
"Sebenarnya kamu itu anak siapa sih? Segala hal kamu nggak tahu. Masa beli makanan di restoran aja nggak tahu. Kan banyak tuh papan petunjuk di sepanjang jalan atau kamu bisa gunain google map," oceh Arvin saat dia dan Ira berada di dalam mobil sewaan. Kali ini Arvin lebih memilih menyewa mobil selama seminggu agar bisa diginakan saat dia butuh kendaraan itu sewaktu-waktu.
"Tentu saja aku anak kedua orang tuaku, Pak. Gak mungkinkan ada anak jin yang cantik seperti ini," jawab Ira. Arvin memutar bola malas mendengar jawaban asistennya itu.
"Kalau itu aku juga tahu, Ira. Cuma yang aku heran kok ada ya cewek udah gede, gak bisa ngapa-ngapain, adik perempuanku saja kalau soal beli makanan jago lho," ucap Arvin.
"Aku juga bisa kok, Pak. Cuma, ini itu Jogja, Pak dan aku belum pernah ke kota ini. Aku kan takut nyasar." Ira berusaha memberikan alasan.
"Kamu tuh aneh. Kalau gak tahu apa pun soal kota ini, ngapain kamu ke sini? Jangan bilang kalau kamu lagi kabur dari keluargamu ya." Tebakan Arvin sontak membuat Ira terbatuk.
"Jadi benar kamu lagi kabur dari rumah?" Arvin bertanya seperti sambil menatap asistennya. "Aku semakin yakin kalau kamu itu anak orang kaya yang sedang menyamar."
"Ih, ucapan Pak Arvin makin ngaco!" sangkal Ira, dia tetap berusaha agar Arvin tidak mengetahui asal usulnya. "Kalau aku anak orang kaya, aku gak kaan mau kerja sama Bapak."
"Aku tetap nggak percaya. Waktu itu aku pernah bilang kan kalau tas dan baju yang melekat sama kamu adalah barang-barang mewah."
"Dan aku juga udah bilang sama Bapak kan kalau itu kw. Kalau itu barang ori, daripada aku terlunta-lunta kagak punya duit, mending aku jual dong Pak semua barang-barang itu?" Arvin terdiam, dia tampak memikirkan perkataan Ira barusan.
"Bisa aku lihat ktp-mu?" tanya Arvin tiba-tiba.
"Ktp ku hilang bersamaan dengan hilangnya dompetku waktu itu," jawab Ira.
Kembali Arvin menatap ke arah Ira.
"Pak itu restorannya kan?" tanya Ira sambil menunjuk bangunan yang ada dihadapannya.
"Iya. Aku cari tempat untuk parkir dulu." Arvin segera memilih tempat untuk memarkirkan mobilnya. Setelah memarkirkan mobilnya, dia dan Ira segera turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran.
"Sepertinya banyak pengunjung ya, Pak, hari ini?" ucap Ira saat melihat banyak orang yang mengunjungi restoran itu.
"Sepertinya ini hari pertama restoran ini buka. Coba lihat itu!" tunjuk Arvin pada sebuah papan reklame yang ada di depan restoran tersebut.
"Sepertinya tidak ada bangku kosong." Ira melihat ke sekeliling dan memang tidak ada bangku yang tersisa. Semua bangku sudah diisi oleh pengunjung.
"Ira."
Arvin menatap Ira penuh tanya. Seoalah paham dengan hal yang ditanyakan oleh bosnya, Ira mengedikkan bahu seolah memberi jawaban kalau dia juga tidak tahu siapa orang yang barusan memanggilnya.
"Kamu beneran sudah lupa sama saya?" tanya orang yang memanggil nama Ira barusan.
Ira kembali menatap orang yang saat ini berdiri di depannya.
"Kita kemarin bertemu di pantai, ingat nggak?"
Ira berusaha mengingat siapa laki-laki yang saat ini berdiri di hadapannya.
"Ouh, iya. Aku ingat kamu yang kemarin bilang nama kamu Arga kan?"
"Akhirnya kamu mengenalku juga," pria itu tampak senang.
"Kamu kenapa ada di sini? Mau makan juga?" tanya Ira kepada pria yang bernama Arga.
"Tidak. Kebetulan restoran ini milikku," jawab Arga. "Kalian kenapa barusan mau pergi?"
"Tadinya mau makan di sini. Tapi, karena restoran ini penuh banget, kami memilih untuk mencari restoran lain."
"Bagaimana kalau kalian ikut ke ruanganku saja, kita bisa makan di sana!" Laki-laki bernama Arga itu menawarkan tempat.
"Bagaimana, Pak Ar?" tanya Ira.
Arvin menatap pria bernama Arga.
"Ayolah!" Arga berusaha membujuk kedua orang yang ada dihapannya.