
Ira langsung mempersilakan kekasihnya itu untuk masuk ke dalam kosan. Dia sengaja tidak menutup pintu kosan dan malah membukanya lebar-lebar agar tidak terjadi fitnah diantara penghuni kos yang lain. Meski mereka semua sudah tahu status Ira dan Arvin adalah tunangan, tetapi Ira tidak mau ada anggapan miring tentang dirinya dan Arvin.
"Kalau Pak Arvin ngantuk, tidur gih!" suruh Ira.
"Tapi, beneran kamu nggak marah?" tanya Arvin memastikan. Laki-laki nerwajah tegas itj menatap Ira guna meminta jawaban.
"Marah?"
"Iya, marah."
"Marah untuk apa?"
"Marah untuk artikel.... " Arvin tidak melanjutkan jawabannya. Dia baru menyadari kalau dirinya telah salah karena sudah mengungkit masalah artikel, padahal jelas-jelas Ira tidak menyinggungnya.
Wanita dengan mata kecoklatan itu memberikan tatapan tajamnya kepada Arvin. Tidak lama, hanya beberapa detik Ira melakukan hal itu. Namun, tetap saja itu membuat Arvin tetap siaga untuk menerima kemarahan dari kekasihnya tersebut.
"Hah." Helaan napas keluar dari mulut kecil Ira. Wanita itu hanya masuk ke kamar sebentar kemudian keluar lagi sambil membawa selimut dan bantal.
"Tidurlah dulu. Aku yakin Pak Arvin nggak tidur selama berhari-hari." Ira menyerahkan bantal dan selimut di tangannya kepada sang kekasih.
"Kamu beneran tidak marah?" Arvin memberanikan diri untuk bertanya. Dia tidak mau ada salah paham antara dirinya dengan kekasih hatinya tersebut. Jika memang Ira marah dan butuh penjelasan, dia pasti akan menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
"Marah sih, tapi, jika aku marah sama Pak Arvin sekarang, aku kasihan sama Bapak. Pasti Pak Arvin nggak akan bisa tidur, jadi tidak apa-apalah kalau marahnya aku pending yang penting Pak Arvin bisa tidur dulu," jawab Ira, dia menyampaiakan alasan kenapa dia tidak ingin marah sekarang. Ira menatap kekasihnya sambil tersenyum.
Arvin menerima bantal dan selimut dari tangan Ira, dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas karpet bulu yang baru saja digelar oleh tunangannya tersebut.
"Pak Arvin sudah sarapan?"
"Arvin menggeleng.
"Ya udah, aku beliin sarapan dulu di luar."
"Tidak usah."
"Kenapa? Nanti Pak Arvin sakit lho kalau tidak makan."
"Aku mau kamu yang masakin sarapan buat aku," ujar Arvin.
"Pak, jangan aneh-aneh deh. Bukannya aku nggak mau masakin makanan buat Pak Arvin, tapi, Bapak kan tahu kalau aku nggak bisa masak. Aku sendiri aja sering beli kok kalau makan."
"Tapi, masak mie instan bisakan?"
"Bisa sih, tapi bukannya Pak Arvin paling nggak suka ya makan mie instan."
"Kali ini aku mau makan mie instan asal itu buatanmu," jawab Arvin.
"Ya udah, aku buatin mie instan sekarang. Tapi, aku punya stok mie instan nggak ya, soalnya aku jarang banget bikin mie instan."
"Itu." Arvin menunjuk lemari kecil di belakang Ira. Di atas lemari itu ada satu bungkus mie instan.
"Sambil nunggu aku bikin mie buat Bapak, Pak Arvin silakan tidur dulu!" suruh Ira.
Arvin mengangguk. "Jangan lama-lama ya."
"Iya, Pak."
Ira keluar dari kamar untuk menuju ke dapur yang letaknya berjarak tiga kamar dari kamar kosan Ira.
"Ini, Pak, mienya sudah jadi," ucap Ira dengan semangkuk mie di tangannya. Namun tidak ada jawaban dari Arvin. Rupanya laki-laki itu sudah masuk ke dunia mimpi.
Ira meletakkan mangkuk berisi mie di atas meja. Ira menatap wajah Arvin yang tampak kelelahan. "Kamu pasti sangat capek."
Ira merapikan selimut yang dipakai oleh Arvin. Wanita itu kemudian memilih duduk di dekat pintu yang terbuka. Ia menyenderkan kepalanya pada daun pintu. Ira tidak mau ada yang mengganggu tidur kekasihnya.
*
Ira menggeliatkan tubuhnya. Dia langsung membuka mata ketika menyadari jika dirinya tertidur.
