
"Eh, barusan Ira manggil aku sayang, kan?" Arvin bergumam. Dia mencoba mengingat percakapannya dengan sang calon istri beberapa detik yang lalu. Sudut bibir Arvin tertarik ke atas mengingat panggilan sayang yang diucapkan oleh Ira barusan. Ini pertama kalinya sang calon istri memanggilnya dengan sebutan sayang.
Kembali Arvin menghubungi nomor kekasihnya. Sayangnya kali ini panggilannya tersebut tidak langsung dijawab.
"Kemana dia? Baru juga tutup telepon kenapa sekarang malah enggak diangkat?" Arvin menatap layar hp di tangannya.
"Sudahlah, mungkin dia sudah menemukan hal yang bisa mengusir kebosanannya." Akhiirnya Arvin memutuskan untuk kembali fokus dengan pekerjaannya.
***
Setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Arvin, Ira langsung turun ke lantai satu saat pegawai rumahnya memberitahu jika ada beberapa wartawan yang datang untuk melakukan wawancara. Apalagi saat itu tidak ada anggota keluarga lain selain dirinya yang ada di rumah.
"Maaf mau wawancara soal apa ya?" tanya Ira kepada para wartawan yang ada di hadapannya.
"Kami hanya ingin mengkonfirmasi tentang artikel yang tersebar di dunia maya mengenai calon suami Anda," jawab salah satu dari mereka.
"Artikel? Artikel apa?" Ira mengernyit bingung.
"Artikel tentang calon suami Anda Pak Arvin dengan mantan kekasihnya, Nadin," jawab salah satu dari pencari berita tersebut.
"Ouh, artikel yang sudah lama lewat itu? Memang apa yang mau ditanyakan tentang artikel itu?"
"Kami hanya ingin meminta pendapat Anda tentang kebenaran artikel itu," jawab pencari berita tadi.
"Maaf, bukannya saya tidak mau menjawab. Tapi, semua berita yang tertulis di artikel itu tidak benar. Jadi, untuk apa saya tanggapi," ujar Ira.
"Sepertinya Anda sangat mempercayai calon suami Anda Nona Qilla. Bagaimana kalau ternyata yang tertulis di artikel tersebut semuanya benar? Apa Anda masih akan melanjutkan rencana pernikahan Anda dengan Pak Arvin?" tanya salah satu dari pewarta yang ada dihadapan Ira.
"Maksud Anda apa ya? Aku sudah bilang kalau artikel itu tidak benar, semua isinya adalah hoax dan kami bisa lho menuntut penulis yang sudah merillis artikel itu kepada polisi. Apalagi artikel itu dirillis tanpa konfirmasi dan persetujuan oleh pihak yang bersangkutan." Ira yang biasanya terlihat masa bodoh dan cuek, kali ini bersikap sedikit berani. "Maaf, saya tidak ada waktu untuk meladeni hal-hal yang menurut saya tidak penting. Permisi."
"Tapi, Nona Sebastian, saya memikiki rekaman video tentang malam kejadian yang ada di artikel itu."
Ira yang hendak melangkahkan kakinya menuju tangga, langsung berhenti. Dia kembali berbalik sambil mengernyitkan alis.
"Iya, Nona," jawab salah satu dari mereka.
"Bisa saya melihat video itu?" tanya Ira.
Orang-orang yang mengaku sebagai pencari berita saling tatap. Salah satu dari mereka kemudian melangkah maju dan berdiri tepat di hadapan Ira. "Silakan Anda lihat, Nona!" suruhnya sambil menunjukkan video kepada Ira.
Mata Ira membulat, tangannya bergetar karena shock. "Siapa sebenarnya kalian? Aku yakin kalian bukanlah wartawan?" tanya Ira.
"Anda tidak perlu tahu siapa kami. Kami cuma disuruh untuk membawa Anda untuk meninggalkan rumah ini. Jika Anda melawan, maka Anda akan tahu akibatnya," jawab salah satu dari mereka sambil menyeringai.
"Baiklah, aku akan ikut kalian," jawab Ira.
"Maaf, tapi Anda dilarang membawa ponsel Anda!" salah satu dari mereka kembali memperingatkan.
Ira meletakkan ponsel miliknya di atas meja. Dia kemudian berjalan mengikuti orang-orang yang datang ke rumahnya itu.
"Non, Qilla. Nona mau kemana?" tanya seorang pelayan yang datang dengan minuman dan makanan kecil di tangan.
"Aku ada urusan sebentar, Bi sama mereka."
"Tapi, Non, Tuan dan Nyonya bilang Anda tidak boleh keluar dari rumah sampai Anda menikah," jawab pelayan itu lagi.
"Bi, plis. Aku cuma pergi sebentar kok. Bibi nggak usah bilang sama mami dan daddy. Bibi jangan khawatir, aku akan cepat kembali," ucap Ira.
"Tapi, Non.... "
Ira tidak mendengarkan perkataan pembantunya. Dia kemudian ikut pergi bersama orang-orang yang mengaku sebagai wartawan tadi.
🍂🍂🍂
Nb: Gaes, besok aku up lagi. Terima kasih.