
Ira mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada Arvin.
"Pak, gak usah terburu-buru kalau makan," ucap Ira sambil memukul pelan punggung sang kekasih.
"Itu barusan teman SMA kamu?" tanya Arvin.
"Iya, dia teman SMA aku dulu. Beda jauh kan wajahnya sekarang sama pas waktu SMA dulu?"
"Iya, beda," jawab Arvin.
"Hedeh, gimana kalau si Hana cerita sama Ira kalau dia tunangan gue. Meski cuma pura-pura sih. Tapi kan si Hana nggak tahu kalau itu pura-pura. Bisa kacau dunia percintaan gue," keluah Arvin dalam hati.
"Pak, Pak Arvin ngelamun?" tanya Ira saat melihat sang kekasih terdiam.
"Tidak, hanya ingat sesuatu saja," jawab Arvin.
"Pak Arvin nggak bohong kan?" tanya Ira, dia memberikan tatapan tajamnya kepada sang kekasih.
"Bohong?"
"Jangan bilang Bapak mikirin dia gara-gara dia lebih cantik dari aku. Awas saja!" ancam Ira sambil menfacungkan dua jarinnya seperti hendak mencungkil sesuatu.
"Apaan sih kamu. Enggaklah. Buat apa aku mikirin yang lain, mikirin kamu aja gak habis-habis," jawab Arvin yang kembali melanjutkan makannya. Dia tidak perduli jika seandainya Hana tahu kalau dia cuma pura-pura menerima perjodohan tersebut. Toh itu permintaan orang tuanya sendiri.
"Bener, nih, kamu nggak sedang memikirkan apa pun?" kembali Ira bertanya.
"Hmm... ada sih."
"Tuh, kan. Pak Arvin jahat, baru lihat cewek cantik di poto aja dah dipikirin." Ira memasang wajah cemberutnya dihadapan sang kekasih.
"Aku gak mikirin itu, sayang. Aku tuh lagi mikirin gimana caranya buat kamu seneng hari ini tanpa membuat waktu belajarmu berkurang. Soalnya besok kamu masih harus ngikutin ujian masuk lagi kan? Aku nggak mau gagal ngelamar kamu," jawab Arvin sambil mencuit hidup Ira yang gak terlalu mancung itu.
Mendengar kata ngelamar membuat pipi Ira bersemu merah. Sejujurnya, dia juga nggak sabar menantikan hari itu tiba.
"Aku juga gak mau gagal dilamar sama Pak Arvin," balas Ira.
"Gak enak, Pak."
"Lho, kok? Masa gak enak sih?" tanya Arvin bingung perasaan makanan yang sedang dimakan olehnya rasanya sangat enak. Dan makanan tersebut merupakan salah satu menu termahal di restoran mewah itu.
Arvin mencoba menyendok makanan yang ada dihadapannya dan memasukkan kedalam mulutnya sendiri.
"Rasanya enak, kenapa kamu bilang nggak enak?" tanya Arvin sambil mencoba meresapi makanan yang sedang ia nikmati.
"Itu gak enak, Pak," kekeh Ira.
"Terus yang makanan yang enak yang kayak apa?" tanya Arvin bingung.
"Bapak tahu kenapa aku bilang makanan itu gak enak?"
Arvin menggeleng, "kenapa?"
"Karena Bapak nyuapinnya cuma sedikit, coba Bapak nyuapinnya banyak pasti aku bisa menikmati makanan itu hingga puas."
Akhirnya Arvin tahu yang dimaksud gak enak oleh kekasihnya. Dia pun kembali menyuapi kekasihnya itu dengan makanan kesukaannya tersebut.
Pada saat kedua sejoli itu sedang menikmati makanan mereka penuh cinta. Tiba-tiba, ada kiriman buket bunga mawar yang diperuntukkan untuk Ira.
"Wah, Pak Arvin so sweet banget. Makasih ya, Pak," ucap Ira sambil menerima buket bunga tersebut dari tangan waiters. Dia mencium buket bunga mawar ditangannya penuh cinta.
"Tapi, sayang.... "
"Pak, kenapa Bapak malah nyuruh orang buat ngasih bunga ini? Kenapa gak ngasih langsung aja kan aku ada di depan Bapak?" tanya Ira sambil menatap kelasihnya itu.
"Sayang.... "
"Apa kamu suka dengan bunganya?"
Ira dan Arvin sama-sama menoleh ke sumber suara.