Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Nasi goreng



Di sebuah kamar yang tidak terlalu luas seorang gadis terbaring lemah tak berdaya setelah dia mencoba untuk menenggelamkan diri di laut lepas. Beruntung, Arga yang saat itu sedang menenangkan diri karena patah hati berhasil menyelamatkannya. Dia berhasil membawa gadis tersebut kembali ke daratan sebelum seluruh tubuhnya hanyut.


Gadis dengan wajah oval, berkulit putih, dengan rambut sebahu itu mulai membuka matanya. Ekor matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.


"Sudah sadar?" tanya Arga kepada wanita itu.


Wanita itu mencoba mengingat apa yang terjadi kepada dirinya beberapa yang lalu.


"Siapa kamu? Kenapa kamu menolongku? Harusnya kamu tidak usah menolongku. Aku tidak ingin hidup di dunia ini." Gadis tersebut berteriak histeris.


"Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi, apa dengan mengakhiri hidupmu maka semua masalah yang kamu hadapi akan langsung selesai? Tidak! Kamu justru akan membuat orang-orang yang menyayangimu sedih dan terluka."


Gadis itu terdiam. Selama ini, dia memang tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang-orang yang sudah menyayangi dirinya terutama kedua orang tuanya.


"Kalau boleh tahu apa masalahmu hingga membuatmu ingin mengakhiri hidup?" Arga bertanya kepada gadis itu.


"Sejak dulu aku jatuh cinta kepada seorang pria, aku rela melakukan apa pun demi pria itu termasuk merubah penampilanku agar bisa terlihat lebih cantik dan membuatnya jatuh cinta kepadaku. Awalnya ku kira semua itu berhasil karena orangtuaku bilang, laki-laki itu menerima perjodohan itu. Tapi, hari ini aku baru tahu kalau sebenarnya dia tidak pernah menerima perjodohan tersebut. Sejak awal dia sudah menolakku. Dan hari ini aku baru tahu kalau dia sudah memiliki kekasih dan kekasihnya itu adalah sahabat lamaku. Kenapa cintaku tidak pernah berjalan lancar? Kenapa aku harus merasakan patah hati bahkan sebelum hati ini merasakan indahnya perasaan itu," jelas gadis tersebut.


"Hanya gara-gara patah hati kamu ingin mengakhiri hidupmu? Itu benar-benar tidak masuk akal." Arga menatap gadis yang duduk di atas ranjang itu dengan tatapan mengejek.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Selama ini yang tertanam di benak dan hatiku adalah dia."


"Kamu hanya punya dua pilihan. Tetap berusaha memperjuangkan cintamu itu atau merelakan dia dengan kebahagiaannya."


"Jika kau jadi aku apa yang akan kamu pilih?" tanya wanita itu sambil menatap mata Arga.


"Jika memang tidak ada kesempatan untukku mendapatkan cintanya, aku lebih memilih merelakannya. Tapi, semua keputusan ada di tanganmu karena resiko dari setiap keputusan yang kamu ambil, kamu sendirilah yang akan merasakannya," jawab Arga.


"Ohya dimana tempat tinggalmu? Aku akan mengantarmu."


"Aku menginap di Hostel Bogor, rencananya aku baru akan kembali ke Jakarta setelah pengumuman hasil ujian. Tapi, sepertinya aku akan memilih langsung kembali besok pagi."


"Baiklah, setelah ini aku antar kamu ke hotel tersebut. Sekarang makanlah, aku tahu kamu pasti lapar!" seru Arga. Dia beranjak dari tempatnya dan hendak keluar dari kamar gadis yang ditolongnya tersebut.


"Tunggu!" Arga yang hampir mencapai handle pintu menoleh ke arah gadis tersebut.


"Namaku Hana, siapa namamu?" Gadis itu memperkenalkan dirinya.


"Arga." Arga melanjutkan kembali langkahnya setelah ikut memperkenalkan diri.


Ira sudah menghabiskan dua potong stik buatan Arvin. Tidak hanya itu, kentang goreng, dan salad yang tadinya, Ira bilang tidak doyan itu pun ikut habis ia makan.


Dengan garpu dan sendok di tangan, Arvin menatap meja di depannya dengan nanar. Tidak hanya perut kekasihnya saja yang perlu diisi, tetapi perutnya juga sudah berdemo meminta hal yang sama. Sayangnya sudah ada sesuatu yang bisa ia makan sebagai pengganjal perut.


"Ra, kamu beneran mengahbiskan semua makanannya?" tanya Arvin dengan lemah.


"Kan Pak Arvin sendiri yang bilang, kalau semua masakan yang Pak Arvin masak untukku, makanya aku habisin. Kan mubazir Pak kalau nggak habis," jawab Ira tanpa merasa bersalah.


"Terus aku harus makan apa dong?" tanya Arvin sambil menatap sang kekasih.


"Astaghfirullah hal adzim, jadi Pak Arvin nggak nyiapin makanan buat Pak Arvin sendiri?" Arvin mengangguk.


"Maaf ya, Pak, aku kira memang benar kalau semua makanan tadi untukku makanya aku habiskan semua. Maafkan aku ya, Pak!" ucap Ira penuh penyesalan.


"Sudahlah, aku akan makan mie instan saja," ucap Arvin.


"Jangan, Pak! Kebanyakan makan mie instan gak baik buat kesehatan!" cegah Ira. "Gini saja, nasinya kan aku lihat di magicom masih ada. Aku buatin nasi goreng mau nggak?" tanya Ira kepada aang kekasih.


"Tapi.... "


"Tenang saja, aku pasti bisa kok bikin nasi goreng yang lezat buat Pak Arvin. Gimana?"


Meski ragu, Arvin mengiyakan. Dia mempersilakan Ira untuk membuatkan nasi goreng untuknya.


Setelah lima belas menit Ira berkutat dengan spatula dan wajan di dapur, akhirnya nasi goreng buatannya sudah matang.


"Ini benaran bisa dimakan?" Arvin terlihat sanksi melihat nasi goreng yang ada di hadapannya.


"Aku rasa sih bisa." Jawaban Ira juga terdengar kurang yakin.


Arvin dan Ira sama-sama melihat nasi goreng yang ada di depan mereka. Dilihat dari bentuknya saja nasi goreng tersebut sudah tidak meyakinkan untuk bisa dinikmati.


"Beneran nasi goreng ini bisa dimakan?" sekali lagi Arvin bertanya.


"Entahlah, aku sendiri nggak yakin, Pak," jawab Ira jujur.


Keduanya kembali menatap nasi goreng dihadapan mereka tersebut.