
"Pak, jadi selain punya mantan yang artis kemarin Bapak juga punya pacar lain selain aku?" tanya Ira.
"Ira, Ira, ini nggak bener. Aku aja nggak kenal sama dia," jawab Arvin sambil menunjuk wanita yang mengaku sedang hamil tadi.
"Apanya yang nggak bener, Pak. Barusan dia bilang kalau dia hamil."
"Eh, siapa kamu ngaku-ngaku hamil di depanku?" tanya Arvin.
"Aku kan memang hamil."
"Tuh kan, Pak. Bapak masih ngelak? Dasar Pak Arvin buaya!" ujar Ira marah. Dia bahkan menampar pipi kekasih barunya tersebut. "Kalau begitu kita putus!"
"Ira, baru juga kemarin kita jadian, kamu harus dengerin aku dulu. Ini nggak bener, Ira. Aku nggak ngehamilin siapa pun."
"Terus menurut Pak Arvin wanita ini bohong?" Ira terlihat marah karena Arvin masih tidak mau mengaku. "Mbak, Mbak tenang saja. Kalau dia nggak mau bertanggung jawab, aku akan memaksanya agar dia mau nikahin, Mbak."
Wanita itu terlihat bingung mendengar perkataan Ira barusan.
"Tapi, Mbak ini itu.... "
"Sudah Mbak. Mbak serahkan saja semuanya padaku. Aku pastikan dia akan nikahin Mbak." Potong Ira tanpa menunggu wanita itu selesai berbicara.
"Apanya yang harus bertanggung jawab, kenal saja enggak," tolak Arvin yang masih kekeh dengan pernyataannya bahwa dia tidak mengenal wanita tersebut.
"Ya udah Mbak, kalau dia masih nggak mau ngaku, kita lapor polisi aja!" suruh Ira.
"Mbak, tapi saya.... "
"Nggak usah takut! Aku akan temani Mbaknya ke kantor polisi," sela Ira sebelum wanita itu menyelesaikan perkataannya.
"Lho ada apa ini?" tanya laki-laki yang ikut mendekat ke arah mereka. "Sayang gimana sudah mendapatkann yang kamu pengen?" laki-laki yang baru datang barusan mengusap perempuan yang baru saja mengaku hamil di depan Arvin dan Ira barusan.
"Belum, Mas. Mas dan Mbaknya, malah ngoceh nggak jelas."
"Lho... Mbaknya nggak hamil anaknya Pak Arvin?" tanya Ira.
"Sembarang saja Mbak! Dia ini istri saya dan anak yang dikandungnya juga anak saya," jawab laki-laki tersebut.
"Lho terus kenapa tadi istri Anda bilang kalau dia hamil di depan Pak Arvin.?"
"Benar sayang kamu bilang begitu?" tanya laki-laki tersebut kepada istrinya.
"Iya, Mas. Tadi itu aku mau bilang kalau aku hamil dan aku pengen ngusap kepala Masnya itu. Eh, belum selesai aku ngomong Mas dan Mbaknya malah tengkar. Aku kan jadi bingung, Mas," jawab wanita itu panjang lebar.
"Jadi, Mbak nggak hamil anaknya Pak Arvin?"
"Enggaklah, Mbak. Ini itu asli anak suami saya," jawab wanita itu.
"Jadi maksud Mbak bilang hamil itu.... "
"Iya, Mbak, istri saya bilang dia pengen ngusap rambut Masnya. Makanya saya suruh dia bilanf sendiri. Saya nggak rela lihat istri saya ngusap rambut cowok lain."
"Mas, ini itu kepinginan anaknya lho," ucap wanita itu kepada suaminya.
"Gimana Mbak saya bolehkan ngusap rambut pacarnya?" tanya wanita itu.
Wanita itu mengangkat tangannya hendak mengusap kepala Arvin. Namun, ditahan oleh Ira.
"Aku wakilin aja ya, Mbak." Ira mengusap rambut Arvin untuk menggantikan wanita itu. "Sudah selesai. Sekarang Mbak boleh pergi!"
Sepasang suami istri terlihat bengong sesaat. Mereka tidak menyangka orang yang sejak tadi mati-matian menyuruh untuk bertanggung jawab, tiba-tiba berubah posesif. Mereka sampai mengedipkan matanya beberapa kali.
"Udah sayang, kita pergi saja! Bahaya ceweknya galak," ucap laki-laki itu sambil membawa sang istri pergi dari sana.
"Enak saja mau ngusap rambut pacarku. Aku aja belum pernah," omel Ira.
"Pacarmu? Siapa?"
"Bapaklah siapa lagi," jawab Ira.
"Perasaan ada yang udah mutusin saya tadi," ucap Arya sambil melirik ke arah Ira.
"Maafin aku!" ucap Ira sambil menundukkan kepalanya. "Aku kan bilang begitu karena terbawa emosi."
"Pipiku juga masih sakit gara-gara kena gampar," tambah Arvin sambil mengusap pipinya dengan tangan.
Arvin terdiam ketika tiba-tiba, Ira mencium pipinya. "Apa masih sakit?"
"Masih sedikit."
Ira kembali mencium pipi Arvin lagi. "Sekarang, apa masih sakit?" Ira menatap dua bola mata kekasihnya.
"Sekarang sudah tidak. Apalagi jika.... "
Mata Ira membulat kala Arvin tiba-tiba mendaratkan bibir diatas bibir tipis miliknya. Ira kemudian memejamkan matanya sambil ikut menggerakkan bibir seperti yang dilakukan oleh bosnya tersebut.
"Pak kali ini kita tidak kecepetan kan?" tanya Ira sambil mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Dia masih merasa malu dengan hal yang baru saja mereka melakukan.
"Aku rasa tidak," jawab Arvin.
"Tapi, Pak. Bapak kan belum menerima permintaan maafku, Bapak juga belum bilang kalau kita kembali jadian."
Arvin mencubit gemas hidung kekasihnya. "Kamu pikir aku cowok apaan? Kalau aku nggak nganggap kamu pacarku, mana mungkin aku menciummu barusan."
"Jadi, kita udah nggak jadi putus?"
"Enggak." Arvin memeluk kekasihnya tersebut. "Aku malah ingin segera menikah denganmu."
"Apa aku nggak usah kuliah aja ya, Pak, biar kita bisa langsung nikah. Toh daddy-ku juga nyuruh aku nikahkan?"
"Tidak. Kamu harus tetap kuliah karena aku tidak mau pacaran sama cewek yang nggak pinter," jawab Arvin.
"Kamu harus kuliah Ira. Karena itu cara satu-satunya agar kamu bisa lolos dari perjodohan tersebut." lanjut Arvin dalam hati.
"Baiklah, aku akan kuliah. Tapi, sebagai hadiahnya aku mau Pak Arvin melamarku saat aku berhasil lulus ujian."
"Iya, aku akan melamarmu saat kamu lulus ujian nanti," jawab Arvin. Keduanya kembali saling berpelukan.