
Aroma wangi makanan menyengat hidung Ira dan membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Gadis berambut panjang dengan perawakan mungil itu mulai bergerak menggeliatkan tubuhnya, mengambil telepon genggam yang ada di atas nakas yang ada di dekat ranjang tempat tidur. Mata Ira membulat saat melihat angka yang terpampang di layar benda tersebut.
"Astaga, sudah maghrib rupanya." Ira segera bangun dan menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.
"Eh, siapa yang masak ya? Sepertinya enak," gumam Ira. Namun, dia kembali ingat kalau dia belum melaksanakan sholat magrib.
"Sholat dulu deh masalah makanan entar aja." Ira lekas lari ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian melaksanakan ibadah wajib yang berjumlah tiga rokaat itu. Setelah selesai, dia melipat mukena yang baru dipakainya itu dan menyimpannya kembali ke dalam lemari. Ira segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ira tersenyum saat tahu orang yang sedang sibuk di tempat untuk mengolah masakan itu adalah Arvin.
"Baunya enak," ucap Ira ketika ia tiba di dapur.
"Sudah bangun?" Arvin menoleh ke arah kekasihnya yang baru saja datang tersebut.
"Kenapa tidak bangunin aku sih, Pak? Hampir saja aku telat menunaikan kewajibanku," protes Ira sambil duduk di salah satu kursi makan yang ada di dapur tersebut.
"Rencananya setelah masakanku matang, aku baru akan membangunkanmu," jawab Arvin.
Arvin meletakkan mangkuk berwarna bening berisi salad di hadapan kekasihnya itu.
"Sambil menunggu stiknya matang, kamu bisa makan itu dulu," ujar Arvin.
"Apa ini?"
"Memang kamu nggak bisa lihat sayang? Itu salad, namanya caprese tomat. Caprese tomat adalah hidangan khas negara Italia yang terbuat dari keju mozzarella, tomat, kemangi, dan minyak zaitun," jelas Arvin.
"Aku tidak begitu suka dengan sayuran, bolehkan aku nunggu stiknya matang aja," tawar Ira sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Kalai tidak dicoba, mana kamu tahu kamu suka atau enggak." Arvin mengambil salad yang ada di depan Ira dengan sendok dan menyuapkan ke mulut mungil kekasihnya tersebut.
"Tetap saja tidak enak. Aku nggak mau makan itu ah." Arvin hanya menggeleng melihat sang kekasih yang berubah sikapnya menjadi seperti anak kecil.
"Ya sudah, kalau kamu nggak mau. Kamu bisa tahan laparmu sampai stiknya matang."
Ira mulai memotong daging stik itu menjadi beberapa bagian kecil agar memudahkan dirinya mamaaikan stik tersebut.
"Gimana enak?"
"Lumayan," jawab Ira.
"Padahal aku sudah bersusah payah membuatkanmu masakan itu dan cuma dibilang lumayan," keluh Arvin sambil menhela napas. Dia berpura memasang wajah masam.
Ira tidak memperdulikan perkataan sang kekasih, dia kembali menikmati stik yang ada di hadapannnya.
"Ada apa?" tanya Arvin saat melihat Ira tiba-tiba berhenti makan dan menatap ke arahnya.
"Pak Arvin lupa ya? Pak Arvin-kan belum memberiku penjelasan soal perkataan Hana tadi."
Arvin menarik kursi kosong yang ada di depan Ira sedikit ke belakang. Kemudian dia duduk di kursi tersebut.
"Sebenarnya.... "
"Tunggu sebentar!" Ira meletakkan ujung jari telunjuknya di depan bibir Arvin. Pria dengan wajah tegas tersebut menatap ke arahnya bingung.
"Kita bicarakan ini setelah kita makan ya, Pak. Aku lapar. Aku nggak mau setelah mendengar penjelasan Pak Arvin nanti aku tiba-tiba marah dan putus sama Pak Arvin, terus aku nggak sempat menikmati makanan yang enak ini, kan sayang. Jadi, jelasinnya nanti aja ya, Pak!" Ira menaik turunkan alisnya kemudian kembali menikmati stik buatan kekasihnya lagi.
"Astagfirullah hal adzim, Ira. Masa kamu doain kita putus, padahal kamu belum dengar penjelasanku." Arvin mengusap dadanya sendiri.
Seolah tidak memperdulikan perkataan kekasihnya, Ira kembali menikmati stik buatan Arvin tersebut.
🌺🌺🌺
Habis isya aku up lagi ya, gaes. Jan lupa dibaca! Wkwkwkwk