
Ira dan Arvin sama-sama membuka matanya tanpa melakukan gerakan apa pun, keduanya hanya terdiam sambil menatap satu dengan yang lainnya. Padahal sudah dari tadi keduanya sudah tidak sabar ingin mencecap manisnya bibir mereka masing-masing. Namun, ketika tinggal satu sentimeter lagi, keduanya malah mengurungkan niatnya.
"Pak, kita kecepetan nggak sih?" tanya Ira sambil tetap menatap bos yang sekarang beralih menjadi pacarnya.
"Iya, sepertinya kita kecepetan," jawab Arvin yang setuju dengan pendapat Ira barusan.
"Bagaimana kalau ciumannya kita tunda?"
"Aku juga berpikir begitu. Sebaiknya kita mulai hubungan kita ini dari awal lagi," jawab Arvin.
"Bapak, benar. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Selama seminggu ini kita jalani status baru kita ini dengan baik. Bapak harus memperlakukanku sebagai pacar, bukan sebagai asisten apalagi bawahan Bapak yang selalu Bapak bentak-bentak karena aku tidak suka," protes Ira.
"Perasaan aku nggak pernah membentakmu. Malahan kamu yang selalu bikin aku kesel." Arvin membela diri.
"Benarkah?"
"Tentu saja benar. Coba kamu ingat-ingat sudah berapa kali kamu membuat kesalahan kepadaku! Pertama waktu aku nyuruh kamu bikin kopi, kamu malah masukin garam ke kopiku itu. Kedua waktu kamu bikin ulah bawa penjaga villa ke viila karena kamu ngira aku mau bunuh diri. Dan ketiga waktu kamu pamit mau jalan-jalan sebentar, ternyata hampir tiga jam kamu ngilang tanpa kabar. Apa semua itu bakan kesalahan?" Arvin menyebutkan satu per satu kesalahan yang Ira lakukan.
Ira memikirkan semua perkataan Arvin barusan. "Iya sih, Pak. Tapikan aku ngelakuin hal itu nggak sengaja." Kembali Ira berusaha membela diri.
"Sudahlah, kita nggak usah bahas kejadian yang sudah-sudah. Pokoknya mulai sekarang ketika kita hendak melakukan sesuatu, kita harus mempertimbangkan perasaan pasangan kita. Ingat! Jangan ada dusta diantara kita," ucap Arvin yang sengaja mendramatisir perkataannya.
"Baik, aku setuju. Selain itu kita juga harus sepakat untuk selalu mendukung pasangan kita yang ingin maju," tambah Ira. "Pokoknya kita harus melakukan apa pun demi membantu pasangan kita untuk maju." Ira mengatakannya dengan berapi-api.
"Aku setuju jika kita harus mendukung pasangan kita yang ingin maju. Tapi, aku agak ambigu dengan kata membantu. Maksudnya membantu, membantu dalam hal apa?" tanya Arvin yang ingin minta kejelasan kata membantu dari kekasihnya itu.
"Masa gitu aja Bapak nggak paham sih, aku jadi sanksi kalau Bapak udah lulus kuliah."
"Aku punya ijazahnya lho, aku bisa tunjukin ijazahku itu kepadamu."
"Kenapa kita jadi bahas ijazah sih, Pak."
"Kan kamu yang lebih dulu bahas itu," ujar Arvun nggak mau kalah.
"Ya udah deh kali ini aku ngasalah biar cepet."
"Ada gitu ya yang ngaku salah cuma gara-gara biar cepat, kan emang kamu salah Ira."
"Iya, deh, iya. Sekarang jelaskan apa maksud dari kata membantu-mu tadi!"
"Maksud aku Pak Arvin harus mau membantuku mencari materi agar aku bisa menghadapi ujian masuk universitas itu."
"Iya, aku akan membantumu mencarikan materi yang kamu butuhkan."
"Nah, gitu dong, Pak dari tadi. Kan kalau Bapak jawab gitu dari tadi kita nggak perlu bahas ijazah segala."
Arvin hanya bisa menggeleng melihat tingkah pacar barunya yang kadang-kadang absurd.
"Ya udah sekarang kita jadinya mau kemana?"
"Pulang saja, Pak. Nanti kita delivery aja buat makan malam kita." Kali ini Arvin setuju dengan Ira. Dia pun segera menjalankan mobil tersebut untuk menuju villa.
***
Begitu sampai di villa, Ira dan Arvin masuk ke kamar masing-masing.
Senyum Arvin terus mengembang karena akhirnya dia bisa memiliki pacar lagi. "Kenapa aku jadi kayak abg yang baru jatuh cinta? Nggak, aku harus tetap terlihat berwibawa di hadapan Ira. Biar aku nggak kalah keren sama aktor korea favoritnya itu. Iya, aku harus tetap terlihat cool." Arvin berdiri di depan cermin sambil mencoba memasang ekspresi coolnya agar terlihat mirip Lee Min Hoo atau aktor korea yang pernah menjadi suami dari aktris ternama Song Hye Kyo, Song Jong Ki. Entah sejak kapan Arvin mulai mencari tahu tentang aktor dan aktris Korea yang disukai oleh pacarnya itu.
"Aku tidak boleh kalah dari kalian," ujar Arvin sambil menunjuk foto kedua artis itu di galeri ponselnya.
Sementara di kamar yang berbeda hal yang hampit serupa juga dilakukan oleh Ira. Gadis itu terus tersenyum sambil memegangi bibirnya. Meski mereka tidak jadi berciuman secara nyata, tetapi setidaknya bibir mereka pernah bersentuhan meski sebentar.
Sesekali Ira melompat kegirangan membayangkan hal itu. "Tidak. Aku harus bersikap dewasa sekarang. Aku nggak boleh kalah dari mantan kekasih Pak Arvin." Ira pun berdiri di depan kaca sambil berekspresi menjadi wanita dewasa.
Malam itu sepasang kekasih yang baru jadian tersebut sama-sama tidak bisa tidur.
Pagi ini, Ira dan Arvin memutuskan untuk menikmati indahnya matahari terbit di tepi pantai. Keduanya duduk diatas pasir sambil terus bergandengan tangan. Dunia seakan milik berdua kala mereka menghabiskan waktu bersama. Namun, hal tak terduga justru terjadi. Ada seorang wanita yang datang menghampiri mereka dan mengatakan kalau dirinya hamil.
"Mas aku hamil," ucap wanita muda yang saat ini berdiri didepan Arvin dan Ira. Sontak hal tersebut membuat keduanya terkejut.
🌻🌻🌻
Nah, lho siapa ya kira-kira wanita itu?😌