Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Bucin



Pagi berikutnya, Ira masih memikirkan jurusan apa yang ingin diambilnya untuk kuliah. Gadis yang masih memakai setelan babby doll tersebut duduk diam sambil menatap seduhan kopi yang ada di depannya.


Ira terkejut ketika ada seseorang yang tiba-tiba mengambil kopinya itu.


"Eh, Pak, itu kan kopiku," protes Ira.


"Salah sendiri kenapa nggak langsung diminum cuma diliatin doang. Sayang kalau dingin jadi gak akan enak, maka mending aku yang minum aja," jawab Arvin kemudian meneguk kopi milik Ira yang sudah berpindah di tangannya.


"Tumben kopi buatanmu enak," puji Arvin.


"Memang biasanya nggak enak?"


"Enggak. Kamu pernah membuatkan aku kopi beberapa kali dan semuanya tidak ada yang beres. Kopi pertama, kamu bukannya memasukkan gula malah masukin garam, yang kedua pun sama. Nah yang ketiga agak mendingan, tapi terlalu manis karena kebanyakan gula. Terus yang keempat, rasanya malah pahit karena kamu lupa ngasih gula. Dan terus yang ke lima.... "


"Udah, Pak, stop!" suruh Ira dengan wajah ditekuk. "Perasaan kenapa kerjaanku nggak pernah bener ya."


"Emang. Kapan kamu ngerjain sesuatu yang aku perintahkan selalu bener? Perasaan selalu saja ada masalah." Arvin kembali meneguk kopi di tangannya.


"Hei mau kemana?" tanya Arvin yang melihat Ira bukannya membalas ucapannya malah berjalan meninggalkan tempat itu.


Arvin menghabiskan kopi di tangannya kemudian berlari menyusul Ira.


"Kamu kenapa sih? Tumben lemes gitu, biasanya paling semangat?" tanya Arvin ketika dia sudah bisa berjalan mensejajarkan.dirinya dengan Ira. Ira masih diam.


"Kamu marah karena kopimu aku minum?" Ira masih diam dan enggan untuk menjawab.


"Aku minta maaf deh, nanti aku akan ganti dengan kita makan di restoran paling mewah."


"Janji ya."


"Giliran ngomongin makanan aja langsung cepet jawabnya."


"Iya dong, Pak, kalau itu wajib. Memang kita hidup nggak butuh makanan?"


"Ish. Soal makanan saja pinter."


Ira hanya tersenyum. "Pak." Panggil Ira.


"Ada apa?"


"Menurut Bapak aku lebih baik ambil jurusan apa ya saat mendaftar kuliah nanti?"


"Jadi dari tadi kamu melamun itu karena ini?"


Ira mengangguk. "Aku tidak tahu harus memilih jurusan apa."


"Kamu harus ambil jurusan sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Tidak usah terpengaruh oleh orang lain, apalagi terpengaruh serial drama alay yang sering kamu tonton itu," jawab Arvin.


"Entahlah apa istilahnya, yang isinya cuma cowok-cowok bucin. Masa cerita tentang dokter yang ditonjolin malah kebucinan si dokter."


"Ih, nggak kok, Pak. Nggak hanya bucin doang, mereka juga mengatasi masalah penyakit dengan baik. Memang Bapak pernah nonton? Enggak kan?" protes Ira yang tak terima kalau drama kesayangannya dikatakan hanya menceritakan soal kebucinan saja.


Sebenarnya Arvin memang tidak pernah nonton drama korea tersebut, tetapi dia pernah tanpa sengaja melihat adegan dalam sebuah drama korea yang entah apa judulnya yang dua tokoh utamananya seorang dokter mereka sedang melakukan adegan kissing.


"Suah-sudah, nggak usah bahas drakor lagi." Arvin memilih menghentikan pembicaraan soal drakor daripada dia ketahuan pernah mengintip Ira yang sedang menonton drakor.


"Tapi, tetap saja. Bapak udah bikin aku sakit hati karena Bapak ngatain drama kesukaanku isinya cuma bucin," protes Ira yang masih tidak terima dengan anggapan dari bosnya itu.


"Iya, deh, iya. Maaf."


"Maafnya yang tulus dong, Pak. Jangan terlihat kepaksa kek gitu!"


"Iya, Ira, iya. Aku minta maaf." Ira tersenyum setelah mendengar permintaan maaf dari bosnya itu.


"Kalau kamu masih bingung menentukan jurusan apa yang ingin kamu ambil, kamu bisa mengambil dari pelajaran yang kamu kuasi. Aku yakin cepat atau lambat kamu akan tertarik dengan itu saat kamu menjalaninya dengan serius."


Ira menghentikan langkahnya, dia menatap bosnya itu dengan tatapan takjub. Ekspresi wajah Arvin saat mengatakan itu membuatnya mengingat salah satu aktor kesayangan yang bernama Lee Min Hoo. Dan entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Arvin.


"Tidak, Pak." Ira segera memalingkan wajahnya yang mungkin sudah berwarna merah.


"Jangan bohong. Jangan-jangan kamu menatapku begitu karena aku mirip dengan aktor kesukaanmu," tebak Arvin.


"Ih, kenapa Pak Arvin bisa tahu sih," ucap Ira dalam hati.


"Hayo ngaku saja!"


"Enggak."


"Bilang saja iya, kenapa pakai nyangkal segala."


"Enggak, Pak. Enggak." Sambil menjulurkan lidahnya Ira berlari hendak meninggalkan Arvin. Namun karena kurang hati-hati dia malah terjatuh. Dan sialnya dia jatuh sambil menarik tangan bosnya tersebut sehingga membuat Arvin ikut terjatuh diatas tubuhnya.


Kedua bola mereka saling bertemu. Untuk pertama kalinya, Arvin menatap Ira dengan perasaan berbeda. Gadis itu terlihat sangat cantik di matanya. Pun demikian dengan Ira. Janting gadis itu berdetak semakin kencang seperti mau melompat dari tempatnya.


"Pak."


"Stt." Arvin menaruh jari telunjuknya di atas bibir tipis berwarna merah muda dihadapannya.


Ira semakin deg-degan saat wajah Arvin mulai mendekat ke wajahnya.