
"Apa dia mau menciuku kayak di drakor yang aku tonton?" Hati Ira kegirangan hanya dengan membayangkan. Meski tidak mau mengakui secara lisan bahwa bosnya adalah pria yang sangat tampan, tetapi dalam hati Ira mengakuinya. Bahkan menurut gadis yang masih kebingungan menentukan jurusan untuk kuliahnya tersebut, Arvin masuk dalam karegori cowok idaman.
"Tapi, kalau Pak Arvin beneran menciumku apa yang harus kulakukan? Langsung membalas ciumannya atau pura-pura marah?" Ira bertanya dalam hati kepada dirinya sendiri. Ira mulai memejamkam matanya kala jarak wajah keduanya tinggal sepuluh sentimeter. Degup jantungnya kian bertalu-talu. Satu sisi dia masih bingung hal yang harus dilakukan setelah Arvin menciumnya, akan tetapi di sisi yang lain Ira sudah tidak sabar ingin merasakan bibir manis milik bosnya itu.
"Eh, kenapa lama? Padahalkan cuma tinggal sepuluh senti doang?" Ira memajukan bibirnya berharap agar bibir seksi bosnya itu segera mendarat dengan sempurna di atas bibirnya.
"Sedang apa kamu?" pertanyaan Arvin membuat Ira bangun dari khayalannya. Apa lagi dia sudah tidak merasakan beban di atas tubuhnya.
"Eh, Pak, anu ... itu .... "
"Jangan bilang kalau kamu mengharapkan aku untuk menciummu." Arvin menyipitkan matanya menatap Ira.
"Nggak, kok, Pak. Nggak sama sekali," jawab Ira.
"Terus ngapain bibir kamu sampai monyong-monyong gitu?"
"E... itu anu, Pak, anu. Eh, apa yang ada di tangan Bapak?" tanya Ira mencoba mengalihkan pembicaraan saat melihat tangan Arvin seperti memegang sesuatu. Ira segera bangun dan berdiri menghadap bosnya.
"Tadi aku mengambil ini dari rambutmu. Jorok sekali, pasti kamu jarang pakai shampo ya saat mandi sampai aku menemukan kutu di rambutmu."
"Ih, aku rajin sampoan kok, Pak. Mungkin Bapak salah lihat kali ini. Sini aku lihat yang dipegang Bapak itu beneran kutu bukan? Atau jangan-jangan Bapak nggak bisa ngebedain mana kutu mana yang bukan!" Ira meminta Arvin menunjukkan sesuatu yang ada ditangannya tersebut.
"Eh, sudah lepas ternyata. Tapi, beneran tadi itu kutu," jawab Arvin.
"Bapak bohong ya?"
"Ngapain juga bohong, nggak ada gunanya kan?"
Arvin kembali bersikap sok cool. Padahal kenyataannya, dia memang tertarik dengan bibir tersebut dan hampir mencium bibir tipis berwarna pink milik Ira itu. Beruntungnya saat bibir itu hampir menempel, kesadarannya kembali hinggap di kepalanya dan membuatnya mau tidak mau harus mencari alasan agar niatnya itu tidak terbaca oleh Ira. Satu-satunya hal konyol yang Arvin ingat hanya soal kutu rambut.
Ira hanya mendengkus. Dia merasa sangat kecewa karena khayalan untuk merasakan satu adegan seperti di drama korea, gagal. Dia berjalan mendahului Arvin.
"Hei Ira tunggu aku!" seru Arvin, Ira malah semakin cepat mengayunkan langkahnya.
"Benar-benar ya. Sudah kubilang tunggu, malah makin cepet jalannya. Awas saja kalau sampi terkejar." Arvin ikut berlari menyusul Ira.
Arvin hampir saja terjatuh ketika Ira menghentikan langkahnya secara mendadak.
"Hei, kalau mau berhenti kasih aba-aba kek. Hampir saja kejadian barusan terulang lagi," protes Arvin.
"Iya, Pak, maaf," ucap Ira.
"Terus ngapain tiba-tiba kamu berhenti?" tanya Arvin.
"Lihat, Pak, sepertinya wanita itu sadenag sakit!" Ira menunjuk seseorang wanita yang sedang memegangi dadanya yang berada tidak jauh dari mereka. Arvin mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ira, dia segera berlari mendakati orang tersebut dan Ira segera menyusulnya. Di samping wanita itu ada anak kecil berumur sekitar lima tahun.
"Mbak, Mbak, tidak apa-apa?"
"Ibu, Ibu bangun! Ibu." Teriak anak kecil itu sambil menangis.
Arvin meminjam mobil dari salah salah satu penjual yang ada di tempat itu. Dia segera membawa wanita itu ke rumah sakit.
***
Ira dan Arvin yang tadinya sedang duduk di kursi stainles di depan IGD di sebuah rumah sakit berdiri ketika ada seorang dokter yang keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan wanita itu?" tanya Ira dan Arvin bersamaan.
"Alhamdulillah, dia sudah mulai membaik. Untung saja kalian segera menghubungi ambulan, telat sedikit saja nyawa wanita itu pasti tidak dapat diselamatkan."
"Alhamdulillah," ucap Ira dan Arvin bersamaan. Perasaan bahagia dan lega hinggap di hati keduanya.
"Kamu dengar kan, Nak. Dokter bilang ibu kamu nggak apa-apa. Jadi jangan nangis ya." Ira mengusap rambut anak kecil yang ada di sebelahnya.
"Sebentar lagi, Bapak kamu juga akan kesini, jadi kamu nggak boleh nangis lagi. Oke."
Anak kecil itu mengangguk. Arvin menatap Ira dengan tatapan takjub. Gadis yang biasanya ceroboh itu, ternyata mampu menenangkan anak kecil.
Tidak lama seorang pria datang mengahmpiri meraka. Anak kecil itu memanggil pria itu dengan sebutan ayah.
"Nak, ibumu nggak apa-apa kan?"
"Tidak ayah. Dokter bilang ibu baik-baik saja. Untung saja om dan tante itu segera menolong ibu dan membawanya ke rumah sakit."
"Terima kasih ya."
"Sama-sama, Pak," jawab Arvin dan Ira bersamaan.
"Kalau begitu kami permisi ya Pak, Dek." Pamita Arvin dan Ira. Ada perasaan bahagia saat Ira melihat orang yang di tolongnya selamat.
"Kamu kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Arvin saat melihat wanita yang duduk.di sebelahnya itu terus tersenyum.
"Ternyata menyenangkan ya, Pak, bisa menolong orang. Mungkin perasaan mommy juga seperti ini saat dia bisa menyelamatkan pasiennya," jawab Ira.
"Mommy mu seorang dokter?"
Ira mengangguk. "Omah juga," tambah Ira.
"Wah hebat dong."
"Iya, aku juga selalu mengagumi mereka."
"Pak akhirnya, akhirnya.... " Ira berteriak kegirangan.
"Akhirnya kenapa?" tanya Arvin yang telihat bingung.