
"Bagaimana Pak Arvin, aktingku baguskan?" tanya Ira sedikit menyombongkan diri setelah Nadin dan menejernya pergi meninggalkan keduanya.
"Bagus sih, tapi kamu semakin membuat kita jadi pusat perhatian," bisim Arvin sambil menatap kesekeliling mereka.
"Terus kita harus bagaimana Pak?" tanya Ira yang juga dengan suara berbisik.
"Kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini, nggak lucu kan masa seorang pengusaha keren seperti aku ini jadi pusat perhatian karena hal memalukan," jawab Arvin narsis.
Ira hanya memutar bola matanya malas. "Ya udah, Pak, kita cabut sekarang!"
"Memang kamu sudah pesen taksi online untuk kita?" tanya Arvin dan seperti biasa Ira hanya menjawabnya dengan cengiran kuda.
"Sepertinya kamu harus belajar lebih agar bisa menjadi asisten dan sekretaris yang handal. Kamu udah pelajari semua catatan yang aku kasih ke kamu semalam kan?"
Lagi-lagi Ira menjawab dengan menunjukan cengiran kudanya. "Pelajari lagi catatan yang aku kasih ke kamu semalam!" seru Arvin.
"Iya, Pak, iya. Aku pasti akan pelajari lagi," jawab Ira. "Tapi, Pak, aku jadi asisten dan sekretaris Bapak cuma seminggu kan?"
"Eh, siapa bilang? 2 juta buat gaji asisten abal-abal seperti kamu itu kemahalan."
"Tapi, bukannya waktu itu Bapak cuma menyuruhku untuk menjadi asistenmu selama seminggu?"
"Perjanjiannya batal karena kamu tidak pernah melakukan pekerjaanmu dengan becus."
"Tapi, Pak.... "
"Kamu ingat, tadi sebelum ke sini aku sudah menyuruhmu untuk memesan taksi online, tapi nyatanya apa? Kamu sama sekali belum memesannya," sela Arvin.
"Tapi, barusan aku kan sudah membantumu mengusir mantan kekasihmu itu."
"Kamu benar, tapi itu semua kan karena keterlambatanmu memesan taksi. Coba kalau kamu memesan taksi sepuluh menit lebih awal, kita tidak akan bertemu dia di sini" ucap Arvin lagi. Dia tidak mau kalah dari Ira.
"Apa? Salahku?" Ira menunjuk dirinya sendiri. Dia hanya bisa mendesah kasar dengan perilaku bosnya itu.
"Kenapa? Tidak terima?"
"Hei, bawa koperku!" suruh Arvin dan itu membuat Ira terpaksa berbalik dan menyambar koper atasannya itu.
*
Sudah hampir sepuluh menit Arvin dan Ira berdiri di depan restoran, namun taksi yang mereka tunggu belum juga datang. Padahal biasanya untuk mendapatkan taksi online di tempat itu sangatlah mudah karena biasanya sudah ada beberapa taksi yang sengaja mangkal di sekitar restoran tersebut.
"Kenapa belum ada taksi yang datang ya. Kamu yakin sudah memesan taksi dengan benar?" tanya Arvin.
"Sudah kok, Pak."
"Terus kenapa taksi itu belum datang?"
"Mana aku tahu, mereka lagi mogok kali," jawab Ira sepele. "Atau sopir taksinya malas karena tahu calon penumpangnya punya gangguan mental kayak Bapak," lanjut Ira.
"Eh, apa kamu bilang?"
"Bercanda, Pak. Sensi amat jadi atasan," kilah Ira.
"Cepat kamu periksa lagi, sudah sampai mana taksi yang kamu pesan tadi! Kalau masih jauh dari tempat ini kamu batalkan saja!" suruh Arvin kepada Ira.
"Iya, Pak." Ira segera membuka layar ponselnya. Dia melihat aplikasi taksi online di layar ponselnya itu.
"Bagaimana? Sudah sampai mana taksi pesananmu?" tanya Arvin sambil menatap asisten barunya itu.
Ira melihat layar ponselnya dengan seksama. Tiba-tiba dia kembali menunjukan cengiran kudanya di hadapan bosnya itu. Melihat sikap aneh dari asistennya, Arvin tahu kalau Ira pasti sudah melakukan kesalahan lagi.
"Jangan bilang kalau kamu lupa memesan taksi online lagi," tebak Arvin.
"Kok Bapak tahu, kalau aku lupa?"
Arvin hanya bisa menepuk keningnya karena tindakan ceroboh dari asistennya itu.