Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
menyiapkan hand phone



"Eh, apa yang sedang kalian lakukan sih?" protes Arvin yang baru saja keluar dari kamar. Ira dan penjaga villa itu mengedipkan matanya beberapa kali.


"Syukurlah Pak Arvin tidak kenapa-napa," ucap Ira sambil memeluk bosnya itu.


"Lho emang aku kenapa?" tanya Arvin bingung.


Ira melepaskan pelukannya dan menggengam tangan bosnya. "Pak, Bapak jangan khawatir aku dan Arga cuma berteman kok." Arvin semakin bingung mendengar perkataan asistennya.


"Aku janji, Pak. Aku akan berusaha mencintai Bapak meski saat ini aku belum jatuh cinta sama Bapak. Jadi aku mohon Bapak jangan bunuh diri ya," ucap Ira lagi.


"Lho siapa yang mau bunuh diri sih?" tanya Arvin dia menatap dua orang di depannya bergantian.


"Bukannya Bapak barusan mengurung diri di kamar karena mau bunuh diri?" kini giliran sang penjaga villa yang bertanya.


"Mengurung diri di kamar? Siapa? Aku?" tanya Arvin bingung.


"Pak, aku minta maaf kalau aku nggak peka sama perasaan Bapak. Tapi aku janji sama Bapak aku akan berusaha untuk mencintai Bapak. Jadi, plis, Bapak jangan bunuh diri ya!" kata Ira. Dia memegang tangan Arvin untuk memastikan bahwa tidak ada yang terluka dengan pergelangan tangan bosnya itu.


"Pak kok pergelangan tangan Pak Arvin nggak ada bekas sayatannya sih? Jangan-jangan Pak Arvin mau bunuh dirinya dengan cara gantung diri ya? Plis, Pak, jangan bunuh diri dengan cara seperti itu karena Bapak akan terlihat jelek," lanjut Ira.


"Maksudnya?"


"Pak, biasanya orang yang bunuh diri dengan cara digantung, matanya akan melotot, dan itu akan membuat wajah Bapak yang ganteng ini jadi kelihatan jelek. Jadi jangan lakukan itu ya, Pak."


"Ini apa-apaan sih siapa yang mau bunuh diri coba?" ucap Arvin sambil mengibaskan tangan Ira yang sedang memeriksa pergelangan tangannya.


"Jadi, Bapak nggak sedang berusaha bunuh diri?" tanya Ira untuk memastikan bahwa perkataan bosnya itu dapat dipercaya.


"Enggak. Ngapain aku bunuh diri?"


"Terus kenapa tadi Bapak nggak jawab waktu aku ketuk pintu kamar Bapak?"


"Kamu tadi mengetuk pintu kamarku?"


Ira mengangguk. "Iya, Pak. Karena gak ada jawaban dari Pak Arvin makanya ku kira Pak Arvin bunuh diri gara-gara aku gak peka sama perasaan Bapak."


"Tadi aku sedang ngobrol dengan sahabatku menggunakan headset makanya aku nggak denger waktu kamu ngetuk pintu kamarku," jelas Arvin. "Tunggu! Barusan kamu bilang kalau aku mau bunuh diri karena kamu nggak peka sama perasaan aku ke kamu?"


"Ira, Ira, memangnya hal apa yang membuatmu berpikir kalau aku jatuh cinta sama kamu?"


"Mana aku tahu, Pak. Bukankah cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata."


"Oke, aku setuju kalau kadang cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi, kalau dari perbuatan bisa dong."


Ira mengangguk karena setuju dengan perkataan bosnya barusan.


"Terus dari perbuatanku yang mana yang membuatmu menyimpulkan kalau aku jatuh cinta sama kamu?" tanya Arvin.


"Perbuatan yang... yang.... " Ira tidak melanjutkan perkataannya karena setelah ia pikirkan, tidak satu pun dari perbuatan bosnya yang menunjukan bahwa pria itu sudah jatuh cinta kepadanya. "Tidak ada sih," jawabnya kemudian.


"Lalu bagaimana kamu berpikiran kalau aku mau bunuh diri karena kamu?" tanya Arvin sambil menatap Ira.


"Maaf, Pak, aku kan hanya asal tebak."


"Maaf Neng, jadinya gimana? Ada yang bunuh diri enggak?" tanya laki-laki yang memiliki kumis seperti kumis milik suami dari penyanyi dangdut yang terkenal dengan goyang ngebornya.


"Nggak ada," jawab Arvin ketus.


"Yah... padahal saya sudah siapin hand phone buat ngerekam korban bunuh diri, siapa tahu lan jadi viral," keluh Bapak penjaga villa.


"Ya udah sana Bapak saja yang bunuh diri!" sahut Arvin.


"Hidup saya sudah sempurna, Pak, saya sudah punya anak dan istri. Meski nggak kaya, harta saya juga cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Jadi, nggak mungkinlah saya bunuh diri. Kan kalau kurang bisa ngutang duit di tukang kredit keliling," jawab Bapak penjaga villa yang langsung mendapat tatapan tajam dari Arvin.


"Maafin saya ya, Pak. Disini saya yang salah karena saya yang salah paham. Sekarang Bapak boleh pergi, terima kasih karena sudah bersedia ikut dengan saya," ucap Ira.


"Ya udah deh, Neng, saya kembali ke pos. Nanti kalau Bapak itu berubah pikiran mau bunuh diri, jangan lupa kabarin saya ya, Neng, saya akan pinjam hand phone yang lebih bagus buat ngerekam." Sekali lagi Arvin melotot ke arah bapak tersebut.


"Saya permisi ya, Neng, Pak." Bapak penjaga villa itu berpamitan.


"Lho kenapa masih di sini, Pak?" tanya Arvin saat penjaga villa itu belum beranjak dari tempatnya.


"Kan saya belum dikasih uang transport," jawab orang bapak tersebut. Arvin menepuk jidatnya sendiri melihat tingkah konyol dari Ira dan penjaga villa.