Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Sahabat lama



Ira merasa begitu lega karena akhirnya dia bisa sampai di tempat ujian tepat waktu. Sebelum masuk ke ruang ujian ada petugas yang memeriksa tubuh Ira untuk memastikan bahwa tidak ada barang atau apapun yang dibawa oleh peserta selain alat tulis. Berdasarkan nomor ujian yang didapat oleh Ira, dia mendapat tempat duduk paling depan baris kedua setelah pintu masuk. Soal sudah dibagikan, semua peserta ujian sudah mulai mengerjakan soal tersebut. Pun demikian dengan Ira, meski awalnya dia deg-degan karena takut tidak bisa menyelesaikan soal ujian tersebut dengan baik. Namun, senyum sumringah akhirnya terukir di wajah manisnya. Entah kenapa kalau dia bisa mengerjakan soal tersebut dengan mudah. Hampir semua soal yang ada di kertas itu pernah ia pelajari bersama sang kekasih. Meski tidak plek, setidaknya ada gambaran bagi Ira untuk menjawab semua soal yang ada di kertas tersebut.


"Ternyata nggak hanya ganteng, Pak Arvin juga jago memprediksi soal seperti ini," puji Ira dalam hati.


Satu per satu peserta ujian mulai meninggalkan tempat ujian saat waktu dinyatakan telah habis, demikian juga yang dilakukan oleh Ira, meski sebenarnya dia sudah menyelesaikan semua soal tiga puluh menit sebelum waktu habis, dia mencoba meneliti kembali jawaban yang sudah ia tulis dilembar jawabnya.


"Ah, untunglah aku bisa datang tepat waktu," ucap Ira sambil meregangkan otot-ototnya begitu dia sudah keluar dari ruang ujian.


"Qilla," sapa seorang peserta ujian lain. Ira melihat sekeliling, siapa tahu ada orang yang memiliki panggilan yang sama dengannya.


"Kamu ngomong sama aku?" tanya Ira sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya ampun, Qilla. Kamu nggak inget sama aku?"


Sekali lagi Ira mencoba memperhatikan orang yang ada di depannya.


"Sudah ingat?" tanya orang itu lagi.


Ira menjawabnya dengan sebuah gelengan. "Maaf, aku beneran nggak ingat," jawab Ira yang dibarengi dengan cengiran kudanya.


Orang yang ada dihadapan Ira ini terbilang cukup cantik. Dia juga manis, kalau dilihat dari bentuk tubuhnya, dia seperti seorang model.


"Yah, aku beneran kecewa, padahal waktu SMA dulu kita teman baik," keluh orang itu.


Teman baik? Tunggu! Ira kembali mengingat masa SMA nya dulu dan dia ingat kalau dia memang pernah memiliki sahabat baik waktu SMA dan itu hanya setahun karena dia ikut orang tuanya pindah keluar negeri. Tapi yang Ira ingat kalau sahabatnya itu terbilang cupu, dia sering memakai kacamata tebal saat di sekolah. Sangat berbeda jauh dari orang yang saat ini berdiri di depannya.


"Aku memang pernah punya satu sahabat sih waktu di sekolah, tapi penampilannya nggak seperti kamu." Ira berusaha berhati-hati dalam berucap dia tidak ingin menyampaikan sesuatu yang salah yang bisa menyakiti hati orang lain.


"Dia cupu kan? Berkacamata dan selalu menunduk kalau jalan?" lanjut orang itu.


"Iya," jawab Ira.


"Itu aku," ucap orang itu.


"Hana?"


Ira kembali menatap orang itu, dia masih tidak percaya kalau orang yang ada dihadapannya adalah sahabatnya dulu, Hana.


"Hana? Kemana saja kamu? Kenapa kamu nggak pernah ngasih kabar ke aku setelah pindah?" tanya Ira.


"Ceritanya panjang. Ayo kita bicara di kantin saja sambil makan!" ajak Hana.


"Hayuk!" jawab Ira.


Ira dan Hana akhirnya menuju kantin yang ada di gedung itu. Setelah memesan makanan dan minuman keduanya langsung duduk sambil mengobrol.


"Ku kira kamu sudah kuliah terlebih dulu dibanding aku, kamu kan pinter banget dulu."


"Tadinya juga aku inginnya begitu, tapi aku berubah pikiran. Aku harus bisa tampak cantik karena aku ingin mendapatkan orang yang aku cintai. Kamu tahu, aku bahkan ikut sedot lemat, operasi lasik untuk membuat mataku yang sudah minus kembali normal," cerita Hana.


"Wah, sepertinya kamu sangat mencintai orang itu sampai rela mengubah penampilanmu."


Hana tersenyum.


"Kalau boleh tahu siapa dia?" tanya Ira.


"Kami sebenarnya sudah dijodohkan, tapi karena mantannya seorang model, jadi aku harus tampil lebih cantik dari model itu. Dia itu pengusaha muda, dia ikut mengelola bisnis ayahnya," jawab Hana panjang lebar.


"Dia pengusaha Jogja?"


"Bukan. Tapi, saat ini dia berada di Jogja makanya aku putuskan untuk berkuliah di sini," jawab Hana.


"Siapa namanya? Siapa tahu aku kenal?" tanya Ira lagi.


"Namanya... Ar.... " Hana tidak melanjutkan perkataannya saat benda pipih miliknya itu berdering. "Sebentar ya, Qil."


Hana sedikit menjauh dari Qilla.