Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Kamu benar-benar menguji keimananku, Ira.



Sebelum jam enam sore, Arvin dan Ira sudah berada di Bandara Adisutjipto. Mereka tidak mau melewatkan penerbangan terakhir ke Jakarta hari ini. Mereka tidak mau tiket yang mereka beli hari ini harus dibuang sia-sia. Memang uang sebesar empat juta lebih itu tidaklah terlalu besar bagi keduanya. Hanya saja akan terasa mubazir kalau tiket yang sudah mereka beli tidak mereka gunakan.


Arvin dan Ira langsung naik ke pesawat setelah ada petugas yang mengajak keduanya naik ke pesawat. Ira sudah terbiasa dengan itu karena memang setiap kali ia pulang pergi dari Jakarta ke Jogja atau sebaliknya mereka selalu memilih penerbangan kelas VIP. Arvin selalu ingin membuat tunangannya tersebut selalu merasakan kenyaman.


"Pak, nanti dari bandara Bapak mau langsung pulang atau nganter aku pulang ke rumah dulu?"


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-napa, hanya ingin tanya saja sih."


Ira menunjukkan seyum tiga jari dan disambut jentikan di kening.


"Pak Arvin hobi banget mukul kening aku. Sakit tahu." Ira memanyunkan bibirnya.


"Salah sendiri kenapa tiap kali kita naik pesawat kamu selalu menanyakan hal yang sama. Memang kamu nggak bosen apa menanyakan hal itu terus?"


"Habisnya aku bingung mau ngapain kalau kita naik pesawat berdua saja."


"Siapa bilang berdua? Tuh di samping kanan kita juga ada orang kok, dibelakang kita juga ada orang," ralat Arvin.


"Iya, sih. Tapi kan penumpangnya nggak sebanyak di kabin kelas ekonomi."


"Mau penumpangnya banyak atau pun sedikit tetap saja yang namanya di dalam pesawat kita nggak bisa teriak-teriak Sayang. Yang ada kita bisa dikatain gila kalau melakukan itu."


"Nggak gitu juga, Pak. Tapi, coba Bapak lihat penumpang yang duduk di samping kita itu."


Refleks Arvin menengok ke arah samping tempat duduknya. Namun langsung ditahan oleh Ira.


"Jangan sampai ketahuan kalau kita lagi merhatiin mereka!" bisik Ira.


"Kenapa?"


Ira meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Arvin.


"Jangan menoleh! Mereka sedang .... " Ira berusaha memberitahu tahu Arvin dengan isyarat mata.


Arvin menoleh ke kanan tempat duduknya, dia buru-buru memalingkah wajahnya saat melihat dua penumpang yang Ira maksud sedang beradu bibir.


"****. Ngapain sih mereka begitu di tempat umum," umpat Arvin.


"Pak Arvin mengumpat?"


"Maaf sayang aku nggak bermaksud begitu. Aku hanya nggak suka saja melihat orang melakukan itu di tempat umum. Apalagi di depanku."


"Sudah. Abaikan saja mereka, lain kali kita ambil kabin yang ekonomi saja ya, disana pasti lebih banyak penumpangnya dan mereka pasti akan lebih segan untuk melakukan hal-hal yang gak sopan," ujar Ira.


"Iya, Sayang," jawab Arvin sambil mengusap pipi kekasihnya dengan lembut.


"Pak, ada apa?" tanya Ira saat melihat Arvin tiba-tiba terdiam.


"Sial! Kenapa aku jadi ingin melakukan itu juga ke Ira," batin Arvin saat melihat bibir Ira yang berwarna merah muda itu.


"Pak, ada apa?" Ira mengulang pertanyaannya.


"A... tidak apa-apa," jawab Arvin. Dia segera membetulkan posisinya. Menyandarkan kepala di kursi lalu memejamkan matanya. Arvin tidak ingin terbawa oleh keinginan sesat tersebut. "Bangunkan aku saat kita tiba di bandara!"


"Iya, Pak. Bapak tidur saja dulu, aku tahu Bapak pasti capek." Ira menarik kekasihnya lebih mendekat agar Arvin bersandar di pundaknya.


"Ra, nanti kamu pegel lho," tolak Arvin.


"Tidak apa-apa. Aku hanya mau membuat Pak Arvin nyaman," jawab Ira yang membuat Arvin terpaksa mengikuti kemauan tunangannya.


Harum parfum yang Ira kenakan justru membuat Arvin tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya kembali ke adegan yang baru saja ia lihat beberapa saat yang lalu. Apalagi saat Arvin melihat leher jenjang kekasihnya. Dia harus semakin kuat menahan hasratnya yang kian membuncah.


"Pak, sudah bersandar saja. Tenang saja, aku kuat kok." Ira melarang Arvin saat pria itu ingin merubah posisinya.


"Aku yang nggak kuat, Sayang," kata-kata itu hanya bisa Arvin ucapkan di dalam hati. "Kamu benar-benar menguji keimananku, Ira."