Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Pulpen Ajaib



"Seperti yang kamu lihat, aku membeli semua harum manis dan berondong yang ada di pasar malam ini," jawab Arvin dengan bangganya.


"Tapi, buat apa harum manis dan berondong sebanyak itu?" tanya Ira lagi.


"Tentu saja untuk kamu, Sayang. Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu meminta si Arga buat beliin cowok itu bakalan beliin semuanya buat kamu. Jadi, sebelum dia yang membelikan semua jajanan ini buat kamu ya aku beli duluan lah," jawab Arvin.


"Astaga, Pak Arvin Sayang. Itu hanya perumpaan, aku nggak bermaksud meminta Bapak untuk membeli semua itu."


"Terus ini buat apa dong?" tanya Arvin sambil menunjukkan semua harum manis dan berondong yang ia bawa. Ia bahkan sampai menyuruh semua penjual harum manis dan berondong yang ada di sana untuk membantunya membawa ke tempat Ira.


"Ibu, aku mau itu?"


Beberapa anak kecil merengek kepada orang tua mereka untuk dibelikan jajanan yang biasanya hanya ada di pasar malam itu.


"Gimana kalau kita bagikan itu semua buat anak-anak yang ada di sini?" Ira memberikan usulannya.


Arvin menatap semua harum manis dan berondong yang baru dibelinya itu. Dia kemudian mengangguk dan menyuruh para penjual tersebut memberikan jajanan tersebut kepada anak-anak yang ada di sana.


Arvin hanya membawa satu wadah harum manis dan berindong untuk diserahkan kepada Ira . "Ini buat kamu," ujar Arvin sambil menyerahkan jajanan di tangannya kepada sang kekasih.


"Terima kasih," ucap Ira, dia menerima dengan senang hati harum manis dan berondong dari tangan kekasihnya itu.


"Bagaimana kalau kita makan ini bareng-bareng?" tanya Ira.


"Tidak mau, aku tidak suka jajanan manis," tolak Arvin.


"Benar tidak mau?"


"Tidak."


Ira membuka plastik harum manis tersebut lalu menikmatinya. "Benaran nih kamu nggak mau?" tanya Ira sekali lagi.


"Tidak." Arvin masih menjawab dengan jawaban yang sama.


"Ya sudah kalau begitu aku nikmati sendiri," ujar Ira. Dia mulai memakan harum manis tersebut.


Arvin tersenyum menatap sang kekasih yang sedang menukmati harum manis di tangannya. Ternyata kebahagian Ira berbeda dengan wanita yang Arvin kenal selama ini. Ira bisa sangat bahagia hanya dengan sesuatu yang sangat sederhana.


"Kamu memang cewek yang unik Ira, kamu selalu bisa membuatku jatuh cinta dengan semua kelakuan konyolmu. Semakin hari aku semakin mencintaimu dan rasanya aku sudah tidak sabar untuk segera mempersuntingmu sebagai istri," puji Arvin dalam hati.


***


Hari pernikahan Ira dan Arvin beserta Queen dan Vano akhirnya tiba. Acara pernikahan mereka rencanya akan diselenggarakan di salah satu hotel terbesar yang ada di Jakarta. Bahkan sehari sebelum hari H semua keluarga besar baik itu dari pihak Keluarga Narendra dan Keluarga Wijaya sudah berada di hotel tersebut.


Satu jam menjelang prosesi akad, Arvin masih berjalan mondar-mondir di kamarnya karena gugup. Dia takut kalau dirinya akan salah saat melafalkan kalimat qabul nanti.


"Ar, bisa diam nggak sih? Kepalaku pusing lihat kamu mondar-mandir dari tadi," tegur Vano yang juga berada di ruangan yang sama dengan Arvin.


Arvin duduk di sebelah Vano. "Van, emang kamu nggak ngerasin gugup sepertiku?"


"Ya gugup lah. Tapi, nggak harus mondar-mandir kayak gitu juga," jawab Vano.


"Andai saja ada sesuatu yang bisa bikin aku sedikit tenang," gumam Arvin.


"Ini." Vano memberikan sesuatu kepada Arvin.


"Ini kan.... "


Vano mengangguk. "Itu pulpen pemberianmu dulu," potong Vano.


Iya, sesuatu yang diberikan oleh Vano kepada Arvin adalah sebuah pulpen. Pulpen itu adalah pulpen yang diberikan Arvin saat Vano berulang tahun.


"Kamu masih menyimpan pulpen ini?"


"Tentu saja. Pulpen itu adalah hadiah pertama dari sahabatku, jadi aku selalu menyimpannya. Kamu tahu? Aku selalu membawa pulpen itu bersamaku karena dengan membawa pulpen itu, aku jadi merasa tidak sendiri. Aku merasa kamu selalu bersamaku dan menemaniku. Bahkan saat aku melamar di perusahaanmu dulu aku juga membawa pulpen ini," jawab Vano. Dia menceritakan hal-hal yang ia habiskan bersama pulpen tersebut.


Vano dan Arvin sudah bersahabat sejak kecil. Pertemuan mereka terjadi di sebuah panti asuhan. Vano sudah tinggal di panti asuhan sejak kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah insiden kecelakaan, saat dia berumur 5 tahun. Keduanya berkenalan saat Nayla yang merupakan donatur di panti asuhan itu membawa Arvin ikut serta bersamanya. Sejak saat itu keduanya menjadi sahabat karib. Bahkan saking akrabnya, Nayla menyekolahkan mereka di sekolah yang sama dari SD hingga SMA, keduanya terpaksa berpisah ketika Arvin melanjutkan studinya di luar negeri dan dipertemukan kembali saat Arvin dipercaya untuk mengurus salah satu perusahaan milik ayahnya.


"Tidak ku sangka orang yang dulu sering bermain dan berantem denganku sekarang akan menjadi adik iparku," ucap Arvin. "Oh iya, seandainya aku cewek atau sebaliknya kamu yang cewek apa kita bisa menjadi pasangan kekasih ya."


"Ck. Pingin muntah aku membayangkan hal itu." Vano mencebik.


"Hahahaha, gitu aja pingin muntah. Cih. Tapi, iya juga sih," balas Arvin.


Keduanya kemudian tertawa bersama. "Thanks ya, berkat ini aku jadi agak gugup," ucap Arvin sambil menunjukkan pulpen di tangannya.


"Sama-sama."


Seorang pelayan datang ke kamar itu dan memberi tahu Arvin dan Vano untuk segera keluar dari sana karena prosesi akad nikah akan segera dimulai.