
Beberapa hari kemudian akhirnya Ira sudah bisa mengirimkan dokumen yang diperlukan untuk mengikuti ujian seleksi masuk pada salah satu universitas di kota Gudeg tersebut. Ira bisa mengirimkan semua dokumen yang diperlukan setelah sang paman mengirimkan ijazah dan hal lain yang diperlukan untuk mendaftar.
Hampir setiap hari Arvin menemani kekasihnya itu belajar. Dan hari ini tibalah saatnya Ira membuktikan bahwa dia bisa mengerjakan semua soal ujian dengan baik.
Pagi ini, Ira terpaksa datang ke tempat ujian tanpa diantar oleh sang kekasih karena hari ini tiba-tiba saja Arvin ada pekerjaan mendadak. Dia bahkan tidak sempat berpamintan dengan Ira secara langsung dan hanya meninggalkan sebuah catatan kecil yang ditempelkan pada pintu kulkas.
"Hah. Kenapa saat ujian begini Pak Arvin harus ada pekerjaan mendadak sih, padahal aku berharap dia bisa menemaniku ke tempat ujian," keluh Ira. Gadis itu merasa tidak bersemangat untuk mengikuti ujian yang akan diselenggarakan hari ini.
Ira memasukkan alat-alat tulis kedalam tas slempang miliknya. "Rasanya malas sekali harus ke tempat ujian sendiri," kembali Ira mengeluh. Semenjak menjadi kekasih Arvin, Ira jadi tidak terbiasa melakukan apapun sendiri. Dan baru kali ini ia harus melakukan segalanya sendiri.
Helaan napas kembali keluar dari mulut mungil Ira, kakinya terasa berat untuk diajak untuk meninggalkan villa. Senyum Ira mengembang kala mendapat notif pesan dari sang kekasih. Semangatnya kembali muncul setelah membaca isi pesan dari Arvin barusan.
"Pokoknya aku harus berhasil mengerjakan soal ujian ini dengan baik. Harus! Ayo semangat Ira kamu pasti bisa!" Ira memotivasi dirinya sendiri. Dengan semangat yang sudah kembali seratus persen, Ira melenggangkan kakinya meninggalkan villa. Senyum tidak pernah lepas dari bibir Ira kala gadia itu mengingat pesan yang Arvin kirimkan. Padahal pesan itu hanya sebuah foto pernikahan aktor dan artis Korea kesukaan Ira yang diedit Arvin menjadi foto mereka berdua.
"Aku harus bisa mengerjakan soal itu dengan baik agar hal yang ada difoto ini segera terjadi," ucap Ira sambil terus menatap foto editan tersebut.
Ira ke tempat ujian dengan mengendarai taksi yang ia pesan via online. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Ira mengkhayalkan dirinya memakai baju pengantin tersebut dan beridri di atas pelaminan yang megah bersama dengan Arvin.
"Aku sangat bahagia karena akhirnya kita bisa menikah," ucap Arvin sambil menarik pinggang Ira mendekat kearahnya.
"Aku juga sangat bahagia, Pak. Akhirnya aku resmi menjadi istri Pak Arvin," jawab Ira dengan wajah merona.
"Kamu cantik sekali Ira-ku."
"Bapak juga tampan melebihi tampannya Soong Jong Ki."
"Ira."
"Pak."
"Bolehkah aku menciummu?"
Dengan wajah merah Ira menganggukkan kepalanya. Dia segera memejamkan matanya saat wajah Arvin mulai mendekat kearahnya
Namun, tiba-tiba....
Brakk!
Suara bamper mobil yang saling bersinggungan membuyarkan khayalan Ira.
"Pak sopir kalau jalan hati-hati dong. Gara-gara Bapak nih, Pak Arvinku jadi hilang," protes Ira kepada sopir taksi tersebut.
Sopir dari pengandara mobil yang menabarak taksi itu turun dan meminta pertanggung jawaban. Sementara sang sopir taksi juga meminta pertanggung jawaban kepada wanita hamil yang tiba-tiba menghalangi jalannya itu.
Kedua sopir saling ribut meminta pertanggung jawaban sementara sang wanita hamil megap-megap karena perutnya sakit akibat mau melahirkan.
"Stop!" Ira melerai keributan tersebut. "Aku tidak tahu berapa yang harus dibayar untuk memperbaiki bamper mobil yang penyok. Tapi, ini aku punya uang cash dua juta. Satu juta buat Bapak, satu juta lagi Buat Pak sopir taksi." Ira membagi uang miliknya kepadabkedua sopir yang bersitegang tadi.
"Dan Ibu, kenapa ibu tiba-tiba berhenti tengah jalan? Untunf saja rem mobil Bapak ini pakem coba kalau enggak, Ibu dan anak ibu bisa mati," omel Ira kepada ibu hamil tersebut.
"Ini, Neng, dari tadi perut saya sakit. Tapi, tidak ada yang mau menolong saya terpaksa saya melakukan ini agar ada orang yang membantu mengantar saya ke rumah sakit," jawab Ibu hamil tersebut.
"Ya udah deh, Pak. Kita antar ibu ini ke rumah sakit dulu, nanti setelah itu baru kita ke tempat ujian. Bapak ke bengkelnya nanti setelah mengantar saya ke tempat ujian," ucap Ira kepada sopir taksi itu dan dengan terpaksa sopir taksi itu menuruti perkataan Ira.
Ira dan sopir taksi itu memapah ibu hamil tersebut masuk ke dalam taksi.
"Bu, memang suaminya kemana? Kenapa ibunya mau melahirkan nggak.ditemani?"
"Saya nggak ada suami," jawab Ibu itu.
"Astaghfirullah, ibu hamil diluar nikah?"
Ibu itu langsung menoyor Ira. "Sembarangan saja!"
"Kan barusan ibu bilang kalau ibu nggak ada suami."
"Maksud saya suami saya nggak ada di rumah, dia sedang merantau mencari nafkah," jawab Ibu itu nyolot.
"Bu, nanti ibu bayar sendiri ya biaya ongkos taksi dan rumah sakitnya. Aku sudah nggak ada uang lagi, Bu," ucap Ira. Seketika ibu hamil itu kembali berakting lemah.
"Aduh sakit. Sakit," ucap ibu itu yang pura-pura tidak mendengar perkataan Ira.
"Giliran suruh bayar aja, pura-pura kesakitan. Tadi pas noyor kepalaku tenaganya kuat banget," gumam Ira. "Tenang, Bu. Aku akan bayar semuanya." Ira melihat kearah jam tangannya, jadwal ujian tinggal tiga puluh menit lagi. "Kalau gini aku bisa terlambat ke tempat ujian."
Akhirnya taksi itu pun tiba dihalaman rumah sakit, sopir taksi langsung turun dan memanggil petugas IGD. Ira turun sebentar untuk menuju ke ruang administrasi. Dia ingat kalau dia masih membawa kartu kredit milik Arvin. Ira menggunakan itu untuk membayar biaya persalinan ibu tersebut. Setelah selesau membayar, Ira kembali naik ke taksi tadi.
"Ayo, Pak, jalan!" suruh Ira. Taksi itu kembali melaju ke tujuan awal mereka.
"Semoga masih kekejar," Ira berdoa dalam hati.