
Pagi itu seluruh anggota Keluarga Ira dan Arvin sudah bersiap berangkat ke lokasi resepsi kedua yang sesuai rencana akan dilaksanakan di puncak Bogor. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil masing-masing.
Perjalan menuju puncak biasanya hanya ditempuh selama kurang lebih 2 jam. Di sepanjang perjalanan Ira terus saja mengoceh tanpa henti. Dia selalu takjub dengan apa pun yang ia lihat.
"Sayang, biasanya kamu hidup di jaman apa? Masa hal begini saja sudah bikin kamu sebegitu takjupnya?" tanya Arvin kepada istri tercintanya.
"Aku hidup di era digital, yang apa pun serba hp, makanya melihat hal seperti ini adalah pemandangan langka buatku. Apa lagi Mommy dan Daddy sibuk dengan pekerjaannya," jawab Ira. "Pemandangan sekitar yang sering aku lihat pun cuma gedung-gedung bertingkat. Makanya pas tinggal dengan Bapak di pantai waktu sebenarnya aku sangat senang," tambah Ira dengan senyum yang terus merekah di bibir mungilnya.
Cup. Tiba-tiba Arvin mengecup bibir tipis istrinya.
"Kenapa Bapak tiba-tiba menciumku seperti itu?" protes Ira, bukannya menjawab Arvin justru kembali mencium bibirnya.
"Ih, jangan begini! Ada supir," tegur Ira sedikit berbisik.
"Salah sendiri kenapa masih memanggilku Bapak. Aku sudah bilang kan setiap kali kamu memanggilku dengan sebutan Bapak, maka saat itu juga aku akan mencium bibirmu," jawab Arvin.
Ira baru ingat dengan aturan baru yang dibuat oleh suaminya di malam pernikahan.
"Itu namanya Bapak mengam.... "
Lagi-lagi belum sempat Ira menyelesaikan kalimatnya, Arvin sudah kembali melahap bibirnya.
"Ih, malu, ada supir," bisik Ira sambil mendorong tubuh suaminya dengan pelan.
"Tenang saja, supir kita nggak akan nengok ke belakang kok," jawab Arvin. "Iya, kan, Pak?"
Sang Supir hanya mengacungkan jari jempolnya sebagai jawaban.
"Tuh lihat kan. Kalau kita mau, kita juga bisa kok ngelakuin itu di sini," ujar Arvin sambil menaik turunkan alisnya.
"Jangan aneh-aneh deh, Mas!"
"Itu gak aneh, Sayang," goda Arvin dan langsung mendapat cubitan dari Ira.
"Iya-iya, Sayang. Bercanda," ucap Arvin sambil menahan tangan Sang Istri agar tak lagi mencubitnya.
Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya semua rombongan tiba di puncak Bogor. Mereka semua turun dari mobil dan masuk ke dalam kamar masing-masing yang ada di dalam villa.
"Baru juga dua jam perjalanan udah capek saja. Ingat, Sayang! Lusa kita harus berada diatas pelaminan lagi." Arvin duduk di tepi kasur.
"Iya, tahu. Membayangkan itu rasanya udah capek sekali," keluh Ira.
Arvin menarik kedua kaki istrinya dan menaruhnya di oangkuan. Dia mulai memijit kaki istrinya tersebut dengan lembut.
"Begini enakan?" tanya Arvin.
"Lumayan, aku jadi tidak capek lagi," jawab Ira sambil memejamkan matanya menikmati pijitan lembut Sang Suami.
"Tapi, ingat lho Sayang ini tidak gratis." Mendengar perkataan Arvin barusan, Ira langsung membuka matanya dan menatap Arvin.
"Maksudnya tidak gratis apa?" tanya Ira.
"Ya kamu harus bayar, masa gitu aja nggak tahu," jawab Arvin.
"Cih, dengan istri saja perhitungan." Ira mencebik. "Memang aku harus membayar berapa?"
"Aku tidak minta bayaran dengan uang, Sayang. Uangku kan banyak, bahkan dipakai tujuh turunan pun nggak akan habis," jawab Arvin dengan segala kenarsisannya.
Ira bangun dari posisinya dan menatap Arvin. "Terus? Aku harus bayar pakai apa?" tanyanya.
Bukannya menjawab, Arvin malah mendekatkan wajahnya ke wajah Sang istri. Sambil menarik pinggang Ira, ia mendaratkan kecupan di bibir berwarna pink tersebut.
Suasana di kamar itu semakin panas ketika sepasang suami istri itu sudah diselimuti kabut gairah. Sayangnya kegiatan itu harus terhenti ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamar mereka dan menyuruh mereka untuk segera turun dan bergabung dengan keluarga besar.
"Bayarannya nanti aja ya," ucap Ira sambil mendorong tubuh suaminya menjauh, dia merapikan bajunya yang sudah berantakan karena ulah Arvin barusan.
"Sayang, bagaimana nasib ini?" tanya Arvin sambil menunjuk bagian tubuhnya yang sudah menegang.
Ira hanya mengedikkan bahu. Dia tersenyum kemudian keluar dari kamarnya.
"Nasib-nasib, kamu yang sabar ya," gumam Arvin.