Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Hana, calon tunangan Arvin



Wanita tersebut kemudian menoleh dan menatap ke arah Ira.


"Qilla?"


"Hana? darimana kamu tahu aku tinggal di sini?"


"Kamu tinggal sama Mas Arvin?" tanya Hana, dia menatap dua orang yang ada didepannya dengan tatapan tidak percaya.


"Kenapa dia pakai ke villa ini sih? Haduh, sial! Bisa runyam dunia percintaanku sama Ira," batin Arvin saat mengetahui yang datang ke villanya adalah Hana, wanita yang sebelumnya akan dijodohkan dengannya.


"Mas Arvin?" Ira mengulang perkataan Hana. Matanya menatap Hana yang berdiri di depannya dan Arvin yang berdiri tepat di sebelah kanannya.


"Iya, Mas Arvin. Dia cowok yang aku ceritain waktu itu ke kamu dan dia ini calon tunanganku."


"Apa?!" Ira terkejut mendengar pengakuan teman lamanya barusan. Dia masih tidak percaya, jika laki-laki yang dibicarakan oleh Hana waktu itu adalah kekasihnya.


"Eh, tunggu barusan kamu bilang ini tempat tinggalmu? Bukankah setahuku ini villa milik Mas Arya ya?"


Kembali Ira menatap kekasihnya meminta penjelasan dari pernyataan Hana barusan.


"Siapa yang memberimu alamat villa ini?" tanya Arvin tanpa ekspresi.


"Aku minta sama teman papa yang kebetulan jadi ralasimu di sini," jawab Hana. "Tapi, Mas, kenapa kamu bisa tinggal bersama dengan Ira?"


"Dia pa.... "


"Aku kebetulan bekerja sebagai asisten pribadinya," sela Ira sebelum Arvin selesai memberikan jawaban kepada Ira.


Arvin melihat ke arah Ira.


"Ouh begitu ya? Syukurlah, tadi aku sempat berpikiran macam-macam sama kalian." Hana bernapas lega.


"Han, aku masuk duluan ya. Siapa tahu ada hal yang penting yang ingin kalian bicarakan," ucap Ira kepada Hana. "Pak Arvin, aku izin ke kamarku dulu ya, Permisi!"


"Ira tunggu!" Arvin menahan lengan kanan kekasihmya.


"Mas, biarkan Ira istirahat sepertinya dia kecapekan." Hana melepaskan tangan Arvin yang menahan lengan Ira.


"Ira tunggu!"


"Mas Arvin, aku calon tunanganmu lho. Harusnya kamu lebih mengkhawatirkan perasaan aku ketimbang perasaan Qila. Aku tahu meski barusan Ira menjawab kalau dia hanya asisten pribadimu, sebenarnya hubungan kalian lebih dari itu kan?" ungkap Hana. "Aku bisa melihat itu dari sorot mata kalian."


Arvin melepaskan tangan Hana yang menahan lengannya. Dia menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.


"Dia memang kekasihku untuk apa aku menutupinya darimu."


"Apa maksudmu Mas? Aku ini calon tunangan kamu? Kenapa kamu tega berselingkuh dengan teman lamaku?"


"Berselingkuh? Kapan aku pernah setuju dengan perjodohan itu?"


"Tapi, mama bilang.... "


"Tanyakan itu kepada kedua orang tuamu." Setelah mengatakan hal tersebut Arvin segera masuk ke dalam villa untuk mengekar Ira.


"Apa apa maskud perkataan Mas Arvin? Bukankah aku memang calon tunangannya? Kenapa dia bicara seperti itu?" Hana masih tidak mengerti dengan perkataan Arvin barusan. Dengan hati yang hancur dia melangkah meninggalkan villa milik Arvin. Tadinya dia pikir hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan bagi hidupnya karena akhirnya dia bisa menemukan tempat tinggal sang calon tunangan di Jogja. Dia ingin memberikan kejutan sekaligus ingin merayakan keberhasilannya yang sudah melaksanakan ujian dengan baik.


***


"Ra, tolong keluar! Aku akan jelaskan sama kamu semuanya. Ira!" Arvin terus mengetuk pintu kamar kekasihnya. Dia tidak mau kekasihnya salah paham tentang Hana.


Tidak ada jawaban dari dalam.


"Ra, buka pintunya!" kembali Arvin mengetuk daun pintu yang ada di hadapannya.


Lagi-lagi tidak ada jawaban.


"Ira, memang benar tadinya orang tuaku sudah menjodohkan aku dengan Hana. Tapi demi kamu aku menolak perjodohan itu. Tetapi, orang tua Hana menyuruhku untuk berpura-pura menerima perjodohan itu setidaknya sampai ujian masuk itu selesai. Aku tahu, aku salah karena aku tidak menjelaskan hal itu saat kamu menunjukkan foto sahabat lamamu kepadaku. Tapi, waktu itu aku benar-benar bingung untuk menceritakan hal tersebut kepadamu. Aku tidak tahu harus memulai darimana. Ira, aku sungguh sangat mencintai kamu dan aku tidak mau kehilangan dirimu hanya gara-gara ini. Ra, ku mohon buka pintunya!"


Lagi-lagi tidak ada jawaban dari kekasihnya tersebut.


"Sepertinya dia benar-benar marah. Aku harus mencari kunci cadangan dan membuka kamarnya. Aku tidak mau gara-gara ini aku jadi putus sama dia. Iya, aku harua mencari kunci cadangan kamarnya.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Arvin untuk mendapatkna kunci cadangan kekasihnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Arvin segera memasukkan kunci cadangan di lubang kunci yang ada di daun pintu di depannya. Setelah memutar kunci tersebut dua kali, akhirnya dia berhasil membuka pintu kamar kekasihnya itu. Mata Arvin membulat melihat hal yang dilakukan kekasihnya itu. Dia bahkan mengedipkan matanya untuk memastikan jika memang dirinya tidak salah melihat.