter Nona Ira dulu ke rumahnya atau gimana?" tanyanya.
"Lo bawa dua mobilkan?"
"Iya. Tadi gue yang bawa mobil kesayangan lo dan sopir keluarga lo yang bawa mobil yang biasa lo pakai buat kerja," jawab Vano.
"Ya udah, lo bawa koper gue ke rumah. Gue mau nganter Ira dulu," jawab Arvin.
Tanpa banyak bicara Vano melakukan hal yang diperintahkan oleh Arvin. Dia memberikan kunci mobil milik Arvin kepada pemiliknya.