Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Motif benda itu??



"Pak, Kenapa Pak Arvin nggak jawab pertanyaan aku?" tanya Ira lagi. Dia menatap sang kekasih sembari menunggu jawaban darinya.


"Itu, Ra. Tiba-tiba si Vano telepon dia bilang ada sesuatu yang penting yang harus dibahas."


"Pak, Bapak nggak sedang ngigau atau kecelakaan kan?"


"Astaghfirullah hal a'dzim, Ira. Masa kamu doain aku kecelakaan sih," protes Arvin.


"Kalau gitu Bapak sedang ngigau?"


"Mataku melek gini dibilang ngigau. Nggaklah sayang, aku nggak ngigau," jawab Arvin.


Ira mengendus mulut Arvin. "Sepertinya Bapak juga nggak mabuk, karena aku nggak nyium bau alkohol dari mulut Bapak. Tapi kenapa Bapak amnesia ya?" Ucapan Ira semakin membuat Arvin kebingungan.


"Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu. Aku itu nggak lagi ngigau, nggak lagi mabuk, apalagi kecelakaan. Aku juga nggak sedang amnesia karena buktinya aku masih bisa ngenalin kamu sebagai keksaihku," ucap Arvin panjang lebar.


"Terus kenapa Bapak sampai lupa kalau Pak Vano sudah ninggalin Jogja dari kemarin?"


Arvin baru menyadari kali ini alasan yang dibuatnya salah. Bagaimana dia memakai Vano sebagai alasan dia pergi meninggalkan Ira secara mendadak. Padahal Vano sudah meninggalkan kota Gudeg itu bersama dengan Queen.


"Pak, Kok diam?" tanya Ira ketika sang kekasih mendadak diam.


"Apa aku jawab jujur saja ya? Tapi, bagaimana kalau Ira justru takut karena aku memiliki pikiran liar itu," batin Arvin. Dia bergelud dengan dirinya sendiri.


"Pak, Bapak beneran nggak lagi ngebohongin aku kan?" sekali lagi Ira bertanya.


"Bener kamu mau tahu alasan kenapa aku tiba-tiba pergi begitu aja ninggalin kamu?" tanya Arvin mematisakan.


"Tentu saja. Aku paling tidak suka dibohongi," jawab Ira.


"Iya, Pak, aku janji. Aku nggak akan berpikiran yang aneh-aneh tentang Pak Arvin," janji Ira.


"Sebenarnya.... " Arvin menggantung kalimatnya, dia merasa malu ketika hendak menyampaikan alasannya tersebut secara langsung.


"Sebenarnya apa, Pak?"


Arvin menarik napas panjangnya kemudian menghembuskannya berkali-kali.


"Ayolah, Pak, cerita sekarang atau kita nggak usah ngobrol sama sekali!" ancam Ira.


Arvin lebih mendekat ke arah Ira kemudian dia membisikan sesuatu di telinga kekasihnya tersebut. Mata Ira membulat mendengar pengakuan kekasihnya dan secara spontan dia menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ih, Bapak mesum."


"Pikiranku nggak akan seliar itu kalau bukan karena dua benda laknat yang kamu pegang tadi." Kini giliran Arvin menyalahkan dua benda laknat yang membuat pikirannya menjadi tidak beres tersebut.


"Jadi, Pak Arvin lihat benda itu?" tanya Ira dengan wajah merah karena malu. Arvin mengangguk.


"Itulah sebabnya aku memilih pergi, aku takut pikiran liarku tadi membuatku berbuat lancang terhadapmu. Aku mencintaimu bukan karena n*fsu. Makanya sebelum pikiran liar itu menguasai otakku, aku memilih pergi. Maaf ya jika karena hal itu kamu jadi salah paham," ucap Arvin dengan serius. Kali ini dia tidak mau membuat kekasihnya itu meninggalkan dirinya.


"Pak."


"Iya."


"Bapak tidak melihat motif dari benda itukan?"


Pertanyaan Ira sontak membuat Arvin memukul keningnya sendiri. Bagaimana bisa kekasihnya tersebut malah memikirkan dia melihat motif dari benda yang dia lihat atau tidak.