Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Tidak tahan



Hari itu Arvin dan Ira mengunjungi beberapa spot wisata di Jogja. Ini memang bukan kali pertama mereka melakukan hal tersebut. Hampir semua objek wisata di Kota Gudeg itu pernah mereka kunjungi, kecuali ke satu tempat yaitu alun-alun. Arvin tidak ingin mendatangi tempat tersebut hanya karena Ira pernah ke mencoba berjalan diantara dua pohon beringin itu bersama Arga.


Tak dapat dipungkiri, Arvin masih menyimpan perasaan cemburu terhadap pria yang pernah melalui masa kecil dengan tunangannya tersebut. Meski Ira tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Arga, tetapi berbeda dengan Arga, pria itu masih menyimpan perasaan cintanya terhadap Ira, meski itu tidak pernah terucap secara langsung dari bibirnya. Namun, Arvin bisa melihat rasa cinta itu dari sorot mata Arga saat menatap tunangannya.


"Kenapa sih Pak Arvin nggak pernah mau kalau diajak jalan ke alun-alun? Padahal di sana seru lho, Pak. Apalagi permainan yang berjalan melewati pohon dua beringin kembar itu."


"Enggak ya, nggak. Aku nggak suka ke tempat itu. Tempat itu terlalu membosankan," jawab Arvin dengan nada kesal.


"Jangan-jangan Pak Arvin cemburu lagi gara-gara aku dan Arga pernah main di sana," tuduh Ira.


Arvin diam. Dia tidak menyangkal ataupun mengiyakan.


"Beneran Pak Arvin cemburu?" Ira kembali memastikan.


"Nggak juga. Ngapain aku cemburu untuk hal yang nggak penting," sangkal Arvin.


"Baguslah kalau bukan karena itu alasannya. Soalnya kekanak-kanankan sekali kalau Pak Arvin sampai cemburu gegara hal itu," ucap Ira. "Terus kenapa Pak Arvin nggak suka ke sana?"


"Kurang nyaman aja kalau kita pacaran disana. Terlalu banyak orang, jadi kurang privat," jawab Arvin sekenanya.


"Memang kalau kita lagi pacaran kita ngapain, Pak, pakai harus privat segala. Bukankah biasanya cuma nonton, jalan-jalan sebentar terus makan. Masa gitu aja harus cari tempat yang gak banyak orang." Ira mencebik.


"Apapun alasannya pokoknya aku nggak suka ke alun-alun. Apalagi yang apa itu? Jalan diantara dua pohon beringin kembar, sampai kapan pun aku nggak akan melakukannya." Kukuh Arvin.


"Pak, aku kan nggak nyuruh Bapak buat ngelakuin hal itu. Aku cuma bilang, kalau permainan itu seru."


"Sudah ah, pokoknya aku nggak mau bahas segala hal yang ada hubungannya dengan alun-alun, apalagi bahas si Arga."


"Tuh kan Pak Arvin cemburu sama Arga," tuduh Ira.


Tiba-tiba Arvin menepikan mobilnya.


"Ada apa, Pak? Kok berhenti?" tanya Ira.


"Iya."


Ira menatap kekasihnya bingung saat Arvin mengatakan kata itu.


"Iya?" Ira mengulang perkataan Arvin. "Maksudnya iya itu apa?"


Arvin mendengkus. "Dasar. Kenapa gitu aja kamu nggak ngerti sih."


"Jadi beneran Pak Arvin nggak mau ke alun-alun karena aku dan Arga pernah ke sana?"


"Enggak nyangka aja, kalau ternyata Pak Arvin bisa cemburu karena hal sepele. Tapi, Pak Arvin tenang saja, aku suka kok kalau Pak Arvin cemburu. Itu artinya Pak Arvin beneran cinta sama aku," ucap Ira sumringah.


"Kalau aku nggak beneran cinta sama kamu, ngapain aku bela-belain nyamperin kamu ke sini? Ngapain juga aku mau nungguin kamu lulus kuliah agar aku bisa nikah sama kamu. Padahal kalau aku mau, aku bisa menikah dengan cewek mana pun."


"Iya, Pak, aku tahu kalau Bapak benar-benar cinta sama aku. Aku juga cinta kok sama Bapak. Dan satu lagi, Bapak nggak usah cemburu sama Arga. Jika Bapak merasa Arga memiliki perasaan sama aku, itu urusan dia. Karena sampai kapan pun, hanya Pak Arvin satu-satunya laki-laki yang aku cintai." Kali ini terlihat ketegasan di mata Ira.


Dua pasang mata itu saling tatap dan saling mengunci. Ira memejamkan matanya saat Arvin memangkas jarak wajah keduanya. Ira mengira Arvin akan mencium bibirnya, tetapi nyatanya pria itu hanya mencium kening Ira sebentar.


"Ra."


"Hm."


"Aku takut."


Ira membuka matanya. "Bapak takut apa? Takut ada begal karena kita berenti di pinggir jalan yang sepi ini? Bapak jangan khawatir, jalan ini aman kok."


"Bukan itu."


"Lalu?"


"Aku takut tidak bisa menahannya lagi."


"Kalau Bapak nggak bisa tahan, ya jangan ditahan dong Pak! Rasanya nggak enak Pak kalau nahan sesuatu."


"Memang boleh aku melakukan itu sekarang?"


"Tentu saja, tidak ada yang berhak melarang Bapak untuk melakukan itu."


"Tapi, aku ingin melakukannya saat kita sudah menjadi pasangan halal."


Ira mengernyit. "Kenapa harus menunggu halal, Pak? Kalau Bapak mau, Bapak bisa melakukan itu sekarang kok."


"Tidak. Aku akan tetap melakukannya setelah kita halal," jawab Arvin lagi.


"Pak, tidak jauh dari sini. Ada SPBU, kita bisa berenti di sana sebentar. Jadi, Bapak bisa melakukan itu di sana."


"Melakukannya di sana?" kini justru Arvin yang terlihat bingung.


"Iya. Bapak sudah tidak tahan mau pup-kan?"


Arvin menepuk keningnya sendiri, dia baru sadar ternyata mereka memiliki perspektif masing-masing dengan kata tidak tahan.