Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Melakukan itu



Pagi itu menjadi pagi yang baru bagi dua pasang pengantin mengawali status mereka yang sudah tidak single. Queen dan Vano sudah bangun sejak subuh tadi dan keduanya langsung melanjutkan untuk jogging bersama di sekitaran hotel.


Sementara Ira dan Arvin, setelah menunaikan kewajiban mereka kepada Sang Maha Kuasa, keduanya kembali tidur hingga harus dibangunkan oleh adik Ira, Titan untuk sarapan bersama keluarga besar.


"Kak... Kak Ira!" panggil Titan dari luar pintu. Pemuda berumur 17 tahun itu terus mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Kak sudah waktunya sarapan! Semua sudah menunggu Kakak dan Kakak ipar," ujar Titan lagi.


Tidak lama pintu dibuka.


"Ada apa sih pagi-pagi dah ngetuk pintu?" tanya Ira dari balik pintu.


Titan memindai penampilan kakak perempuannya dari bawah hingga atas. Wanita yang baru semalam menjalani resepsi pernikahan tersebut terlihat masih acak-acakan dengan rambut ada yang setengah berdiri. Titan tertawa terpingkal-pingkal melihat penampilan kakaknya tersebut.


"Ngapain kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu?" tanya Ira. Dia justru merasa bingung dengan polah adiknya yang tiba-tiba terpingkal.


"Ish... Coba sana Kakak ngaca! Lihat tuh rambut Kakak mirip landak yang ngerasa terancam," jawab Titan yang masih tetap tertawa.


"Iya, nanti aku ngaca," jawab Ira. "Oh iya, ngapain kamu ke sini pagi-pagi, nggak tahu apa mata Kakak masih sepet?" tanyanya.


"Kakak dan Kakak ipar sudah ditunggu semua keluarga untuk sarapan bareng di bawah," jawab Titan.


"Sarapan? Memangnya ini jam berapa?" tanya Ira lagi.


"Ini sudah hampir jam sembilan pagi, Kak."


"Apa?!" pekik Ira, dia segera membuka matanya lebar-lebar. Ira meraih pergelangan tangan adiknya untuk melihat waktu yang tertera di jam tangan milik adiknya tersebut.


"Kenapa baru bangunin sekarang sih?" protes Ira. Setelah mengatakan itu, ia kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Kak! Kok malah ditutup?" tanya Titan bingung.


"Lima menit lagi aku dan Mas Arvin keluar, bilang saja begitu sama mereka," jawab Ira dari dalam kamar.


"Dasar Kakak!" Titan pun pergi dari tempatnya berdiri sekarang.


Sementara itu di dalam kamar, buru-buru Ira membangunkan suaminya.


"Pak bangun! Pak Arvin buruan bangun!" panggil Ira sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya tersebut.


"Sebentar lagi ya, aku masih ngantuk," jawab Arvin setengah sadar.


"Ih, Pak Arvin! Ini sudah siang, cepatan bangun!" suruh Ira sambil menarik tangan suaminya untuk bangun.


"Iya, ini aku sudah bangun," jawab Arvin dengan posisi duduk di atas kasur, tetapi dengan mata yang masih terpejam.


"Pak, ini sudah jam sembilan dan semua orang sudah menunggu kita di meja makan. Kalau kita tidak segera datang, mereka bakalan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita," jawab Ira.


Arvin membuka matanya. "Berpikiran yang tidak-tidak? Maksudmu apa?" tanya Arvin yang berpura-pura tidak mengetahui hal yang dimaksud oleh istrinya.


"Melakukan itu apa?" tanya Arvin yang berpura-pura bodoh.


"Ya itu."


"Ya itu apa?"


"Ya... ya... Yang dilakulan pasangan pengantin baru pada umumnya," jawab Ira.


"Memangnya apa yang dilakukan pasangan pengantin baru pada umumnya?" tanya Arvin sambil mencondongkan wajahnya ke arah sang istri.


"Ya... ya... pokoknya itu.... "


Tiba-tiba Arvin mengungkung tubuh istrinya.


"Apa seperti ini?" tanya Arvin setelah mengecup bibir Ira singkat.


"Pak... semua orang se.... "


Kembali Arvin membungkap bibir istrinya dengan bibirnya.


"Aku adalah suamimu, kenapa masih memamggil, Pak?" protes Arvin.


"Sudah kebiasaan," jawab Ira.


"Makanya rubah kebiasaanmu," protes Arvin lagi. "Pokoknya kalau kamu memanggilku Pak maka saat itu juga aku akan membungkam bibirmu ini dengan bibirku," jawab Arvin.


"Ih... Itu sih untung di Bapak."


Cup! Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir mungil Ira.


"Ayo panggil Pak lagi! Biar aku puas menghabisi bibirmu itu," ujar Ira.


"Ish, dasar curang!" cebik Ira. "Baiklah, baiklah, mulai sekarang aku akan manggil kamu dengan sebutan Mas. Ayo Mas Arvin, kita bangun, semua orang sudah menunggu kita di bawah untuk sarapan bersama," ucap Ira.


"Tadinya aku berharap kamu memanggilku Pak lagi, jadi aku bisa menghukumu dengan sambil melakukan malam pertama kita yang tertunda," goda Arvin.


"Kamu kan sudah bilang, Mas, kalau kita baru akan melakukannya nanti malam. Jadi, jangan ingkari kata-katamu itu," jawab Ira.


Sambil menghela napas kasar, Arvin menjauhkan tubuhnya dari Ira.


"Kenapa aku harus janji seperti itu ya?" keluh Arvin.


Ira hanya mengedikkan bahu.


"Sudah yuk, Pak... Maksudku Mas, ayo kita mandi setelah itu turun ke bawah untuk sarapan bareng yang lain!" ajak Ira.


"Oke. Kalau gitu kita mandi bersama." Tanpa menunggu jawaban dari Ira, Arvin sudah membopong tubuh istrinya itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.