Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Seandainya....



Di rumah sakit di tempat ibunya Hana dirawat....


Dua orang polisi mendatangi orang tua Hana yang kebetulan sedang dirawat di rumah sakit. Polisi tersebut mengabarkan kepada kedua orang tua Hana bahwa Hana sudah meninggal karena tertembak. Kedua polisi itu menjelaskan alasan kenapa sampai Hana terpaksa harus ditembak mati.


"Jadi... anak kami sudah meninggal, Pak?" tanya papanya Hana memastikan.


"Iya, Pak. Anggota kami terpaksa menembak putri kalian karena sudah membahayakan posisi korban. Dia sempat merampas senjata api milik salah satu dari anggota kami dan hendak menembak ke arah Nona Qilla, jadi terpaksa putri kalian kami lumpuhnkan." Salah satu dari dua polisi itu menceritakan kronologi kejadian yang terjadi di TKP.


"Pa, Hana kita, Pa," ujar mamanya Hana. Dia yang baru saja sadar akibat luka di kepalanya sempat kembali pingsan setelah mendengar kabar itu. Namun, setelah mendapat penanganan dari dokter wanita itu kembali sadar. Dia terus menangis histeris menangisi kepergian putri mereka yang meninggal secara tragis.


"Di mana jenazah putri saya sekarang, Pak?" tanya Papanya Hana.


"Jenazah putri kalian masih ada di rumah sakit polri untuk di autopsi. Setelah semua proses selesai kami akan menyerahkan jenazah putri kalian kepada kalian." Salah satu dari polisi itu menjelaskan.


"Terima kasih, Pak, atas pemberitahuannya. Kami akan menyiapkan pemakanan untuk putri kami," ucap papanya Hana.


Hati orang tua mana yang tidak akan hancur mendengar kabar kematian anaknya? Meski semua itu terjadi karena kesalahan Hana sendiri. Namun semua hal buruk itu tidak akan terjadi jika mereka tidak pernah menjodohkan putrinya dengan Arvin. Hana yang lugu dan polos tidak akan terobsesi untuk memiliki Arvin.


Menyesal? Pasti. Jika tehu ending dari perjodohan itu akan berakhir tragis seperti ini mama-papa Hana pasti tidak akan pernah meminta kepada orang tua Arvin untuk menjodohkan putra putri mereka.


"Pa, Hana kita, Pa. Hana kita." Mamanya Hana terus menangis sambil memeluk foto putrinya. Foto saat gadis itu masih duduk di bangku SMA. Di foto itu Hana yang masih menggunakan kacamata tebal terlihat sangat lugu. Dan saat tahu ia akan dijodohkan dengan Arvin, mati-matian Hana berusaha memperbaiki penampilannya lebih modis dan stylist agar bisa menarik perhatian pengusaha muda itu. Apalagi Hana tahu jika mantan kekasih Arvin yang bernama Nadin adalah seorang aktris, dia harus bisa berpenampilan lebih baik dari Nadin. Demi Arvin, gadis yang sebelumnya hanya mengenal dunia buku dan perpustakaan tersebut, mulai mencoba mengenal peralatan make up, diet, dan melakukan segala macam perawatan untuk terlihat menawan dihadapan Arvin. Sayangnya Arvin tetap menolak perjodohan itu sejak awal.


Ya, seandainya saat itu mereka bisa membujuk Hana agar berbesar hati menerima penolakan Arvin dan tidak meminta Arvin untuk berpura-pura menyetujui perjodohan tersebut mungkin saat ini Hana masih hidup. Mama Hana menyalahkan dirinya karena secara tidak langsung dialah yang membuat putrinya semakin terobsesi dengan Arvin, laki-laki yang jelas sejak awal sudah menolak putrinya.


"Semua ini salahku, Pa. Salahku, jika saja aku tidak terus meyakinkan Hana bahwa suatu Arvin pasti akan melihatnya, Hana pasti sudah menyerah dengan perasaannya. Ini salahku. Salahku." Mama Hana terus menyalahkan dirinya.


"Sabar, Ma. Tidak hanya kamu yang salah papa juga salah. Kita berdua sama-sama salah. Sekarang lebih baik kita doakan putri kita. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa-dosanya selama ini dan semoga Tuhan juga mengampuni kita yang tanpa sengaja telah menjerumuskan Hana." Papanya Hana memeluk istri nya dengan erat. Keduanya berusaha untuk saling menguatkan.