
Ira sangat kesal karena harus menghabiskan waktu di perpustakaan. Dia yang sebenarnya malas untuk belajar terpaksa harus mau belajar karena Arvin selalu mengingatkan akan ujian masuk yang sebentar lagi akan dimulai. Apalagi pria itu sengaja memberikan pertanyaan-pertanyaan yang harus dirinya jawab, sehingga membuat Ira mau tidak mau membaca buku yang ada dihadapannya. Hampir setengah hari mereka berada di perpustakaan kota tersebut dan mereka baru keluar ketika dhuhur tiba. Arvin mengajak Ira untuk menunaikan salat di masjid yang tidak jauh dari perpustakaan tersebut.
"Nah, sekarang kita salat dulu setelah itu kita makan," ucap Arvin ketika mereka berada di depan masjid. "Itu tempat wudhu wanita, awas jangan sampai keliru!" Arvin menunjuk tempat wudhu wanita yang ada di samping kanan majid tersebut.
"Iya, Pak, aku tahu dan nggak akan keliru," jawab Ira. Dirinya masih kesal karena terpaksa harus belajar setengah hari tadi.
"Ya udah sana, nanti kita ketemu lagi di sini."
"Iya, Pak. Aku ke sana duluan, permisi!" Dengan perasaan dongkol Ira menuju ke tempat wudhu perempuan.
"Bener-bener ya, Pak Arvin nggak pekaan banget. Awas saja nanti kalau sudah jadi suami masih nggak berubah juga, aku jadiin perkedel entar," oceh Ira sambil berkacak pinggang. Beberapa orang yang sedang berwudhu menatap aneh ke arahnya.
"Eh, tapi, perkedel makanan yang kayak apaan ya?" Ira berpikir keras mencari bentuk makanan yang dinamakan perkedel itu. "Perkedel yang terbuat dari kentang atau bukan sih? Atau bisa dibuat dengan bahan makanan lain? Gini nih kalau di rumah nggak pernah nengok dapur, jadi bemtuk perkedel aja kagak tahu."
Orang-orang yang kebetulan berada di belakang Ira saling tatap melihat Ira yang masih berbicara sendiri.
"Sudahlah. Ngapain aku ngebayangin perkedel sih." Ira menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. "Udah deh aku wudhu aja, daripada aku telat sholat."
"Mbak lagi kesel ya sama pacarnya?"
"Jadinya pacar mau dijadikan perkedel atau apa nih?"
"Kalau udah tahu mau dijadiian apa kasih tahu kita ya, Mbak."
Tiga orang yang berada di belakang Ira ikut berbicara. Mereka menahan tawa mereka setelah mendengar Ira yang dari tadi ngomel-ngomel sendirian.
Ira lebih memilih tidak menanggapi mereka, dia kembali ke tujuan awalnya yaitu berwudhu. Setelah wudhu Ira masuk ke dalam masjid dan memijam mukena yang ada disana untuk ia gunakan untuk salat. Empat rokaat sudah selesai, Ira jalankan dan ditambah salat sunah dua rokaat setelah dhuhur. Selesai dengan itu semua, Ira segera ke depan masjid ke tempat dia janjian untuk kembali bertemu dengan Arvin tadi.
"Ke mana sih Pak Arvin? Kenapa belum belum selesai juga sih sholatnya," keluh Ira sambil melihat jam melalui layar ponselnya. Ira mencoba melihat ke arah dalam tempat kaum adam berkumpul untuk menunaikan salat. Namun, banyaknya orang yang ada di dalam sana membuat Ira tidak dapat menemukan sosok kekasihnya tersebut.
"Apa aku telpon saja ya," gumam Ira sambil memainkan telepon genggam di tangannya. "Sudahlah, aku tunggu lima belas menit lagi. Kalau dia nggak dateng juga, baru deh aku tinggal pulang ke villa."
Ira akhirnya duduk di depan masjid tersebut saat itulah ada anak perempuan berusia sekitar sepuluh tahun datang menghampirinya.
"Mbak Ira ya?" tanya gadis itu.
Ira menatap gadis kecil itu bingung. "Iya. Kamu siapa?"
"Ini dari siapa?"
Gadis kecil itu tidak menjawab dan langsung meninggalkan Ira.
Ira membuka amplop tersebut dan di sana tertulis keluarlah dari masjid kemudian berjalanlah sebelas langkah ke kanan.
"Ikutin nggak ya?" tanya Ira dalam hati. Dia takut kalau gadis kecil itu sengaja disuruh untuk menjebaknya. "Ya udah deh ikutin aja."
Akhirnya Ira memutuskan untuk mengikuti petunjuk dari surat tadi. Dia keluar dari area masjid dan berjalan sebelas langkah ke kanan. Di sana sudah menunggu lagi gadis kecil dan kembali memberikan dia amplop berwarna putih. Ira membuka amplop itu dan isinya menyuruh Ira untuk kembali melangkah sebelas langkah lagi, dia pun kembali melaksanakan perintah yang tertera di amplop itu. Dan lagi-lagi hal yang sama terjadi, dia kembali mendapatkan surat dengan perintah yang sama, tetapi kali ini amplop yang diberikan berwarna hijau toska demikian juga selanjutnya, dia mendapatkan itu sampai sebelas kali. Dan akhirnya langkahnya tersebut mengarahkan dia ke sebuah taman kota.
Ira ternganga saat melihat pemandangan di depannya. Di sana dia melihat Arvin membawa buket bunga mawar yang besar dengan berbagai warna dan di sekeliling Arvin ada sebelas anak yang masing masing juga membawa satu tangkai bunga mawar dengan warna yang berbeda-beda.
"Bunga untukmu Sayang!" Arvin memberikan buket bunga mawar yang besar ditangannya kepada Ira.
"Pak ini apa?"
"Bukan apa-apa. Aku hanya ingin bersikap sedikit romantis. Aku tahu kamu kesal karena aku menyuruhmu terus belajar tadi. Tapi, aku melakukan itu agar aku bisa secepatnya melamarmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau aku melamarmu tepat saat kamu diterima di Universitaskan? Jadi aku tidak mau kamu gagal," jawab Arvin.
"Pak Arvin manis banget," puji Ira. "Aku janji, aku nggak akan gagal." Ira menerima buket bunga tersebut dari tangan Arvin. Dia pun memeluk tubuh Arvin dengan perasaan bahagia.
"Bagaimana, aku sudah mirip seperti aktor kesukaanmu nggak?"
Ira mengangguk. "Pak Arvin sosweet banget. Aku makin dan makin cinta sama Pak Arvin. Jadi nggak sabar pengen cepet ujian dan keterima."
"Aku juga."
Keduanya saling berpelukan dengan erat.
"Pak."
"Hm."
"Aku lapar."
Suasana romantis itupun terpaksa harus segera diakhiri karena kedua orang tersebut sama-sama lapar.