Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Terobsesi



"Hhh." Ira akhirnya bisa bernapas lega karena akhirnya orang-orang yang mencarinya tadi pergi menjauh dari tempatnya bersembunyi. Dia kemudian melanjutkan langkahnya untuk bisa secepatnya menemukan jalan keluar dari wilayah itu sebelum sore hari, karena jika dia tidak berhasil keluar dari wilayah itu hingga hari berubah gelap, maka tidak akan ada kendaraan umum yang bisa membawanya menuju ke jalan utama. Senyum Ira mengembang ketika melihat ada bus yang sedang menurunkan beberapa penumpang di halte yang tempatnya tidak jauh dari keberadaannya saat ini. Ira segera mempercepat laju larinya agar tidak ketinggalan bus itu hingga pada akhirnya dia berhasil mencapai bus itu.


Namun, ketika dia akan menaiki bus tersebut seseorang yang sudah sangat Ira kenal berdiri di depannya dengan menunjukkan senyum smirk-nya. Ira kembali melangkah mundur.


"Non, jadi naik tidak?" tanya si supir bus kepada Ira.


"Ti-tidak, Pak," jawab Ira ketakutan.


Supir bis itu pun kembali melajukan bus tersebut dan meninggalkan tempat itu.


"Ada apa, Qilla? Kamu mau kemana? Kenapa kamu terlihat ketakutan seperti itu? Apa ada orang yang mengejarmu?" tanya orang itu sambil terus melangkah mendekati Ira. "Jangan khawatir aku akan membantumu pergi dari sini," lanjutnya.


Orang tersebut berusaha menyentuh bahu Ira, namun ditepis dengan kasar olehnya.


"Ke-kenapa kamu setega ini? Kenapa kamu ingin mencelakaiku?" tanya Ira. "Apa salah Queen? Kenapa kamu juga melibatkan dia? Kenapa?" teriak Ira.


"Kenapa ya?" Orang itu memasang wajah seolah sedang berpikir. "Tebak, kenapa aku mencelakainya padahal dia adik dari laki-laki yang aku cintai!"


"Hana. Berhentilah berbuat kriminal! Serahkan dirimu pada pihak yang berwajib, aku yakin Arvin dan orang-orang dari papaku akan segera ke sini untuk menangkapmu," ujar Ira.


Iya, orang yang saat ini berdiri di depan Ira adalah Hana, sahabat baiknya ketika di SMA dulu.


"Kamu pikir salah siapa hingga aku berbuat nekat seperti ini? Hah!" Hana mencekik leher Ira.


"Jika kamu tidak hadir di kehidupan Kak Arvin, maka dia sudah jadi milikku sekarang."


"Tidak benar! Sejak awal Arvin sudah menolakmu dan kamu pun sudah mendengar itu darinya dan dari kedua orang tuamu. Jadi, jangan jadikan orang lain sebagai alasan kenapa kamu tidak bisa mendapatkan cintanya karena memang sejak awal Arvin tidak pernah mencintaimu," balas Ira.


Hana melayangkan tamparan yang sangat keras di pipi Ira. Wanita itu terlihat emosi mendengar penuturan Ira barusan.


"Harusnya dia bisa mencintaiku karena aku sudah berubah menjadi cantik dan anggun. Lihatlah, aku pantas kan berdiri di sampingnya?" Hana membanggakan penampilannya. "Kamu tahu Ira, berapa banyak usaha yang aku lakukan untuk menjadi seperti ini? Pengorbananku untuk mengurangi makan, mengikuti les kecantikan, dan meminum beberapa obat kecantikan agar bisa menunjang kecantikanku hingga berubah seperti sekarang ini dan bisa menarik perhatian Kak Arvin. Tapi... tiba-tiba kamu muncul." Dia menatap Ira penuh kebencian.


"Hana, bukankah waktu itu kamu bilang kamu sudah mengikhlaskan dia? Tapi, kenapa sekarang kamu begini?"


"Memgikhlaskan? Kamu salah! Aku tidak pernah mengikhlaskan dia untukmu. Aku hanya sedang mencari cara agar bisa menghancurkan cinta kalian. Sayangnya itu semua caraku gagal memisahkan kalian." Hana menjeda kalimatnya.


"Kamu ingat? Aku pernah memperlihatkan artikel yang menunjukkan kemesraan Kak Arvin dengan mantan artis itu, ku pikir kamu akan marah dan memintanya putus. Tapi, ternyata kamu tidak melakukannya. Makanya aku menggunakan cara ini untuk menyingkirkanmu. Dan kamu tahu apa yang membuatku makin membencimu, kamu selalu dilindungi oleh orang-orang disekitarmu, termasuk Arga. Pria bodoh itu malah ikhlas melepaskanmu begitu saja untuk Arvin. Benar-benar pria yang naif, makanya aku menjebaknya. Mungkin sekarang Arvin sudah membawanya ke kantor polisi karena mengira dialah dalang dari semua ini. Aku puas bisa membuatnya dicurigai dan soal Queen, aku benci gadis kecil itu karena dengan gampangnya dia menerimamu. Padahal dulu aku selalu berusaha berusaha berbuat baik kepadanya agar dia mau mendukungku, tapi ternyata gadis itu malah menyerahkan segalanya kepada Kak Arvin. Andai saja dia menyuruh kakaknya untuk memilihku aku tidak akan berbuat kejam kepadanya," lanjut Hana.


"Kamu benar-benar seorang psycophat. Kamu sungguh sangat mengerikan Hana."


"Terserah apa katamu. Jika memang aku tidak bisa mendapatkan Kak Arvin, maka kau pun tidak boleh mendapatkannya. Ohya iya dan soal kalung kenapa aku bisa tahu jika di dalam kalungmu tersimpan chips, karena aku membayar salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di kediamanmu untuk memberikan info penting kepadaku."


"Kau benar-benar tidak waras Hana! Cinta bukan sesuatu yang bisa kamu kendalikan atau pun kamu paksakan. Cinta itu hadirnya dari dalam hati. Jadi, apapun yang kamu lakukan saat ini, tidak akan bisa membuatmu mendapatkan cinta Arvin. Dia justru akan membenci perbuatanmu ini."


"Sudah ku bilang, aku tidak peduli. Jika aku tidak bisa memdapatkannya, kau pun tidak akan bisa." Kembali Hana mencekik leher Ira dengan sangat kuat.


"Le-lepaskan aku! Lepas... lepaskan aku Hana!" Ira berusaha melepaskan cekikan tangan Hana di lehernya.


"Tidak akan! Sudah ku bilang aku akan membuatmu lenyap dari dunia ini." Hana semakin kuat mencekik leher Ira hingga membuat Ira semakin kesulitan untuk berteriak meminta tolong.


"Aku harus menyingkirkanmu dari dunia ini. Harus!" teriak Hana.


"Hentikan Hana!" suara seseorang dari belakang Hana membuat wanita yang sedang kerasukan setan tersebut mendadak berhenti. Dia kemudian menoleh ke sumber suara.