
Sebelum para penjahat itu membawa Ira pergi lebih jauh lagi, Ira berusaha memikirkan.cara untuk bisa melarikan diri dari mereka. Saat itu yang terpikirkan olehnya hanya satu, memberi pukulan kepada Jo dan kabur dari sana. Ira yakin beberapa rekan Jo yang lain sedang sibuk dengan persiapan untuk meninggalkan tempat itu. Dan secara kebetulan ada botol minuman keras yang berada tidak jauh dari jangkauan Ira. Botol itu adalah botol yang dibawa Jo untuk menemaninya menjaga Ira agar tidak kabur.
"Bisakah kamu mengikat tanganku ke depan saja. Kalau begini, aku akan kesulitan untuk makan," pinta Ira. Dia ingin agar ikatan tangannya diubah dari yang awalnya kedua tangan Ira diikat di belakang, bisa dirubah dengan mengikat kedua tangannya di depan.
Jo menatapnya.
"Kalau tidak bisa ya sudah tidak apa-apa. Aku hanya tidak biasa makan dengan disuapi, itulah sebabnya sejak tadi aku tidak mau makan," dusta Ira. Ia berharap Jo akan percaya dengan perkataannya.
"Baiklah. Sebelum meninggalkan tempat ini kamu bisa makan lebih dulu. Aku nggak mau bos marah karena tahu kamu tidak makan sejak tadi pagi," ujar Jo.
"Terima kasih," ucap Ira.
Jo jongkok di belakang Ira untuk melepaskan ikatan tangan wanita itu untuk mengganti dengan mengikat tangan Ira ke posisi depan. Pada saat itulah Ira segera meraih botol minuman dan memukul kepala Jo menggunakan botol tersebut hingga membuat Jo jatuh tidak sadarkan diri dengan kepala yang mengeluarkan darah.
Dengan tubuh yang bergetar, Ira membuang botol yang sudah pecah di tangannya. Dia segera melepaskan ikatan di kakinya. Ira berlari ke arah jendela dan berniat memecahkan jendela tersebut, namun niat ia urungkan karena pasti akan menarik perhatian penjahat yang lainnya. Dengan mengendap-endap perlahan Ira membuka pintu. Ia menengok ke sisi kiri dan kanan, setelah memastikan tidak ada siapa pun di luar, ia pun segera berlari meninggal tempat tersebut. Sayangnya aksinya kemudian diketahui oleh penjahat yang lainnya.
Ira terus berlari untuk menghindari kejaran mereka. Dan akhirnya dia berhasil menemukan tempat untuk bersembunyi yaitu di balik salah satu box bekas tempat ikan yang sudah kosong.
"Bodoh kalian! Bisa-bisanya cewek itu berhasil kabur. Kalau bos tahu, dia bisa marah," Jack memarahi anak buahnya.
Ira membekap mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
"Tuh kan, Bos menelepon kita," ujar Jack. Dia segara menjawab telepon dari bosnya tersebut.
"Maaf, Bos. Gadis itu kabur," ucap Jack dengan hati-hati. Dia langsung menjauhkan telepon genggamnya dari telinga ketika mendengar bosnya teriak daru ujung sana.
"Bos, Bos tenang saja kami pasti akan menemukan gadis itu sebelum Arvin atau orang suruhan KeluargaSebastian itu tiba," ujar Jack lagi. "Baik-baik, Bos saya akan menyalakan loud speakernya."
"Kalian semua dengarkan perkataan Bos baik-baik," ucap Jack, kemudian ia menekan tombol loudspeaker dari layar ponselnya. "Silakan, Bos!"
"Kalian semua ingat! Aku tidak mau kehilangan Qilla dengan cara apa pun usahakan agar kalian menangkapnya kembali. Jika sampai Qilla lepas dari tangan kalian, maka kalian yang akan aku singkirkan. Mengerti!"
"Menengerti, Bos," jawab para penjahat tersebut serempak. Jack kembali memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam saku setelah orang yang mereka panggil dengan sebutan Bos tersebut mengakhiri panggilannya.
Mata Ira membulat, ia tahu dengan pasti siapa pemilik dari suara itu. Ia tidak pernah menyangka jika orang itu adalah dalang dari semua ini.