
Cukup lama Ira berada di dalam toilet. Sebenarnya dia ingin lebih lama berada di dalam toilet itu agar tidak bertemu dengan pamannya. Namun, karena Arvin terus menelponnya dan menyuruhnya untuk segera datang, Ira pun terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya itu. Dia kembali memastkan penampilannya agar sang paman tidak mengenalinya.
"Mudah-mudahan saja Uncle Tama nggak ngenalin aku." Ira menarik napas kemudian menghembuskannya dan Ira melakukannya beberapa kali sebelum akhirnya dia benar-benar menemui bosnya.
"Dari mana saja kamu? Kenapa lama?" tanya Arvin saat Ira sudah tiba di depannya.
"Maaf, Pak. Aku gak beksud lama-lama di toilet, tapi, tadi toiletnya penuh," jawab Ira berbohong.
"Pak, rekan Anda tadi di mana?" tanya Ira saat melihat bosnya duduk seorang diri.
"Dia sudah pergi barusan," jawab Arvin.
"Syukurlah," gumam Ira sambil menghela napas lega.
"Barusan kamu bilang apa?" tanya Arvin sambil menatap ke arah asisten pribadinya tersebut.
"Tidak bilang apa-apa kok, Pak."
"Jangan bohong! Aku dengar barusan kamu ngomong syukurlah." Kembali Arvin menatap Ira.
"E... Bapak salah dengar kali. Aku tidak mengatakan apa-apa kok," elak Ira.
"Sudahlah, aku tidak tahu aku yang salah dengar atau memang kamu yang sedang menyembunyikan sesuatu dariku, tetapi selam itu tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan aku tidak akan ikut campur," ucap Arvin.
"Oiya, nanti kamu buat kontrak untuk kerja sama dengan Tuan Tama tadi. Ini adalah hal-hal yang sudah kami sepakati tadi." Arvin memberikan berkas-berkas yang ada di depannya kepada Ira. "Kamu tahukan cara membuat kontrak kerjasama?"
"Apa aku bilang saja ya kalau aku tidak tahu. Selama ini kan aku tidak pernah melihat kontrak kerjasama itu seperti apa?" Ira berbicara dalam hati.
"Tapi, jika aku bilang tidak bisa nanti malah aku ditertawakan lagi sama Pak Arvin. Sudahlah, nanti aku bisa mencari tahu bagaimana cara membuat itu di YT," pikir Ira.
"Baguslah. Jadi, aku gak perlu ngajarin kamu."
"Sial. Kalau tahu dia bakal ngajarin, harusnya aku ngaku saja tadi," batin Ira yang menyesali tindakannya.
"Ayo kita ke villa sekarang! Untuk hari ini sudah tidak ada pekerjaan lagi!" ajak Arvin. Dia bangun dari tempat duduknya.
Arvin berjalan keluar dari restoran, namun ketika baru tiba di depan pintu mereka kembali bertemu temu dengan Tama dan itu membuat Ira was-was. Ira takut pamannya akan mengenali dirinya dan akan memberitahu kepada daddynya tentang keberadaannya di kota ini.
"Lho Pak Tama, bukannya Anda sudah keluar dari tadi? Apa ada sesuatu yang ketinggalan di sini?" tanya Arvin menyapa rekan bisnisnya itu.
"Tidak ada kok, Pak Arvin. Saya hanya ada perlu di sini," jawab Tama.
"Ini.... "Arvin menatap Ira yang berdiri di belakang Arvin.
"Ouh, kenalkan Pak, ini asistenku namanya Ira." Arvin memperkenalkan Ira kepada rekannya itu.
Meski was-was, Ira mengulurkan tangannya kepada Tama. "Ira," ucapnya memperkenalkan diri.
Tama membalas uluran tangan Ira tanpa mengatakan apa pun.
"Semoga paman nggak ngenalin aku," batin Ira.
"Ira, kamu tunggu di sini sebentar ya, ayahku telpon." Arvin berjalan menjauhi Ira dan Tama untuk menerima telpon dari ayahnya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Qilla?" Pertanyaan Tama membuat mata Ira membulat.