
Keesokan harinya, Arvin membawa ayah dan bundanya ke rumah calon mertua. Meskipun dia merasa kalau dirinya dan Ira tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas, tetapi ultimatum Sang Calon Mertua membuatnya mau tidak mau harus melamar Ira secepatnya agar pernikahan mereka segera digelar.
Semua keluarga besar Ira sudah berkumpul di ruang tamu. Ruangan yang di dominasi warna putih dengan nuansa Eropa nan klasik itu terlihat lebih ramai dari biasanya.
Arvin menelan ludahnya dengan bersusah payah ketika hampir pandangan seluruh anggota keluarga Ira menatap ke arahnya membuat Arvin seolah merasa terintimidasi.
"Kapan kamu akan menikahi cucuku?" suara barito Rangga Wijaya yang menggema di ruang tamu membuat Arvin gugup.
"Se-secepatnya."
"Secepatnya itu kapan?"
Gleg. Arvin menelan ludahnya, bukan dia tidak mau menikahi Ira secepatnya. Dia ingin bahkan sangat ingin menikahi gadis pujaannya itu sekrang juga, apalagi tak dapat dipungkiri hasrat kelaki-lakiannya sering muncul secara tiba-tiba ketika ia berduaan dengan kekasihnya tersebut. Akan tetapi dia juga tidak ingin mengesampingkan cita-cita Sang Kekasih yang ingin menjadi dokter sebelum menikah.
"Jawab pertanyaanku dengan jelas!" suruh Rangga dengan tatapan mengintimidasi.
"Mas, jangan galak-galak begitu! Kamu menakutinya!" bisik Bintang yang duduk di sebelah Rangga.
"Sayang memang aku menakutkan?"
"Hais. Masih tanya lagi. Sikap Mas barusan tidak hanya membuat calon cucu menantu kita ketakukan, tapi lihatlah anak dan menantumu juga ikut ketakutan." Bintang menunjuk anak dan menantunya yang duduk di depan mereka. Tama, Dion, Mikha, Keenan, dan Anindhira terlihat menunduk. Jika di luar rumah mereka ditakuti dan disegani para pegawainya, tetapi di dalam rumah sikap dominan Rangga mampu membuat nyali mereka menciut.
"Oma benar, Opa. Opa jangan galak-galak ingat umur!" sahut Qilla.
"Qilla!" tegur Mikha dan Dion bersamaan.
"Iya, Sayang. Opa tidak akan galak dengan calon suamimu," jawab Rangga sambil mengusap rambut cucu perempuannya.
"Sekarang jawab pertanyaanku tadi, kapan kamu siap menikah dengan cucu kesayanganku?" kali ini Rangga bertanya dengan nada yang lumayan lebih lembut dari sebelumnya.
"Kalau Ira bersedia, sekarang pun aku bisa menikahinya," jawab Arvin tegas.
"Ira, bagaimana? Kapan kamu mau dipersunting oleh kekasihmu?" kini pandangan Rangga beralih ke arah cucu perempuannya.
Ira menatap Arvi demikian juga sebaliknya seolah sedang saling bertanya satu dengan yang lainnya.
"Kalau Opa, Oma, dan yang lainnya mengharapkan kami cepat menikah. Aku juga bersedia jika harus menikah dengan Pak Arvin sekarang." Ira menjawab pertanyaan kakeknya dengan jujur.
"Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan pernikahan kalian akan diadakan dua minggu lagi. Setidaknya saat kamu harus kembali kuliah, kamu sudah menyandang status sebagai istri. Bagaimana Pak Alvin dan Ibu Nayla, kalian tidak keberatankan?"
"Tentu saja kami tidak keberatan Pak Rangga. Justru kami senang karena akan segera berbesan dengan Keluarga Wijaya dan Keluarga Sebastian," jawab Alvin.
Setelah pembahasan pernikahan itu disetujui oleh kedua belah pihak, acara pun dilanjutkan dengan makan malam.
"Kenapa? Tidak suka karena kita akan segera menikah?" tanya Arvin. Dia berjalan mendekati Sang Kekasasih yang sedang berdiri di teras rumah.
"Tidak, bukan itu. Aku bahagia karena kita akan segera menikah. Tapi.... "
"Tapi kenapa?" tanya Arvin sambil menatap mata Ira.
"Kamu tidak akan menikah lagi kan seandaianya aku tidak bisa memiliki anak?"
"Kenapa kamu berpikir sampai sejauh itu?"
"Jawab saja pertanyaanku!"
Arvin menatap lurus ke depan. "Tujuan orang menikah selain karena untuk menyatukan cinta pasti juga ingin karena memiliki keturunan bukan?"
"Jadi, kamu bakalan nikah lagi seandaianya aku nggak bisa memberimu keturunan?"
"Tidak begitu juga Sayang."
"Terus apa maksudnya jawaban Pak Arvin barusan?" tanya Ira kesal. "Ternyata benar ya bagi laki-laki seorang istri saja tidak cukup. Jangankan karena istri tidak bisa memberikan keturunan, istri baik saja masih bisa jelalatan. Kalau begitu lebih baik kita tidak usah nikah saja, aku akan bilang sama keluarga kita kalau kita tidak jadi menikah," ujar Ira panjang lebar tanpa memberi kesempatan Arvin untuk berbicara.
"Hei Sayang, aku tidak begitu." Arvin meraih tangan kekasihnya. "Maksudku bukankah anak yang dimaksud nggak harus anak yang lahir dari rahimmu. Kita bisa... "
"Apa?! Jadi Pak Arvin mau sewa rahim pengganti gitu? Nggak, aku nggak mau. Ntar kayak cerita di novel-novel suami jadi jatuh cinta sama si wanita pemilik rahim sewaan," potong Ira.
Arvin memukul kening Ira dengan jari telunjuknya. "Nggak gitu juga konsep, Sayang."
"Terus?"
"Maksudku kita bisa adopsi anak dari panti asuhan."
"Begitu ya? Syukur deh, ku kira Pak Arvin bakalan cari istri lagi atau sewa rahim pengganti."
Arvin hanya bisa menggeleng. "Tapi Sayang, bagaimana kamu bisa berpikiran sejauh itu padahal kita nikah saja belum?"
"Jaga-jaga dong Pak. Soalnya di novel yang aku baca, biasanya cowok bakalan nikah lagi kalau istrinya nggak bisa ngasih keturunan."
'Tuk!'
Satu sentilan kembali mendarat di kening Ira. "Itu nggak akan terjadi sama kita, Sayang," ucap Arvin. Mereka kemudian menautkan jemari mereka sambil melihat bintang.