Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Cemas



Disisi lain, Arvin segera melihat ke layar hp nya saat sebuah notif pesan dari Ira terdengar. Arvin tahu jika pesan yang baru masuk tersebut adalah pesan dari Ira karena ia sengaja memberikan dering khusus untuk sang kekasih.


"Apa maksud pesan Ira ini? Kenapa dia mengirimkan pesan SOS dengan disertai foto Queen?" tanya Aska dalam hati.


Tidak lama seseorang dengan napas terengah masuk ke ruangannya tanpa permisi. "Gawat, Vin. Gawat!" ucapnya.


"Gila lo ya, bikin gue kaget saja tahu. Masuk ke ruangan orang main nyelonong aja tanpa permisi!" tegur Arvin.


"Ini urgent, Vin," jawab Vano. Iya, siapa lagi orang yang berani main masuk ke ruang kerja Arvin tanpa permisi selain Vano, asisten sekaligus sahabatnya yang kemungkinan juga akan menjadi calon adik iparnya.


"Katakan ada apa! Apanya yang urgent?" tanya Arvin.


"Queen hilang."


"Apa?!"


"Iya, Queen hilang. Saat aku menjemputnya dia sudah tidak ada di kampus," jawab Vano.


"Kamu sudah cek di rumah?" tanya Arvin lagi.


"Sudah. Kata bundamu ia belum pulang," jawab Vano. "Dan menurut keterangan dari beberapa temannya, katanya ada yang menjemput Queen di kampus," lanjutnya.


Jawaban Vano tentu saja membuat Arvin mencemaskan adiknya tersebut. Kemudian ia menatap pasan yang baru saja dikirimkan oleh Ira. "Apa mungkin Ira tahu jika Queen diculik?" gumamnya.


"Barusan lo bilang apa?" tanya Vano kepada atasan sekaligus sahabatnya tersebut.


"Lihat ini!" Arvin menunjukkan pesan yang dikirim oleh Queen kepada Vano. "Tidak biasanya Ira mengirim pesan seperti ini."


"Coba lo hubungi Ira dan tanyakan apa maksud pesan yang ia kirim!" suruh Vano.


Arvin segera menghubungi nomor kekasihnya tersebut.


"Hallo Ira, apa maksud pesanmu barusan?" tanya Arvin begitu panggilannya tersambung.


"Maaf, apa ini Tuan Arvin?"


Arvin mengernyit, dia menatap nomor yang baru saja ia hubungi karena mengira ia salah panggil. Namun, setelah melihat nama yang tertera di layar teleponnya dia yakin dia menghubungi nomor yang benar.


"Ini siapa ya?" Arvin balik bertanya.


"Tuan. Saya Bik Marni, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Tuan Dion," jawab seorang wanita dari ujung sana.


"Bik, kenapa bukan Ira yang menjawab! Apa terjadi sesuatu padanya?" tanya Arvin.


"Tadi ada beberapa orang yang mengaku sebagai wartawan yang datang ke rumah untuk mewawancari Nona. Tapi, tidak apa alasannya setelah orang-orang itu menunjukkan sesuatu, Nona malah ikut mereka. Nona juga meninggalkan hpnya di atas meja," jelas Bik Marni.


"Apa Om Dion sudah mengetahui soal ini?" tanya Arvin lagi.


"Untuk sementara Bibik tidak usah memberitahu Om Dion. Aku akan berusaha membebaskan Ira secepatnya," ucap Arvin.


"Terima kasih, Tuan," ucap Bik Marni.


"Saya tutup teleponnya sekarang ya, Bi."


"Tunggu, Tuan! Tunggu!" cegah Bik Marni saat Arvin akan menutup teleponnya.


"Ada apa, Bi?"


"Itu Tuan, Pak Samsul mau berbicara," jawab Bik Marni.


"Silakan!" Meskipun tidak tahu siapa itu Pak Samsul, Arvin mempersilakannya untuk berbicara.


"Tuan Arvin, saya Samsul salah satu security yang bekerja di rumah Tuan Dion."


"Iya. Katakan ada apa!" suruh Arvin. Dia sudah tidak sabar untuk segera mencari keberadaan Ira dan adiknya.


"Tadi saat di pos pejagaan, Nona mengambil hp milik saya. Kemungkinan dia akan menghubungi Tuan untuk memberitahu keberadaannya nanti." Orang yang bernama Samsul memberitahu.


"Terima kasih, Pak atas informasinya. Semoga saja mereka tidak menyadari jika Ira membawa alat komunikasi Bapak," ucap Arvin.


"Maaf Tuan Arvin, apa saya harus memberitahu Pak Dion tentang kejadian ini?" tanya penjaga itu.


"Untuk sementara tidak perlu. Takutnya kalau banyak orang yang ikut mencari Ira, mereka akan curiga."


"Tapi bagaimana kalau Tuan Dion atau Nyonya Mika tiba-tiba menanyakan keberadaan Nona?"


"Begini saja, kalau dalam 4 jam aku belum bisa menemukan Ira baru kalian beritahu mereka," jawab Arvin.


"Baiklah, Tuan."


Arvin kemudian mengakhiri panggilannya.


"Bagaimana? Benar Queen diculik?" tanya Vano cemas.


"Kemungkinan iya dan kini mereka tidak hanya menculik Queen, tetapi Ira juga," jawab Arvin.


"Lho kok bisa?"


"Sebaiknya lo terus aktivin nomor telepon elo jangan sampai kehabisan daya atau apa pun karena menurut salah satu penjaga di rumah Ira. Tadi Ira sempat mengambil hp milik penjaga tersebut. Mudah-mudahan dia bisa menghubungi salah satu diantara kita," jawab Arvin.


"Semoga saja sifat lemot calis lo nggak kambuh disituasi genting seperti ini," ucap Vano. Selain mencemaskan keadaan Queen, pemuda itu juga takut jika calon istri dari sahabatnya itu akan bertindak ceroboh yang bisa membahayakan mereka berdua.