Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Gedung Kosong



Dengan mata tertutup Ira dibawa ke sebuah gedung yang tidak diketahui letaknya. Dia hanya ingat kalau dirinya melewati dua perlintasan rel kereta api. Dan sebelum masuk ke dalam gedung ini ia juga mendengar suara-suara seperti orang sedang mengerjakan pembangunan entah pembangunan gedung atau yang lainnya yang jelas dia sempat mendengar ada suara yang mengatakan kalau semennya kurang.


Begitu tiba sebuah di ruangan tertutup, kain yang digunakan untuk meutup mata Ira dilepaskan. Dan ternyata di dalam gedung itu masih ada beberapa penjahat lagi selain enam orang yang membawa Ira tadi.


"Dimana ini?" tanya Ira kepada orang-orang yang membawanya barusan.


"Kamu tidak perlu tahu dimana kita sekarang yang jelas kamu akan berada di sini sampai semua persiapan itu selesai," jawab salah satu dari mereka.


"Persiapan apa?" tanya Ira penasaran.


"Nanti kamu juga akan mengetahuinya."


"Baiklah, aku tidak akan bertanya apa pun soal itu. Tapi, sekarang katakan padaku dimana Queen? Aku ingin melihat keadaannya!" suruh Ira.


"Kamu tidak perlu khawatir, gadis itu akan selalu dalam keadaan baik jika kamu tidak membuat ulah dan menuruti perintah kami," jawab orang itu lagi.


"Selama aku tidak melihatnya jangan harap aku akan menuruti permintaan kalian!" ancam Ira. Bagaimanapun caranya, ia harus mengetahui keadaan Queen sekarang.


"Berani kamu mengancam kami!" salah satu dari mereka terlihat emosi dan mencengkeram rahang Ira dengan tangannya.


"Jack, jangan sampai gadis itu terluka. Jika gadis itu terluka, orang itu tidak akan membayar kita," salah satu dari penjahat tersebut mengingatkan Jack.


Dengan kasar orang yang dipanggil Jack itu melepaskan cengkeramannya.


"Pertemukan aku dengan Queen atau aku akan terus membuat ulah." Sekali lagi Ira berusaha untuk menggertak mereka. Ir berusaha untuk tidak terlihat takut dengan semua penjahat yang ada di hadapannya. Padahal di dalam hati, dia sudah takut setengah mati. Apalagi kejadian ini mengingatkannya pada kejadian saat ia diculik waktu kecil.


"Black, bawa gadis tadi kesini!" suruh Jack kepada penjahat yang lainnya.


"Baik."


"Jika setelah gadis itu kubawa kesini kamu masih membuat ulah, akan ku robek mulutmu!" ancam Jack. Dari enam orang yang membawa Ira tadi sepertinya orang yang dipanggil Jack inilah yang paling temperamen dan sulit mengendalikan diri. Dia juga terlihat paling ditakuti oleh penjahat yang lainnya.


"Ini cewek tadi," ujar penjahat yang dipanggil Black sambil membawa Queen.


"Queen," panggil Ira.


"Kak Ira," jawab Queen.


"Sekarang kamu sudah lihat dia, kan? Jadi jangan buat masalah lagi!" suruh Jack. "Bawa dia kembali ke tempat tadi!"


"Baik."


"Tunggu!" Ira mencoba menghentikan mereka. "T-tolong, biarkan dia disini bersamaku!" pinta Ira, dia tidak mau mereka membawa Queen lagi.


"Aku... aku janji, aku tidak akan membuat ulah! Aku mohon!" pinta Ira sekali lagi.


Penjahat yang bernama Jack itu menatap Ira. "Memang apa yang bisa dilakukan oleh dua orang wanita lemah," tambah Ira. Dia berharap orang-orang itu mau memenuhi keinginannya.


"Bagaimana Jack?" tanya Black.


Jack tampak berpikir, dia menatap Ira dan Queen bergantian. "Baiklah biarkan mereka bersama, tapi ingat kalian tidak boleh membiarkannya lepas dari sini."


"Oke."


Orang-orang itu membiarkan Queen dan Ira berada dalam satu ruangan. Mereka semua kemudian keluar dari ruangan tersebut dan berjaga di depan pintu.


"Syukurlah, mereka akhirnya membiarkan kita bareng." Ira sedikit lega bisa bersama dengan calon adik iparnya tersebut.


"Kak. Sebenarnya siapa orang-orang itu? Kenapa mereka menculik kita?" tanya Queen kepada Ira


"Kakak bawa ponsel?"


"Hust! Diam! Jangan sampai mereka mendengar kita," jawab Ira dengan suara yang nyaris tidak bisa didengar.


"Sebenarnya kenapa mereka menculik kita, Kak?" tanya Queen.


"Entahlah, Kakak juga tidak tahu," jawab Ira. "Kamu segera ambil ponsel di pingganggu, cepat! Aku tidak bisa mengambilnya karena tanganku diikat kebelakang saat di mobil tadi."


Queen segera melakukan hal yang disuruh oleh kakak iparnya tersebut. Dia mengambil ponsel yang terselip di pinggang Ira dengan cara berdiri membelakangi calon kakak iparnya itu karena dia sendiri pun sama dalam keadaan tangan terikat di belakang.


"Apa kata sandi untuk membuka layar ponsel ini?" tanya Queen begitu ia berhasil mengambil ponsel tersebut.


"Aku tidak sempat tanya tadi karena takut ketahuan," jawab Ira.


"Terus kita harus bagaimana sekarang?"


"Sebentar." Ira mencoba mengingat sesuatu yang kemungkinan dijadikan kata sandi oleh penjaga di rumahnya.


"Coba kamu tekan angka 14082017, itu tanggal lahir anaknya, mungkin saja dia pakai itu sebagai sandi!" suruh Ira.


"Kakak kok bisa ingat tanggal lahir anak dari orang yang bekerja di rumah Kakak sih?"


"Aku pernah ke pesta ulang tahun anak itu sekali, karena waktu itu dia sempat mengerjaiku makanya aku terus mengingat tanggal lahirnya," jawab Ira. "Cepet teken!"


"Sebentar, Kak." Queen kemudian menekan angka yang disebutkan oleh Ira tadi dan ternyata mereka berhasil membuka pengaman dari layar ponsel itu.


"Berhasil, Kak," ujar Queen senang.


"Sekarang telepon Kakakmu!" suruh Ira.


Queen mengingat nomor telepon kakaknya setelah itu, ia kembali menekan beberapa angka yang tertera di layar tersebut.


"Angkat, Kak! Cepat angkat!" gumam Queen dan Ira. Sayangnya di layar itu tertulis kalau nomor kakaknya masih dalam panggilan lain.


"Kak Arvin gimana sih, nggak tahu apa kalau kita sedang dalam bahaya sekarang," keluh Queen.


"Kamu coba hubungi nomor Vano!"


Queen pun segera memencet nomor telepon Vano, namun hasilnya juga sama nomor itu tidak bisa dihubungi karena dalam panggilan lain. "Kenapa mereka bisa kompak di situasi seperti ini sih?"


"Sudah, jangan mengeluh. Sekarang kamu share lokasi kita ke nomor kakakmu dan Vano semoga saja saat mereka membuka pesan itu mereka bisa langsung menerka jika itu dari kita!" suruh Ira lagi.


"Baik, Kak." Kembali Queen melakukan hal yang diperintahkan oleh calon kakak iparnya itu. Buru-buru Queen segera menyembunyikan ponsel itu dibawah bokongnya karena beberapa orang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.


"Ini makanan kalian. Bos menyuruh kalian untuk makan!" orang itu memberikan dua piring berisi makanan kepada Ira dan Queen.


"Cepat makan!" suruh mereka.


"Iya, nanti kami makan," jawab Ira.


"Sudahlah, kita tinggalkan saja mereka. Nanti juga pasti mereka makan," ucap salah satunya.


"Iya kamu benar."


Kadua penjahat itu pun kemudian berjalan ke arah pintu. Namun, kedua penjahat itu langsung menghentikan langkahnya saat mendengar bunyi dering ponsel.


Gleg. Queen dan Ira menelan ludahnya dengan bersusah payah. Bisa-bisanya mereka lupa mengubah ponsel itu dalam mode silent.