"Astaga kenapa jadi aku yang tertidur?" pekik Ira. Dia sedikit bingung karena mendapati dirinya tidur di atas kasur. Padahal ia betul kalau tadi dia duduk di dekat pintu untuk menjaga agar sang kekasih bisa tidur dengan lelap tanpa gangguan dan tanpa fitnah dari penghuni kos yang lain.
"Sudah bangun?" Ira menoleh ke sumber suara.
"Pak Arvin kok sudah bangun sih?"
"Setengah jam sudah cukup buat aku mejemin mata," jawab Arvin sambil tersenyum.
Ira melihat ke arah jam digital yang ada di atas lemari. Jam tersebut menunjukan pukul setengah sepuluh pagi, padahal saat dirinya datang membawa mie instan, jam itu menunjuk pukul delapan yang artinya dia tertidur selama satu setengah jam.
"Oh iya, mie instannya.... " Ira tidak melanjutkan perkataannya. Dia melihat mangkuk yang ia bawa tadi sudah kosong.
"Pak Arvin yang makan mie itu?" tanya Ira.
"Kan kamu buatin buat aku, ya aku makan lah."
"Bukan begitu, Pak. Tapi, pasti mie itu sudah gak enak, apalagi sudah dingin, harusnya Pak Arvin nggak memakannya."
"Aku nggak tega membuang apa pun yang dibuat oleh tanganmu," jawab Arvin.
"Pak Arvin sengaja bilang begini supaya aku maafin Bapak soal artikel itu kan?" Ira sengaja mengungkit soal artikel yang memuat berita tentang Arvin dan mantannya Nadin. Dia tidak mau Arvin melihat wajahnya yang tersipu karena jawaban yang keluar dari mulut kekasihnya tersebut. Jujur saja, meski bukan hal romantis, jawaban Arvin tadi mampu membuay hati Ira tersentuh.
Arvin duduk ditepian kasur sambil menatap mata Ira. "Tujuanku datang ke sini, selain untuk menjemputmu, juga karena aku ingin menjelaskan soal artikel itu. Dan asal kamu tahu, salah satu hal yang membuatku tidak bisa tidur semalaman karena aku takut kamu salah paham soal artikel itu. Aku takut kamu marah dan akhirnya minta putus. Aku tidak mau hal itu terjadi," ucap Arvin dengan sungguh-sungguh.
Ira terdiam. Memang benar, semalam setelah dia melihat artikel itu dia sangat cemburu dan marah. Namun, tadi pagi saat ia melihat Arvin datang dengan lingkaran hitam di matanya, perasaan marah itu sirna berganti dengan kekhawatiran. Ia yakin kalau kekasihnya itu sudah berhari-hari tidak bisa tidur dengan nyenyak.
"Dua bulan yang lalu, saat aku dan Vano selesai meeting. Aku melihat Nadin di restoran bersama dengan seorang pria. Awalnya aku tidak mau memperdulikan itu. Tapi, saat aku melihat pria itu mulai berbuat kurang ajar pada Nadin, aku tidak bisa tinggal diam. Bukan karena aku masih mencintai dia, tetapi sebagai manusia yang berakhlak bukankah aku harus menolong saat seseorang dalam bahaya, apalagi wanita. Aku paling tidak bisa melihat wanita disakiti karena aku sendiri memiliki adik perempuan." Arvin menatap Ira. "Menurutmu apa aku salah melakukan itu?"
Ira menggeleng. Namun sedetik kemudian dia menatap Arvin serius.
"Pak."
"Barusan kamu menggeleng, tetapi kenapa sekarang kamu menatapku begitu? Apa kamu marah?" tanya Arvin. Dia benar-benar takut kalau Ira akan marah kepadanya. "Ra, kamu nggak marah gara-gara ini kan? Kamu nggak akan minta putus gara-gara ini kan?" Arvin yang awalnya ingin bersikap biasa akhirnya panik.
"Pak, apa Bapak sudah memberikan pelajaran yang setimpal kepada laki-laki yang sudah berbuat kurang ajar sama Mbak Nadin itu? Bagian mana yang Bapak pukul? Harusnya Bapak tinju mukanya dengan sekuat tenaga biar dia kapok dan nggak berbuat kurang ajar sama cewek."
Lagi-lagi Arvin dibuat terkejut dengan reaksi Ira. Dia mengira kalau Ira akan marah kepadanya, namun ternyata tidak. Arvin tersenyum, dia menarik Ira kedalam pelukan. Dia begitu bersyukur karena Tuhan sudah memberikannya tunangan sebaik Ira. Dibalik sikapnya yang kadang masih kekanak-kanakan sebenarnya Ira adalah definisi wanita yang selalu berpikiran positif. Dia tidak akan pernah marah bila itu berurusan soal kemanusiaan.
"Pak."
"Hm."
"Bapak mau membunuhku dengan memelukku seerat ini? Aku susah napas, Pak."