
"Baiklah, aku akan menemanimu jalan hari ini," jawab Ira. "Anggap saja ini sebagai permintaan maafku karena tidak mengingatmu," lanjut Ira. Dia menatap Arga sebentar sembari tersenyum.
"Kalau begitu, ayo jalan!" ajak Arga.
Arga mengajak Ira ke tempat dia memarkirkan mobilnya. Setelah itu, keduanyapun meninggalkan area tempat tersebut.
Sementara itu orang yang tadi memperhatikan Arga dan Ira dari kejauhan merasa kesal kaena tidak bisa mengikuti kemana kedua orang itu pergi.
"Mereka mau kemana sih?" gumam orang itu sambil menatap mobil yang Arga dan Ira tumpangi. "Sial! Kenapa aku gak bawa mobil ke sini sih," keluhnya sambil terus menatap mobil yang kian menjauh.
"Arvin."
Panggilan itu membuat pria yang sedang menatap mobil itu pun menoleh. Dia terlihat malas saat tahu siapa yang memanggilnya.
"Ternyata benar ya itu kamu. Tadinya aku ragu untuk memanggilmu." Wanita yang memanggil nama Arvin tersebut berjalan mendekatinya.
"Ar, kamu mau ke mana?" Wanita itu meraih tangan Arvin yang hendak pergi menjauhinya.
"Lepaskan tanganku!" sentak Arvin. Dia memberikan tatapan dinginnya kepada wanita.
"Ar, sudah berapa kali aku katakan padamu. Aku minta maaf karena aku pernah mengkhianatimu. Tapi percayalah, kamu selalu ada di dalam hatiku."
Wanita itu adalah Nadin. Dia tampak senang saat Arvin menyentuh tangan yang memegangi lengan pria itu. Senyum bahagia tampak tersungging di bibir merahnya. Namun, senyum itu langsung sirna ketika Arvin ternyata menghempaskan tangannya dengan kasar.
"Ar," lirih Nadin. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca karena harus merasakan perlakuan kasar Arvin untuk yang kesekian kalinya.
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun, jadi aku mohon jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Aku bukan orang bodoh yang akan mau kembali lagi dengan wanita yang sudah mengkhianatiku beberapa kali." Setelah mengatakan itu, Arvin langsung berjalan meninggalkan Nadin.
"Ar, aku pasti akan berusaha untuk mendapatkan cintamu lagi," ucapnya sambil menatap punggung Arvin yang menjauh.
***
Sementara itu di dalam mobil, Ira tampak antusias menikmati setiap jalan yang dilaluinya. Dia terus tersenyum sambil menilmati pemandangan melalui kaca mobil yang ditumpanginya.
"Ohya, Ga. Apa setelah aku mengucapkan janji itu kamu terus memikirkannya dan berharap untuk segera bertemu denganku lagi?" tanya Ira sambil menatap ke arah pria yang duduk di sampingnya.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Apa jika aku menjawab iya, kamu akan mau menikah denganku?"
"Tidak juga sih."
"Kenapa?"
"Aku kan sudah dijodohkan oleh kedua orang tuaku," jawab Ira beralasan. Padahal alasan dia bisa sampai ke kota yang memiliki beberapa julukan yang salah satunya adalah kota pelajar itu adalah untuk menghindari perjodohan yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
"Memang kamu mau menikah dengan laki-laki yang sudah dijodohkan denganmu itu?" tanya Arga.
"Mungkin," jawab Ira.
"Lalu kenapa kamu kabur?"
"Aku hanya ingin mencari tujuan hidupku yang sebenarnya. Sejak kecil aku hanya melakukan hal-hal yang sudah disediakan oleh kedua orang tuaku. Aku memang merasakan kalau semua hal itu menyenangkan, tapi, aku juga ingin menemukan hal yang sebenarnya aku inginkan. Itulah salah satu alasan aku kabur dari rumah."
"Jadi, jika kamu sudah menemukan semua itu kamu akan kembali dan menerima perjodohanmu?"
Ira berpikir sebentar. "Mungkin," jawab Ira.
Arga hanya tersenyum. Dia ingin memberikan wanita yang disukainya itu menemukan hal yang dia inginkan. Dia berharap setelah menemuman semua itu, Ira benar-benar akan pulang ke rumah dan menerima perjodohannya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Arga saat melihat Ira memukul-mukul telepon genggamnya dengan tangan.
"Disini tidak ada sinyal ya?" tanya Ira sambil terus melihat kearah ponselnya.
"Ada kok," jawab Arga setelah melihat telepon genggamnya sendiri. "Full malah."
"Aneh," gumam Ira.
"Apanya yang aneh?"
Ira memperlihatkan layar ponselnya kepada Arga. Beberapa kali Arga mengedipkan matanya untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat.