
Pagi itu, Ira bersama dengan kedua orangtuanya, Dion dan Mikha datang ke rumah Arvin untuk menjenguk Queen. Ketiganya ingin mengetahui dengan pasti keadaan Queen yang sebenarnya pasca kejadian. Arvin langsung mendekat saat mobil Rolls Royce berwarna putih milik Sang Calon mertua memasuki halaman rumah kediaman Narendra, ia langsung membukkan pintu mobil untuk calon istri dan calon mertuanya tersebut. Kemudian Arvin membawa ketiganya masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Sayang bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?" tanya Nayla kepada calon menantunya.
"Alhamdulillah sudah, Tante, tinggal ngilangin bekas lukanya doang," jawab Ira.
"E... Tante, bisakah saya menemui Queen? Saya ingin tahu bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Ira dengan hati-hati.
"Queen memang sempat depresi kemarin, tapi sekarang alhamdulillah keadaannya juga berangsur membaik. Dia tidak lagi murung seperti hari sebelumnya," jelas Nayla. "Kalau kamu mau menemuinya temui saja dia di kamarnya. Arvin antar calon istrimu ke kamar Queen!"
"Iya, Bunda," jawab Arvin.
"Kalau begitu saya ke kamar Queen sekarang ya, Tante. Permisi!" pamit Ira.
Arvin membawa calon istrinya tersebut untuk bertemu dengan adiknya. Kebetulan saat itu, Queen sedang duduk di dekat jendela kamarnya. Meski pintu kamar itu tidak ditutup, tidak serta merta membuat Ira langsung masuk begitu saja ke kamar calon adik iparnya tersebut. Dia mengetuk daun pintu yang sudah terbuka itu dengan pelan.
Tok-tok-tok!
Mendengar suara ketukan pintu membuat Queen menoleh.
"Boleh Kakak masuk?" tanya Ira.
"Kak Ira, masuk saja, Kak," jawab Queen.
"Sayang, aku tinggal ya. Silakan kalian berdua ngobrol. Kalau kalian butuh sesuatu panggil saja aku," ucap Arvin kepada calon istrinya.
Ira mengangguk, ia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk di bangku kosong yang ada di depan adik iparnya tersebut.
"Queen, bagaimana keadaanmu sekarang? Sehat?" Ira menanyakan kesehatan calon adik iparnya itu.
"Alhamdulillah, aku sehat, Kak," jawab Queen. "Kakak sendiri?"
"Alhamdulillah Kakak tidak apa-apa hanya sedikit luka memar dan gores, itu pun sudah lumayan tidak sakit lagi," jawab Ira.
"Queen, maafin Kakak ya karena Kakak tidak bisa membantu waktu itu. Kakak benar-benar menyesal," ucap Ira. Dia menundukkan kepalanya sambil menangis.
Queen menggenggam tangan calon kakak iparnya tersebut. "Kak, aku tidak apa-apa kok. Jadi, Kakak jangan nangis ya."
"Tapi... semua hal yang terjadi padamu di hari itu semua adalah salahku. Jika saja aku tidak membawa alat komunikasi itu, jika saja aku tidak ceroboh kamu pasti.... " Ira tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia begitu menyesal karena telah membuat calon adik iparnya tersebut terluka.
"Kak, jika kamu tidak membawa alat komunikasi itu mungkin kita berdua tidak akan disini. Justru berkat alat komunasi itu, Kak Arvin dan Kak Vano bisa menemukan keberadaan kita. Jadi, Kakak jangan merasa bersalah!" ucap Queen.
"Tapi... jika aku tidak membawa alat itu orang-orang itu pasti tidak akan berbuat kurang ajar kepadamu." Ira kembali menangis.
"Kak, mereka belum sempat melakukan apa pun kepadaku karena Kak Arvin dan Kak Vano datang tepat waktu," ujar Queen.
Ira menatap Queen, "Sungguh?"
Queen mengangguk. "Aku memang sempat merasa jijik dengan diriku sendiri, tapi bukan karena mereka berhasil merenggut keprawananku. Aku jijik pada diriku sendiri, karena mereka sempat menggerayangiku. Tangan-tangan kotor mereka membuatku ketakutan. Seumur hidup aku tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki selain dengan ayah dan Kak Arvin. Bahkan dengan Kak Vano pun tidak pernah. Makanya saat mendapatkan perlakuan seperti itu sempat membuatku merasa kotor," jelas Queen yang juga sambil menangis. Bayang-bayang saat orang-orang itu hendak melecehkannya membuat tubuhnya kembali bergetar.
"Quesn, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Ira cemas. "Aku... aku panggilkan Arvin ya."
"Tidak usah, Kak. Tidak usah. Aku hanya butuh waktu untuk bisa menguasai diri," tolak Queen.
"Tapi, Queen.... "
"Kak, percayalah!" Perlahan Queen mulai kembali tenang. Tubuhnya sudah berhenti bergetar.
"Mau Kakak ambilkan ambilkan minum?" tanya Ira.
"Kakak tahu kamu kuat dan kamu bisa melewati ini," ujar Ira.
"Dan Kakak juga jangan menyalahkan diri Kakak lagi, karena Kakak tidak salah," balas Queen.
Kedua wanita itu kemudian saling memeluk untuk melepaskan segala keresahan yang mereka rasakan.
Queen dan Ira baru melepaskan pelukan mereka saat mendengar nama mereka dipanggil.
"Sepertinya ayah memanggil kita, Kak," ucap Queen.
"Iya, benar. Tapi, ada apa ya mereka memanggil kita?" jawab Ira.
"Ya udah kita keluar yuk, temui mereka!" ajak Queen, Ira mengangguk. Keduanya pun langsung keluar dari kamar dan menuju ruang tamu.
"Ada apa, Ayah memanggil kami?" tanya Queen kepada ayahnya.
"Kakakmu dan Vano mana?" Alvin justru menannyakan keberadaan Kakaknya dan Vano.
"Entahlah, Yah. Tadi setelah mengantar Kak Ira ke kamarku, Kak Arvin langsung pergi entah kemana. Kalau Kak Vano, tadi dia izin mau membeli sesuatu dan sampai sekarang belum pulang," jawab Queen.
"Kita tunggu mereka datang dulu," ucap Alvin.
Queen dan Ira saling tatap, keduanya tidak tahu apa yang ingin ayahnya bicarakan sampai harus menunggu mereka berdua.
"Daddy, Mommy ada apa?" tanya Ira kepada kedua orang tuanya.
"Nanti juga kamu tahu," jawab Mikha.
"Ish, Mommy ini benar-benar nggak asik. Kenapa harus main rahasia-rahasiaan segala sih," protes Ira.
"Ini bukan main rahasia Sayang, cuma nunggu kedatangan Arvin dan Vano saja kok," tambah Mikha.
Ira hanya memutar bola matanya malas. "Queen kira-kira apa ya yang hendak mereka katakan kepada kita?"
"Entahlah, Kak," jawab Queen.
Tidak lama kemudian Arvin dan Vano datang, keduanya pun bingung ketika mereka disuruh untuk menghadap Alvin di ruang tamu.
"Ada apa sih, Yah? Kenapa Ayah manggil kita berdua?" tanya Arvin.
"Arvin, Vano, tadi ayah sudah berbicara dengan calon mertuamu. Kita berempat akhirnya sepakat untuk menikahkan kalian secara bersamaan," Alvin memberitahu.
"Ayah serius?" tanya Arvin.
"Tentu saja serius. Queen, Ira kalian tidak keberatan kan kalau pernikahan kalian dilangsungkan dalam waktu yang bersamaan?" kini giliran Queen dan Ira yang mendapatkan pertanyaan tersebut.
Ira dan Queen saling tatap sebentar, kemudian keduanya mengangguk sambil berkata, "Kami tidak keberatan, Yah."
"Vano, kamu juga sudah siap, kan?" tanya Alvin kepada Vano.
"Tentu saja saya siap, Om," jawab Vano.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut terlihat begitu bahagia dengan kabar pernikahan ini.
🍂🍂🍂
Hidup adalah sebuah ujian, siapa yang berhasil lolos dari ujian ini maka In Syaa Allah kebahagiaan akan selalu datang menghampiri.