
"Bisa-bisanya dia tidur senyenyak ini padahal tadi kelihatan marah banget," gumam Arvin. Tetapi dia bisa bernapas dengan lega karena sang kekasih hanya tertidur. Dia berjalan mendekat ke arah kekasihnya tersebut dan duduk di sampingnya.
"Syukurlah kalau kamu hanya tidur, saat kamu bangun nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu agar kamu tidak salah paham." Sambil menatap wajah Ira yang tertidur pulas Arvin berucap. Arvin membelai wajah kekasihnya tersebut menggunakan jarinya. Dia menatap lekat wajah cantik yang sudah membuatnya jatuh cinta itu. Sejak dulu Arvin tidak pernah menyangka kalau keputusan mereka pacaran yang awalnya hanya karena dia tertarik pada bibir merah milik Ira itu mampu membuat dirinya mencintai sosok Ira sampai sebesar ini. Dia yang jarang takut kehilangan cinta dari wanita, kini merasakan takut yang amat dalam akan kehilangan cintanya itu. Padahal benar yang dikatakan oleh Queen bahwa Ira jauh dari kriteria wanita yang ia idamkan selama ini.
"Ira sampai kapan pun aku nggak akan ngelepasin kamu. Seandainya kamu gagal dalam ujian itu pun, aku akan tetap mencari cara lain untuk mempertahankanmu di sisiku, aku tidak akan pernah menyerah," batin Arvin.
"Aquela Ashira Putri Sebastian aku mencintaimu dan aku akan berusaha keras untuk mempertahankanmu disisiku."
Arvin membetulkan posisi tidur sang kekasih kemudian beranjak dari posisinya. Sebelum keluar dari kamar itu, dia mengecup kening kelasihnya terlebih dulu.
***
Di tempat lain....
Hana yang masih belum percaya dengan perkataan Arvin yang mengatakan bahwa sejak awal dia sudah menolak perjodohan tersebut segera menelepon orang tuanya di Jakarta. Dia ingin memastikan kalau semua ucapan Arvin itu tidak benar.
"Hana sayang, selamat ya karena kamu sudah berhasil menyelesaikan ujianmu. Mama doakan semoga kamu lulus dan diterima di universitas yang kamu inginkan," ucap mamanya dari ujung sana.
"Ma, apa benar Mas Arvin sejak awal menolak perjodohan itu?"
Cukup lama tidak dengar jawaban dari ujung sana. "Kamu pasti capek setelah ujian itu. Istirahatlah!"
"Ma, aku tanya apa benar sejak awal Mas Arvin menolak perjodohan itu? Kenapa Mama tidak jawab? Jawab pertanyaanku itu, Ma! Jawab!" Hana semakin meninggikan suaranya.
"Maafkan mama, Nak."
"Maafkan mama sayang, mama cuma tidak mau kamu gagal dalam ujianmu gara-gara ini."
"Mama tahu, sebesar apa rasa bahagiaku saat mengetahui Mas Arvin menerima perjodohan itu? Ku kira impianku untuk menjadi istri Mas Arvin akan segera terwujud. Tapi, kenyataannya semua kebahagiaan yang mama berikan kepadaku waktu itu adalah semu."
"Maafkan kami, Nak!"
Hana langsung memutus sambungan teleponnya. Dia menjerit, meraung, merasakan sakit karena telah dibohongi oleh kedua orang tuanya. "Kenapa kalian tega membohongiku? Kenapa?" teriaknya.
"Untuk apa aku mempercantik diriku, jika ternyata laki-laki yang aku cintai tidak mencintaiku?"
Hana yang kebetulan masih berada di sekitar pantai, tiba-tiba menatap lurus ke arah lautan di hadapannya.
"Untuk apa aku hidup jika tujuan hidupku tidak ada sekarang?" gumam Hana. Dia menjatuhkan telepon genggam di tangannya dan berjalan ke tengah laut.
Arvin adalah tujuan hidupnya selama ini dan sekarang tujuan itu sudah menolaknya dengan jelas. Dulu, saat Arvin dikabarkan menjalin hubungan Nadin, dia juga sudah tidak bersemangat lagi menjalani hidupnya. Dia kembali bersemangan saat tahu Arvin putus dengan Nadin dan kedua orangtuanya berencana menjodohkannya dengan pria yang yang disukainya selama ini. Sejak itu dia mati-matian merubah penampilannya. Dan kali ini setelah semua perubahan yang ia lakukan, nyatanya Arvin tidak juga menerimanya.
"Selamat tinggal impianku."
πΊπΊπΊ
Gaes, sorry ya kemarin otor libur βοΈβοΈ. Nanti siang bakalan up lagi kok π