Mr. Perfect & Miss Careless

Mr. Perfect & Miss Careless
Main Trading Ilegal?



Hari pertama ujian sudah bisa dilewati Ira dengan baik. Pun dengan hari-hari berikutnya. Ujian kali ini tidak seperti ujian masuk seperti calon mahasiswa lainnya bagi Ira, karena jika ia gagal diterima menjadi mahasiswa di salah satu universitas, tidak hanya cita-citanya yang ingin menjadi dokter saja yang gagal, tetapi impian agar bisa dilamar oleh Arvin pun harus Ira lupakan. Dan Ira tidak menginginkan kedua hal tersebut terjadi padanya. Ira berharap usaha kerasnya selama ini tidak sia-sia.


"Sudah selesai ujiannya?" tanya seseorang dari belakang Ira. Ira menoleh ke sumber suara kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Tapi, aku takut gagal, Pak." Ira menghela napas beratnya. Ternyata menunggu pengumuman hasil tes jauh lebih membuatnya takut, daripada melihat kemarahan ayahnya.


"Kamu sudah belajar dengan baikkan?" tanya Arvin dan mendapat anggukan dari Ira.


"Kamu juga sudah mengerjakan semua soal dengan baikkan?"


"Ya sudahlah, Pak. Aku sudah belajar dengan sungguh-sungguh selama ini. Aku juga selalu berhati-hati saat mengerjakan soal ujian."


"Kalau begitu kamu tenang saja, aku yakin kamu pasti berhasil," ucap Arvin sambil menunjukkan senyum lebarnya.


"Tapi tetap saja, Pak, rasanya belum tenang," ujar Ira.


"Bagaimana untuk membuat suasana hatimu menjadi happy, kita jalan-jalan!" ajak Arvin sambil merangkul bahu kekasihnya tersebut. Namun, tatapan waspada justru ditunjukkan oleh Ira kepadanya.


"Ada apa? Kenapa menatapku begitu?" tanya Arvin. Dia merasa aneh dengan tatapan yang ditunjukkan oleh kekasihnya tersebut.


"Nggak mau, ah," jawab Ira.


"Tumben diajak jalan-jalan nggak mau?"


Arvin merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan sang kekasih, biasanya Ira paling suka diajak jalan-jalan apalagi sambil menikmati berbagai macam kuliner yang ada di kota pelajar tersebut. "Katakan! Kenapa nggak mau jalan-jalan?"


"Males ah kalau jalan-jalannya pakai mobil pictup kayak waktu itu," jawab Ira. Dia masih trauma jika harus berkeliling Kota Jogja dengan mobil bak terbuka tersebut. Ira ingat saat terakhir kali mereka pergi dengan mobil bak terbuka itu, mereka malah dihampiri satpol pp yang mengira mereka sedang menjajakan dagangan tahu bulat mereka di pinggir jalan. Padahal waktu itu mereka baru saja keluar dari sebuah restoran yang bisa dikatakan lumayan mewah.


"Kali ini enggak, Sayang." Arvin mencubit hidung kekasihnya gemas. Ira menatap kembali kekasihnya, baru kali ini sang kekasih memanggilnya dengan panggilan sayang yang begitu lembut didengar di telinganya hingga membuat wajah Ira berubah merah bak kepiting rebus. Dia suka dengan panggilan itu.


"Sayang, kamu nggak apa-apakan?" tanya Arvin yang justru ketakutan melihat sang kekasih tersenyum sambil melamun.


"Memangnya aku kenapa?"


"Ish. Orang tersenyum kenapa malah takut? Memangnya aku hantu?" gumam Ira kesal.


Arvin meraih tangan kekasihnya. "Aku hanya becanda, jangan marah lagi ya, ya?"


"Iya-iya, aku nggak marah kok," jawab Ira.


"Terus gimana kita jadi jalan-jalan, nggak?"


"Asal nggak pakai kendaraan yang aneh-aneh, aku mau," jawab Ira.


"Kalau begitu, ayo!" ajak Arvin lagi, dia kembali merangkul bahu sang kekasih dan membawanya meninggalkan tempat tersebut. Mereka segera ke tempat parkir untuk mengambil kendaraan yang akan mereka gunakan untuk jalan-jalan hari ini.


"Tada!" Arvin menunjukkan kendaraan yang akan mereka pakai. Mata Ira berbinar melihat sang kekasih akhirnya mau membawanya jalan-jalan dengan mobil mewah Mervedes-Benz Torpedo yang ia tahu harganya bisa mencapai 111 milyar, apalagi mobil jenis hanya dibuat sebanyak 12 unit saja. Bukan karena matre, Ira ingin diajak kekasihnya jalan-jalan menggunakan mobil mewah, hanya saja dia ingin merasakan menjadi tokoh wanita dalam drama Korea favoritnya yang sang pemeran utama wanita diajak berkeliling dengan menggunakan mobil yang sangat mewah itu. "Bagaimana kamu suka dengan mobilnya?" tanya Arvin lagi.


Ira memindai mobil di hadapannya. "Suka," jawab Ira sambil tersenyum.


"Kalau begitu silakan masuk Tuan Putri!" Arvin mempersilahkan kekasihnya untuk masuk ke dalam mobil merah tersebut. Awalnya Ira terlihat sangat bahagia dengan perlakuan manis dari kekasihnya itu. Namun, ketika satu kakinya hendak melangkah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Ira malah tidak jadi masuk ke dalam mobil tersebut.


"Ada apa lagi?"


Senyum yang tadi sempat terukir di wajah Ira mendadak berubah. Dia justru memberikan tatapan tajamnya kepada Arvin.


"Pak Arvin, nggak ikutan main trading ilegal itukan?"


"Hah?" Arvin mengedipkan matanya beberapa kali, bagaimana bisa kekasihnya tersebut berpikiran kalau dirinya bermain trading yang sedang viral di berita televisi dan akun media sosial.


🌺🌺🌺


Hai-hai otor kembali, Gaes. Maaf ya baru up πŸ™, Hari ini satu chapter dulu ya, Gaes, maklum baru kembali bertemu Mbak Ira dan Mas Arvin lagi, jadi feel belum meresap ke hati otor lagi. Doakan semoga besok dan seterusnya bisa up lebih dari satu chapter. Terimakasih karena sudah mau sabar menunggu, LOVE U ALL πŸ’‹