
Usai mandi sepasang pengantin baru tersebut langsung menuju ke restoran yang ada di lantai satu hotel untuk sarapan bersama keluarga besar mereka.
"Sepertinya ada yang nambah nih pagi-pagi sampai sarapan aja telat," goda Kina, istri Tama.
"Nambah apa, Tante?" tanya Anindita dengan polosny. Gadis kecil yang baru berusia 10 tahun itu terlihat bingung dengan perkataan yang dilontarkan oleh Mikha barusan.
"Kak, kalau ngomong hati-hati. Di sini banyak anak kecil. Ada Aby, Taqy, Maky, dan juga Yisa, mereka masih kecil untuk mendengar obrolan orang dewasa," tegur Keenan kepada Kakak perempuannya. "Lagian udah punya mantu juga masih gak bisa jaga omongan."
"Iya-iya, Kakak minta maaf," jawab Mikha.
"Nambah boboknya, kan semalam Kak Ira dan Kak Arvin boboknya kemaleman, jadi pagi tadi setelah sholat subuh mereka bobok lagi. Makanya Dita kalau bobok jangan malem-malem ya, ntar bisa kesiangan." Kina istri Tama membantu memberi penjelasan.
"Ouh... begitu ya, Tante." Gadis berkepang dua itu pun kembali memasukkan makanan ke dalam mulut.
"Nggak kok Mom, kita malah belum melakukan itu," jawab Ira.
Semua mata langsung tertuju pada sepasang pengantin baru tersebut.
"Semalam aku dan Mas Arvin kecapekan, jadi kita mutusin buat langsung tidur dan nggak ngapa-ngapain," jawab Ira. Dia mengambil makanan yang ada di depannya lalu memasukkan ke dalam mulut.
"Sudah, sudah, ngobrolnya kita lanjutkan nanti. Sekarang kita sarapan dulu!" suruh Bintang kepada semua anak, menantu, dan cucu-cucunya. Kalau Bintang sudah memberikan perintah, maka tidak ada satu pun dari anggota keluarga yang berani melanggar. Jangankan anak-anaknya, Rangga saja tidak berani melanggar apa pun yang sudah dusabdakan istrinya.
Hari itu dilalui dengan canda tawa seluruh anggota keluarga besar dari kedua mempelai, baik itu dari keluarga besar Arvin dan juga keluarga besar Ira.
***
Malam harinya....
Jam di dinding di kamar hotel sudah menunjukan pukul 21.30 WIB, tetapi Ira belum juga kembali ke kamar tersebut. Padahal sudah dari jam 20.00 WIB, Arvin sudah menunggu kedatangan istrinya itu di kamar. Selayaknya pengantin baru, Arvin sudah tidak sabar ingin mencecap manisnya surga dunia.
"Kenapa Ira belum datang ke kamar sih, padahal tadi bilangnya 30 menit lagi, tapi ini sudah lebih dari satu jam sejak dia bilang akan datang ke kamar. Apa aku harus menyusulnya ke bawah?" gumam Arvin.
Laki-laki yang baru sehari menyandang status suami itu sudah tidak sabar ingin melepaskan keperjakaannya pada wanita yang sekarang menjadi tulang rusuknya.
"Aku kirim pesan saja deh," ucap Arvin lagi.
Jari-jari panjang Arvin mulai mengetik sesuatu pada layar ponselnya.
Arvin : [Sayang, kamu dimana? Ini sudah jam setengah sepuluh lho, sudah waktunya kamu kembali ke kamar]
Arvin kemudian menekan tombol send. Tidak lama ada notif pesan masuk dan itu dari Ira.
Arvin: [Jangan lama-lama ya, Sayang. Love you]
Ira hanya menjawab pesan tersebut dengan sebuah emot love.
*
Ira baru kembali ke kamarnya sekitar pukul 23.00 WIB. Bukan Ira ingin menghindar dari kewajibannya malam itu, tetapi dia bingung bagaimana harus memulainya. Dengan mengendap-endap Ira masuk ke dalam kamarnya.
Ira merasa lega ketika melihat suaminya sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"Alhamdulillah, Mas Arvin sudah tidur," ucap Ira. Dengan sangat hati-hati ia kemudian naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya tepat di samping Arvin.
Ira menatap wajah tampan suaminya yang sedang tertidur pulas tersebut. Dia kemudian mengulurkan tangannya untuk membelai dengan lembut wajah itu, saat itulah tiba-tiba Arvin membuka mata dan langsung mengukungnya.
"Ka... kamu belum tidur, Mas?" tanya Ira gugup.
"Bagaimana aku bisa tidur kalau istriku belum memenuhi janjinya," jawab Arvin.
"Tapi... aku tidak tahu bagaimana harus memulainya. Aku mau nonton video dewasa sebagai tutorial, tapi kamu bilang nggak boleh. Jadi, terpaksa aku mengulur waktu," ucap Ira sedikit terbata.
"Tentu saja tidak boleh, kamu tidak boleh melihat bagian inti pria selain milik suamimu."
"Iya, aku tahu. Tapi... bagaimana aku memulainya kalau tidak ada gambaran," ucap Ira lagi.
"Tidak perlu tuturial apa pun, gunakan instingmu untuk melakukannya," bisik Arvin.
Arvin mulai memberikan sentuhan di sekujur tubuh Ira menggunakan bibirnya. Inci demi inci bagian tubuh wanita itu tak luput dari sentuhan. Lenguhan mulai keluar dari bibir tipis Ira. Wanita yang sudah menyandang status istri Arvin Narendra itu mulai mengikuti instingnya. Satu persatu kain yang melekat di tubuh keduanya mulai ditanggalkan dan malam itu pun menjadi malam yang panjang bagi keduanya.
......~SELESAI~......
Note: Terima kasih saya ucapkan untuk pembaca setia Mr. Perfect & Miss Cereless. Maaf jika ending cerita ini masih jauh dari ekspektasi kalian. Pasti ada diantara kalian yang akan bertanya seperti ini: "Thor, kok endingnya gantung? Terus gimana dengan nasib rumah tangga Queen dan Vano? Terus Ira dan Arvin punya anak berapa? Kan di kisah-kisah sebelumnya selalu ditampilkan berapa anak mereka? Bagaimana saat mereka hamil dsb."
Kalian tenang saja, semua itu pasti bakalan ditampilkan ektra part. Oh iya, terkhusus untuk kisah rumah tangganya Vano dan Queen, author mau tanya menurut kalian kisah rumah tangga mereka ditulis di sini di bagian ekstra part atau dibuku lain dengan judul lain lagi? Tolong tulis di kolom komentar yah.
In Syaa Allah minggu depan author bakalan ngeluarin karya baru lagi. Kisah tentang dua remaja dengan latar belakang keluarga yang berbeda judulnya CAHAYA UNTUK BINTANG. Doakan semoga gak molor.
Sekali lagi terima kasih karena sudah mengikuti tulisan-tulisan author yang unfaedah ini. Lope you pull semunya.