Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Iraaaaa!!!



"Maafkan saya, Pak. Saya janji nggak akan ceroboh lagi!" Ira kembali mengucapkan permintaan maafnya kepada Arvin.


Arvin yang duduk di sebelahnya hanya diam tidak menanggapi. Setelah drama lupa memesan taksi online barusan, Arvin memilih memesan taksi sendiri dari pada menyuruh asistennya itu. Tiga menit setelah pemesanan taksi pun datang, Arvin sudah masuk terlebih dulu ke dalam taksi dan diikuti oleh Ira. Selama perjalanan Arvin memilih diam dan tidak memperdulikan ocehan asistennya tersebut.


Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di villa yang dimaksud. Sebuah villa sederhana yang ada di sekitar kawasan pantai. Arvin turun terlebih dari dalam taksi.


"Ini tempat tinggal kita di sini, Pak?" tanya Ira kepada bosnya.


"Kamu bawa koperku ke dalam!" suruh Arvin, dia tidak memperdulikan pertanyaan dari Ira.


Setelah sopir taksi mengeluarkan bawaan Arvin dari dalam bagasi, sesuai perintah Arvin, Ira segera membawanya masuk ke dalam villa di depannya.


Arvin langsung membuka villa itu dengan kunci yang dibawanya. Tidak ada sambutan atau apa pun ketika mereka tiba sana.


"Pak di mana pengurus villa ini?" tanya Ira ketika tidak mendapati satu orang pun di dalamnya.


"Mereka belum datang atau sudah pulang mungkin."


"Maksudnya?"


"Mereka hanya datang untuk membersihkan tempat ini kemudian pulang," jelas Arvin.


"Ouh begitu."


Begitu pintu terbuka keduanya langsung masuk ke dalam villa tersebut.


"Itu kamarmu!" Arvin menunjukkan kamar yang ada di lantai satu sebagai kamar untuk asistennya tersebut. "Kamarku ada di lantai dua, jadi bawa koperku ke sana!"


"Aku lagi, Pak?"


"Tentu saja, memangnya siapa lagi kalau bukan kamu? Kan kamu asistenku."


Ira sedikit menghentakkan kakinya karena kesal. Setelah menaruh tas bawaannya sendiri ke kamar, Ira membawa koper milik Arvin ke kamarnya yang ada di lantai dua.


"Apa sekarang aku sudah boleh istirahat, Pak?" tanya Ira begitu selesai membawakan koper milik bosnya itu ke lantai dua.


"Kalau begitu saya permisi ya, Pak," pamit Ira.


"Hmm," jawab Arvin tanpa menoleh. "Tunggu sebentar, Ira!"


Ira yang baru sampai diambang pintu kembali menoleh. "Ada apa, Pak?"


"Sebelum beristirahat, kamu tolong buatkan aku kopi!" suruh Arvin yang lagi-lagi masih fokus dengan laptop di depannya.


"Baik, Pak." Ira pun segera menuju ke dapur yang kebetulan letaknya berada di dekat kamarnya.


Ira segera mengambil cangkir dari dalam rak dan menaruhnya di atas meja dapur. Setelah itu kembali dia mencari wadah kopi dan gula. Setelah menemukan benda yang dimaksud, dia segera mengambil satu sendok kopi dan menuangkannya ke dalam cangkir yang dia ambil tadi. Setelah itu dia mengambil wadah berisi serbuk putih yang diyakini sebagai gula dan menambahkannya pada kopi. Setelah itu dia segera menyeduhnya dengan air panas dari dalam termos. Setelah mengaduk kopi tersebut, Ira pun segera memberikannya kepada Arvin.


"Ini, Pak, kopinya. Kopi hitam kan?" Ira menaruh kopi yang dia buat di atas meja.


"Terima kasih," ucap Arvin.


"Ohya, Pak. Apa saya boleh berjalan-jalan di sekitar sini?" Ira mencoba meminta izin kepada bosnya tersebut. Dia merasa akan sangat membosankan jika harinya hanya dihabiskan di dalam villa.


"Kamu yakin nggak akan tersesat?" Arvin menatap Ira penuh tanya.


"Kenapa Bapak bertanya seperti itu?"


"Tidak, hanya memastikan saja. Takutnya kamu tersesat dan tidak tahu jalan untuk kembali ke villa ini," jawab Arvin.


"Tenang saja, Pak. Aku kan cuma jalan di sekitar tempat ini aja, jadi gak bakalan tersesat deh," jawab Ira percaya diri.


"Kalau begitu baiklah, kamu boleh pergi. Tapi, ingat kamu harus kembali sebelum jam 2 siang!"


"Terima kasih, Pak Arvin," ucap Ira. Dengan senang hati dia segera keluar dari ruang kerja bosnya itu.


"Semoga saja dia beneran nggak akan tersesat," gumam Arvin setelah melihat Ira yang sudah meninggalkan villa. Arvin mengambil kopi buatan asistennya tersebut, dia segera meneguknya untuk sedikit menghilangkan rasa kantuk yang dirasakannya. Tetapi, saat air masuk ke tenggorokan, Arvin segera menyemburkannya.


"Iraaaaaaa." Teriaka Arvin.