Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Ternyata kamu di sini



"Sebenarnya apa sih yang dia bisa? Masa dia salah masukin garam ke dalam kopi. Benar-benar asisten payah." Arvin terus mengomel seorang diri setelah meminum kopi buatan Ira. Bagaimana dia tidak mengomel, kopi yang harusnya manis, malah menjadi asin gara-gara gadis itu salah memasukkan garam ke dalam kopi. Dan itu membuat Arvin terpaksa harus membuat kopi lagi.


Sudah hampir dua jam sejak Ira berpamitan untuk jalan-jalan di sekitar villa dan sampai sekarang gadis itu belum juga kembali.


"Kemana tuh cewek pergi," gumam Arvin sambil melihat ke arah jam yang tergantung di dinding ruang kerjanya.


"Apa dia nyasar ya?" Arvin mengambil ponselnya dari atas meja. Dia berniat menghubungi Ira untuk menanyakan keberadaannya. Tetapi, dia baru ingat kalau dirinya belum menyimpan nomor kontak yang baru dari asistennya tersebut.


"Sial! Kenapa tadi aku lupa tanya berapa nomor hape barunya." Terpaksa Arvin menaruh kembali ponsel yang baru saja dia pegang di atas meja. Dia ingat beberapa hari yang lalu asistennya itu bilang kalau dia mengganti nomor lamanya dengan nomor yang baru.


"Sudahlah. Lebih baik aku tunggu lagi saja, siapa tahu dia sebentar lagi kembali."


Arvin kembali memfokuskan pikirannya pada pekerjaan.


*


Saking asyiknya menikmati indahnya pantai, Ira sampai lupa waktu. Dia baru sadar kalau dia sudah keluar dari villa bosnya lebih dari 2 jam.


"Gawat! Pasti dia marah gara-gara aku kelamaan keluar villa," gumam Ira. Ira menengok ke sekelilingnya, dia baru menyadari kalau dia ternyata juga berjalan terlalu jauh dari villa.


"Lebih baik aku hubungi Pak Arvin dulu untuk meminta maaf." Ira mengambil ponsel dari dalam sakunya. "Tapi, aku kan belum menyimpan nomor ponselnya." Ira memasukkan kembali ponselnya itu ke dalam saku.


"Sudahlah. Lebih baik aku kembali sekarang, kalau dia marah tinggal dengerin saja. Bereskan." Akhrinya Ira memutuskan untuk kembali ke villa. Namun baru saja dia berbalik arah tiba-tiba sebuah bola voli mengenai kepalanya.


"Aw," ringis Ira.


"Maaf, Nona. Maaf." Seorang pria datang menghampiri Ira. Pria itu adalah orang yang baru saja melempar bola ke arahnya.


"Kalau ngelempar bola lihat-lihat dong," gerutu Ira sambil mengusap kepalanya.


"Iya Nona, sekali lagi saya minta maaf," ucap laki-laki itu.


"Nona," panggil pria itu, dia berdiri tepat dihadapan Ira.


"Ada apa lagi?"


Pria itu mengulurkan tangannya, kemudian memperkenalkan diri. "Namaku Arga."


Ira terdiam sambil menatap pria yang saat ini berdiri di depannya. Pria itu cukup tampan, kulitnya putih dengan tinggi sekitar 180 cm.


"Ira," jawab Ira kemudian. "Maaf ya, aku harus segera kembali ke villa. Permisi." Tanpa membalas uluran tangan dari Arga, Ira melanjutkan langkahnya kembali.


"Ternyata kamu di sini rupanya. Lihat saja, aku pasti akan bisa menaklukan hatimu, Aqilla," ucap pria itu sambil menatap kepergian Ira.


*


"Kenapa aku seperti pernah melihat wajah pria tadi ya? Tapi di mana?" batin Ira. Dia mencoba mengingat wajah pria yang baru saja mengajaknya berkenalan. "Sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja."


Ira menghentikan langkahnya ketika menyadari sesuatu. Ternyata di sekitar pantai itu tidak hanya ada satu villa saja. Tetapi, ada beberapa villa dengan cat dan model bangunan yang sama.


"Villanya Pak Arvin yang mana ya tadi?" tanya Ira dalam hati. Dia memperhatikan villa-villa yang ada di depannya.


"Sepertinya villanya Pak Arvin yang ini tadi. Eh, atau yang itu ya?" Ira berbicara sendiri.


"Yang itu." Seseorang dari belakang Ira menunjuk bangunan di sebelah kanan.


"Ah, iya, benar yang itu," ucap Ira, dia tersenyum karena akhirnya bisa menemukan villa bosnya. "Terima.... "


Ira tidak melanjutkan perkataannya, dia hanya menunjukkan cengiran kudanya saat tahu orang yang mengajaknya bicara barusan.