Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Kenapa kamu menangis, Ira?



Kruyukkk


Cacing-cacing di perut Arvin semakin kuat mengajak berdemo. Meskipun ragu, Arvin mulai menyendok nasi goreng buatan kekasihnya tersebut.


"Semoga perutku nggak kenapa-napa setelah memakan ini." Doa Arvin di dalam hati. Ekor mata Arvin menatap sang kekasih yang sedang duduk di hadapannya.


"Bismillahirrohmannirrohim," ucap Arvin yang mulai menyuapkan sendok di tangannya ke dalam mulut. Namun, sebelum suapan tersebut sampai di mulutnya Ira sudah menahan tangan sang kekasih.


"Jangan, Pak!" cegah Ira.


"Kenapa?"


"Aku takut kalau nasi goreng itu beneran gak bisa dimakan. Aku nggak mau perut Pak Arvin sakit gara-gara makan itu," jawab Ira terus terang.


"Tidak apa-apa. Kamu kan sudah capek-capek buat nasi goreng ini, mungkin saja nasi goreng ini beneran enak," jawab Arvin meskipun sebenarnya dia juga tidak yakin. Arvin tetap menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulut.


"Gimana, Pak?" tanya Ira penuh harap. Dia berharap kali ini nasi goreng buatannya benar-benar bisa dimakan.


"Enak kok," jawab Arvin.


"Benarkah?" tanya Ira dengan mata berbinar.


"Iya, benar." Arvin menjawab pertanyaan Ira tersebut sambil tersenyum. Dia kembali memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Pak, boleh aku mencobanya?"


"Tidak boleh!" jawab Arvin sambil menjauhkan piring berisi nasi goreng tersebut dari tangan Ira. "Kamu buatkan ini untukku kan? Jadi, nasi goreng ini hanya milikku dan kamu tidak boleh memakannya!" Arvin pura-pura menatap sinis Ira.


"Pak Arvin pelit! Masa mau nyobain dikit aja nggak boleh," gumam Ira.


"Biarin, kamu kan sudah memakan semua masakanku tadi. Jadi giliran aku yang menghabiskan semua masakanmu. Lagian memangnya perutmu nggak kenyang sudah makan segitu banyak makanan?"


"Aku kan cuma mau nyicipin aja, bukannya mau memakan semuanya."


"Tetap saja tidak boleh karena itu milikku," kekeh Arvin.


"Ya, iya, lagian nasi goreng itu sudah habis," ucap Ira. Dia tersenyum bahagia karena akhirnya untuk pertama kalinya dia bisa membuat sesuatu yang bisa dikonsumsi. "Sudah sini aku bawa piring kotornya ke wastafel!" Ira mengambil piring bekas tempat nasi goreng tersebut dari tangan Arvin.


"Sekalian tolong ambilkan aku air putih ya, aku haus!" pinta Arvin.


"Ish. Dasar kang suruh!" Ira mencebik. Dia mengambil piring kotor tempat nasi goreng yang sudah habis tersebut dari hadapan Arvin dan membawanya ke wastafel yang tidak berada jauh dari tempat makan mereka saat ini. Kemudian ia mangambil gelas dari rak dan menuangkan air putih ke dalamnya. Namun, saat dia hendak kembali ke meja makan, tiba-tiba saja matanya tertuju pada wajan yang masih berada di atas kompor, di dalam wajan tersebut masih ada sisa nasi goreng buatannya tadi.


Ira berjalan ke mendekati kompor tersebut, dia menatap nasi yang ada di wajan itu dengan seksama.


"Benarkah nasi goreng buatanku enak? Aku jadi penasaran seenak apa nasi goreng ini hingga Pak Arvin tidak mengizinkan aku mencicipinya?" batin Ira. Ira meletakkan gelas berisi air putih di tangannya di meja dekat kompor karena penasaran Ira memutuskan untuk mencicipi nasi goreng buatannya tersebut dengan menggunakan sendok yang baru saja diambilnya. Namun, saat nasi goreng tersebut mendarat di dalam mulut, matanya melotot sambil menyemburkan nasi goreng di dalam mulutnya. Dia langsung berlari menemui sang kekasih yang kebetulan sedang berdiri di dekat jendela dengan telepon genggam menempel di telinga.


"Hei, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Arvin saat tiba-tiba kekasihnya tersebut memeluknya dari belakang sambil menangis. Dia segera menutup sambungan teleponnya.


"Katakan kenapa kamu menangis, Ira?" tanya Arvin sekali lagi. Laki-laki berhidung mancung, dengan paras menawan itu menatap Ira dengan seksama.


🌺🌺🌺


Kenapa ya Ira begitu? Sorry ya gaes baru up, besok otor bakalan up lebih dari satu chapter ✌️✌️