Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Mengikhlaskan



Mobil yang membawa Dion, Ira, dan Arvin berjalan melambat begitu memasuki gerbang kediaman Keluarga Sebastian. Mobil itu kemudian berhenti di depan rumah untuk menurunkan penumpangannya sebelum akhirnya mobil tersebut ditaruh di carport oleh si supir.


Mikha yang sejak tadi menunggu dengan resah di ruang tamu pun segera keluar ketika melihat anak perempuannya turun dari dalam mobil.


"Qilla Sayang, bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Mikha, dia memegang kedua bahu putrinya untuk memindai tubuh mungil tersebut dan memastikan jika putrinya itu dalam keadaan sehat. Mikha tak kuasa menahan tangis ketika melihat luka lebam dan beberapa luka gores di tubuh putri tercintanya.


"Pasti ini sakit ya, Sayang?" tanya Mikha dengan mata berkaca-kaca.


Ira mengangguk. "Sedikit," jawabnya sambil tetap tersenyum, meski air matanya tetap merangsek keluar. "Tapi, bisa melihat dan bertemu Mommy kembali, semua ini tidak ada artinya buatku."


Mikha langsung memeluk putrinya dengan erat. Ibu mana pun tidak akan tega melihat putri yang disayanginya terluka. Apalagi sejak kecil Mikha tidak pernah mencubit apalagi memukul Ira. Dan sekarang dia harus melihat putri yang dicintai, dikasihi, dan disayanginya dilukai oleh orang lain. Sakit hati tentulah yang Mikha rasakan saat ini sebagai seorang ibu.


"Aku sudah tidak apa-apa lagi kok, Mom. Luka ini sudah tidak begitu sakit, jadi Mommy jangan nangis lagi ya," ujar Ira.


Mikha mengangguk dan mengusap air matanya.


"Saya minta maaf, Tante, karena saya tidak bisa menjaga Ira dengan baik dan membuat dia seperti ini," ucap Arvin yang berdiri di sebelah kanan Ira.


Mikha melepas pelukannya dan menatap Arvin. "Tante tahu ini diluar kendalimu, jadi jangan minta maaf karena ini bukan kesalahanmu," balas Mikha.


"Aku dengar adikmu juga depresi karena kejadian ini. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Mikha kepada calon menantunya tersebut.


"Dia sudah mulai membaik dan agak tenang," jawab Arvin.


"Semoga adikmu lekas pulih ya, Vin. Nanti kami akan menjenguknya," tambah Mikha dan mendapatkan anggukan dari Arvin.


"Terima kasih, Tante," ucap Arvin.


"Mas, kamu juga tidak terluka, kan?" kini giliran Dion yang sejak tadi berdiri di sisi kiri Ira yang mendapatkan pertanyaan dari Mikha.


"Tidak," jawab Dion singkat.


Mikha tahu suaminya sedang menahan amarah yang mendalam. Dibanding dirinya, Dion akan lebih merasa sakit jika melihat putra-putrinya terluka.


"Hati-hati ya, Vin," tutur Mikha.


"Ira aku pulang dulu ya," pamit Arvin kepada tunangannya.


"Hati-hati ya, Pak. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai rumah!" jawab Ira


"Iya. Assalammualaikum semuanya."


"Waalaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ira dan Mikha bersamaan.


Arvin sedikit beralari menuju mobilnya. Setelah naik, dia kembali menatap ke arah Ira dan keluarganya sambil melambaikan tangan.


"Ada apa, Mas? Kok diam?" tanya Mikha begitu mobil yang ditumpangi Arvin sudah tidak lagi terlihat.


"Rasanya aku masih sangat marah dengan orang yang membuat putriku jadi terluka. Apalagi ketika aku membayangkan bagaimana ketakutan putri kita saat wanita laknat itu menyuruh orang melecehkan putriku. Aku benar-benar tidak bisa menerima itu," jawab Dion sambil megeratkan gigi-giginya.


Mikha mengusap dada suminya. "Aku tahu, Mas. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi, bukankah dia sudah ditembak mati oleh polisi?"


"Itu kematian yang terlalu mudah untuknya," jawab Dion kesal.


"Mas, ikhlaskan semua yang sudah terjadi, meski itu sulit, yang terpenting sekarang putri kita sudah berkumpul bersama kita lagi dalam keadaan sehat. Hm?" Mikha juga merasakan kesakitan yang sama seperti yang dirasakan oleh suaminya, akan tetapi dia tetap berusaha untuk menenangkan suaminya.


"Mommy benar, Daddy. Daddy harusnya bersyukur karena aku masih bisa kembali bersama Daddy dan Mommy dalam keadaan selamat, coba kalau aku kembali hanya tinggal nam.... "


"Hustt." Mikha menaruh jari telunjuknya di atas bibir Ira sambil menggeleng.


Ira mengapit lengan daddy dan mommy-nya. "Sekarang lupakan semunya, ayo masuk ke dalam aku lapar," ajak Ira.


Mikha dan Dion tersenyum. Iya, seharusnya mereka juga belajar mengikhlaskan semuanya toh putri mereka saja bisa menerima itu.