
Selesai makan, Arga masih asyik mengajak Ira untuk mengobrol. Asisten pribadi dari Arvin itu bahkan melupakan keberadaan Arvin.
"Kamu menggunakan ac murahan ya?" pertanyaan Arvin barusan membuat Arga dan Ira saling tatap. "Lihat saja, aku masih gerah berada di ruangan ini," lanjut Arvin. Dia seakan tidak perduli dengan tatapan tidak suka dari Arga.
Ira diam sambil mencoba meresapi keadaan udara di ruangan tersebut. "Bapak sakit?" tanya Ira. Dia menyentuh kening bosnya menggunakan punggung tangan.
"Siapa yang sakit sih," jawab Arvin sambil menyingkirkan tangan Ira dari keningnya.
"Tapi barusan, Pak Arvin bilang ruangan di sini gerah. Perasaan ruangan di sini dingin kok Pak. Malahan masih lebih dingin ruang ini daripada ruang kerja Bapak," ujar Ira. Perkataan Ira barusan sontak membuat Arvin melotot ke arah gadis ceroboh tersebut.
Arga yang mendengar perkataan Ira barusan sedikit menahan diri untuk tidak tertawa.
"Kenapa Pak Arvin melotot begitu? Kan yang aku ucapin barusan bener, Pak," ucap Ira polos.
"Kita ada rapat penting sekarang. Jadi, ayo sekarang kita pergi dari sini!" ajak Arvin sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi, Pak.... "
"Ada apa? Kamu masih mau di sini?" tanya Arvin.
"Memang boleh, Pak?" tanya Ira bersemangat.
"Tentu saja boleh. Kamu mau di sini seharian pun boleh."
"Wah, terima kasih Pak Arvin. Pak Arvin baik deh," ucap Ira dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Namun, senyum tersebut langsung menghilang saat mendengar perkataan Arvin berikutnya.
"Tapi, serahkan surat pengunduran dirimu sekarang juga. Kamu juga harus mengembalikan gaji yang ku kasih di awal sepuluh kali lipat," lanjut Arvin.
"Iya, Pak, iya. Aku ikut Bapak sekarang," ucap Ira. "Ga, makasih ya karena hari ini kamu udah ngasih aku makanan yang enak."
"Sama-sama, Ira. Aku senang kalau kamu menyukainya," jawab Arga.
"Cepat Ira atau kamu mau aku tinggal!" suruh Arvin yang sudah berada di ambang pintu.
"Ga, aku duluan ya. Senang bisa berkenalan denganmu semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ucap Ira kepada Arga.
"Cepetan!" seru Arvin lagi. Laki-laki perfectionis itu keluar dari ruangan tersebut.
"Bye, Arga." Ira segera berlari mengikuti langkah bosnya itu.
"Bye Ira, kita pasti akan bertemu lagi," lirih Arga. Dia tersenyum sambil menatap gadis pujaannya tersebut.
***
"Pak jangan cepat-cepat dong jalannya," protes Ira kepada bosnya ketika mereka sudah berada di luar restoran. Yang diprotes malah semakin mempercepat langkahnya.
"Dasar Pak Arvin brengsek, tidak tahu apa aku sudah ngos-ngosan mengikuti langkah dia," gumam Ira. Dengan sedikit berlari Ira berusaha menyusul langkah bosnya.
"Pak, memang hari ini kita ada rapat sama siapa sih?" tanya Ira. "Seingatku selain dengan Pak Tama, Bapak tidak ada janji sama orang lagi. Dan pertemuan dengan Pak Tama pun sudah ditunda besok pagi kan?"
"Memang tidak ada," jawab Arvin cuek.
"Apa?! Terus kenapa tadi Bapak bilang kita ada rapat penting?" tanya Ira lagi. Dia tidak mengerti apa maksud bosnya melakukan hal tersebut.
Arvin masuk ke dalam mobil yang disewanya tadi. Ira pun ikut masuk ke dalam mobil itu.
"Kamu pikir aku sopirmu. Buruan pindah ke depan seperti tadi!" suruh Arvin ketika Ira malah duduk di jok belakang.
"Iya, aku pindah." Ira turun dari mobil tersebut kemudian kembali naik dan duduk di kursi depan di samping Arvin.
"Pak Bapak belum jawab pertanyaanku."
"Pertanyaan yang mana?" jawab Arvin sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kenapa Bapak bilang kalau kita ada rapat mendadak padahal nggak ada?" tanya Ira. Arvin duduk dengan sedikit menyerong, dia menatap asisten pribadinya itu tanpa berkedip.
"Kenapa Bapak menatapku begitu? Jangan bilang kalau Pak Arvin jatuh cinta kepadaku dan Pak Arvin sengaja melakukan hal tadi karena Pak Arvin tidak suka melihatku bercanda dengan Arga," tebak Ira dengan pedenya. Arvin menjentikkan jari telunjuknya di kening asisten pribadinya itu.
"Aw, sakit tahu, Pak." Ira mengusap keningnya menggunakan telapak tangan kanannya
"Makanya bangun, jangan mimpi!" jawab Arvin.
"Siapa yang mimpi? Aku kan cuma tanya saja siapa tahu Pak Arvin beneran jatuh cinta sama aku."
Arvin menggeleng. "Surat kontrak kerja sama untuk Pak Tama sudah kamu buat belum?" tanya Arvin.
"Belum, Pak. Semalam kan mati lampu, jadi aku lupa buat," jawab Ira disertai cengiran kudanya.
"Maka dari itu, kamu harus pulang untuk menyelesaikannya."
"Padahal semalam bilangnya mau bantu buat itu, kenapa sekarang aku harus menyelesaikannya," gumam Ira .
"Barusan kamu bilang apa?" tanya Arvin sambil menatap tajam Ira.
"Tidak kok, Pak. Aku nggak ngomong apa-apa," jawab Ira.
"Benarkah?" kembali Arvin memicingkan matanya.
"Benar, Pak, benar. Sungguh. Aku cuma bilang kalau ayo kita pulang sekarang. Begitu, Pak," jawab Ira.
"Baguslah. Kalau begitu kita langsung pulang sekarang."
Arvin segera melajukan mobilnya untuk meninggalkan area parkir hotel.