
"Mama," gumam Hana. Dia sedikit mengendurkan cekikan di leher Ira. Hana tidak pernah mengira kalau mama dan papanya akan datang ke sini dan melihat perbuatan buruk yang sedang ia lakukan.
"Mama... dari mana Mama tahu kalau aku ada di sini?" tanya Hana.
"Keluarga Dion yang menghubungi mama dan Papa. Mereka sudah berhasil menangkap asisten rumah tangga yang kamu bayar," jawab Mamanya Hana. "Sayang, hentikan semuanya! Jangan lakukan hal yang lebih buruk lagi dari ini. Mama mohon!" pinta Mamanya Hana sambil menangis.
"Tidak, Ma. Aku tidak akan berhenti sebelum berhasil memisahkan wanita ini dengan Arvin. Karena gara-gara dia, kesempatanku untuk bisa bersama pangeran impianku sirna. Dia harus musnah dari dunia ini, Ma. Harus!" Hana kembali kalap, tangannya semakin kuat mencekik leher Ira.
"Lepas... lepaskan... a...ku," ucap Ira sambil meronta. Namun, tidak berhasil.
"Sayang hentikan!" Mama dan papanya Hana berusaha melepaskan cekikan tangan Hana di leher Ira.
"Mama dan Papa minggir!" sentak Hana sambil mendorong tubuh mamanya agar menjauh dan karena hal itulah mamanya Hana jatuh dan kepalanya terbentur batu hingga mengeluarkan darah.
"Ma." Papanya Hana segera menghampiri tubuh istrinya yang jatuh tersebut. "Ma, Mama tidak apa-apa kan?
"Ha... na, jangan lakukan itu, Nak. Menye... rah lah!" ujar mamanya Hana sebelum akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri.
"Ma, sadar Ma!" panggil papanya Hana kepada istrinya.
Untuk sesaat Hana terkejut dengan tindakannya sendiri. Tapi, bukannya menyadari kesalahannya, dia malah menyalahkan Ira.
"Ini semua gara-gara kamu!" teriak Hana. "Gara kamu Qilla! Gara kamu!" teriak Hana seperti orang kesurupan.
"Kamu harus mati Qilla, kamu harus mati!" Dia menarik kasar tangan Ira dan membawanya ke kapal yang sudah anak buahnya persiapkan.
***
"Kamu dengar suara itu?" tanya Arga kepada Arvin.
Arvin mencoba mendengar dengan seksama. "Sepertinya itu dari sana!" Arvin menunjuk ke arah kanannya.
"Om, apa yang terjadi dengan Tante?" tanya Arvin.
"Ini perbuatan Hana, dia tega melukai mamanya sendiri," jawab papanya Hana.
"Sekarang dimana Hana?" tanya Arga.
"Dia membawa Qilla menuju ke pelabuhan, mungkin dia ingin membawa Qilla pergi dari sini dengan kapal," jawab papanya Hana.
"Ar, sebaiknya kamu segera kejar Hana! Jangan sampai kita kehilangan jejaknya lagi!" suruh Arga. "Orang tuanya saja tega dia lukai, tidak menutup kemungkinan dia akan lebih tega kepada Qilla," lanjutnya.
"Ga, tolong kamu bawa mereka ke rumah sakit!" pinta Arvin.
"Pasti, Vin. Cepat susul Ira sebelum kapal itu berhasil meninggalkan pelabuhan!" suruh Arga lagi.
"Nak Arvin," panggil papanya Hana.
"Ada apa, Om?"
"Tolong, jangan lukai putriku. Dia begitu karena kesalahan kami. Serahkan saja dia ke polisi, tapi jangan kamu lukai dia!" pinta papanya Hana dengan mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada. "Om mohon, Vin!"
"Aku akan usahakan, Om," jawab Arvin.
"Terima kasih."
"Sama-sama. Aku pergi sekarang!" Setelah mengatakan itu Arvin segera berlari menuju ke pelabuhan. Dia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada tunangannya.
"Semoga berhasil, Vin. Aku serahkan keselamatan Ira kepadamu," gumam Arga. Dia kemudian membantu membantu papanya Hana membopong tubuh istrinya untuk menuju ke rumah sakit.