Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Insiden yang kembali terulang.



"Beneranlah, aku ini pacarnya Pak Arvin, ya meski awalnya asisten pribadinya sih," tambah Ira.


"Benarkah?" mata gadis itu tampak berbinar mendengar pengakuan Ira.


"Tentu saja benar. Makanya kamu nggak boleh peluk-peluk Pak Arvin sembarangan, apalagi di depanku," jawab Ira. Dia menyingkar tangan gadis yang memeluk tubuh pacarnya itu.


"Tapi aku.... "


"Sudah ya jauhkan tanganmu dari pacarku." Lagi-lagi Ira memotong ucapan gadis itu.


"Kak, aku nggak mau ya punya calon kakak ipar kayak dia." Tunjuk gadis itu kepada Ira.


"Kakak ipar?" gumam Ira. Dia masih tidak menyangka kalau gadis yang sudah membuatnya cemburu itu ternyata adalah adik dari Arvin.


"Kenalkan aku Queen adik dari Arvin Narendra." Gadis itu memperkenalkan dirinya kepada Ira.


Mengetahui gadis itu ternyata adalah adiknya Arvin, membuat Ira ingin menenggelamkan dirinya di dasar laut.


"Bodoh kamu Ira, kenapa sih persoalan di laut tadi tidak membuatmu belajar," rutuk Ira pada dirinya sendiri.


"Aku Ira, pacarnya Pak Arvin." Meski malu Ira tetap memperkenalkan diri.


"Kak, jadi kamu menolak jodoh yang ditawarkan ayah karena cewek ini?" Gadis bernama Queen itu menatap Ira dari atas hingga ke bawah.


"Nggak juga. Awalnya aku malah nggak kepikiran bakalan dapat pacar disini," jawab Arvin.


"Kak Ira, sudah berapa lama jadi pacarnya Kak Arvin?" Queen ganti bertanya kepada pacar dari kakaknya tersebut.


"Baru dua hari," jawab Ira sambil menatap ke arah Arvin.


"Pantesan masih over possesif sama Kak Arvin, ntar kalau udah tahu sifatnya Kak Arvin pasti bakalan nyesel sudah nerima dia jadi pacar."


"Eh, ngomong apa kamu barusan? Nggak ada ya cewek yang pacaran sama kakakmu ini nyesel. Yang ada iya, mereka nyesel karena udah berselingkuh dan ujung-ujungnya minta balik lagi," jawab Arvin. "Ih, amit-amit sama cewek kayak gitu."


"Itu sih cuma Kak Nadin aja yang begitu. Bukyinya pacar Kakak yang lain nggak ada tuh yang nyesel udah putus sama Kakak, mereka justru bersyukur karena akhirnya bisa lepas dari Mr. Perfect kayak Kakak," Queen masih bersikukuh dengan pendapatannya.


"Udah-udah, ngapain jadi ngebahas mantan. Btw kamu kesini sama siapa?" tanya Arvin kepada adiknya itu.


"Suruh masuk dulu kek, aku kan haus, Kak," protes Queen.


"Ya udah ayo masuk!" ajak Arvin. Ketiganya langsung masuk kedalam villa.


"Kak, aku haus, bikinin minum dong!" pinta Queen kepada Ira.


Ira menatap Arvin untuk meminta izin membuatkan adiknya itu minuman, setelah mendapat anggukan dari Arvin, Ira pun menuju ke dapur untuk mengambil minuman bagi adik dari pacarnya tersebut.


"Jangan lupa gulanya satu sendok saja ya, Kak," tambah Queen.


"Sekarang katakan sama siapa kamu kesini? Nggak mungkin kan, kamu tiba-tiba kesini seorang diri?" tanya Arvin to the point.


"Aku ke sini diantar Kak Vano."


"Terus mana Vanonya?"


"Lagi beliin aku eskrim," jawab Queen.


"Ish. Dasar ya kamu ini nggak pernah berubah suka memerintah orang sembarangan, ingat Vano itu bukan asistenmu, jadi jangan nyuruh dia yang enggak-enggak."


"Siapa yang sewot? Aku tuh nyuruh Vano deket sama kamu buat ngajarin kamu soal bisnis, bukan malah kamu suruh buat beliin sekrim."


"Nggak apa-apa, Ar. Lagian sekalian kok tadi aku mau beli camilan juga," sahut seseorang dari arah pintu.


"Dasar bucin!" ucap Arvin kepada Vano.


"Barusan Kak Arvin bilang apa? Bucin? Siapa yang bucin?"


Vano melotot ke arah Arvin.


"Nggak ada, itu penjaga di depan sana, dia bucin sama pembantu sebelah," jawab Arvin asal.


"Ini tehnya." Ira meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.


"Kak boleh minta es batu, nggak?" tanya Queen yang seoalah sengaja ingin mengerjai Ira.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau mintanya es teh," gumam Ira.


Arvin menahan tangan kekasihnya. "Ambil sendiri sana! Dia ini pacarku ya, bukan pembantu." Ira begitu berbunga mendapat pembelaan dari sang kekasih. Namun, semuanya mendadak sirna setelah mendengar ucapan Arvin berikutnya.


"Hanya aku yang boleh menyuruhnya, karena aku yang udah gaji dia. Kecuali kalau kamu ngasih dia gaji tambahan boleh deh kamu suruh-suruh dia."


"Kak, jangan masukin ke hati ucapan Kak Arvin barusan. Kadang otaknya memang agak konslet. Maklum dulu di otaknya isinya cuma kerjaan-kerjaan dan kerjaan." Tiba-tiba Queen berbisik di telinga Ira.


Sebenarnya Queen sangat senang melihat kakaknya sudah mulai bisa bercanda lagi. Sudah hampir setahun kakaknya itu tidak pernah mau bercanda. Dia hanya fokus dengan pekerjaan dan pekerjaan.


Ira merasa senang karena ternyata adiknya Arvin tidak sejahat seperti yang ada dipikirannya tadi.


"Kak Vano eskrimnya taruh saja di kulkas, malam ini aku mau nginep di sini. Besok baru aku kembali ke rombongan," ucap Queen kepada Vano.


"Oke." Vano segera berjalan ke arah dapur dan meletakkan es krim yang dibelinya di sana. Setelah itu dia kembali ke ruang tamu bergabung dengan yang lainnya.


"Kak aku minum ya tehnya."


Ira menjawabnya dengan anggukan.


"Ra, emang kamu sudah membeli gula?" tanya Arvin.


"Kenapa, Pak?"


"Perasaan pagi tadi gulanya habis deh."


"Tapi, buktinya itu masih ada."


"Tapi, tadi pagi waktu aku mau bikin kopi gula yang ada di wadah warna hijau itu sudah habis. Terus kamu ngambil gula di mana?"


"Di wadah warna merah, di sana masih ada gulanya kok, Pak, dikit."


Arvin membulatkan matanya, dia ingat kalau wadah berwarna merah itu berisi micin.


"Queen jangan minum.... "


Belum selesai Arvin berbicara adiknya itu sudah meminum tah buatan Ira. Dia menyemburkan minumannya tepat di wajah sang kakak.


"Queeeeennn!"